Industri Tepung Terigu Tumbuh 7% - Januari-November 2013

NERACA

Jakarta - Industri tepung terigu nasional tahun ini mencatatkan pertumbuhan positif. Setidaknya hingga November 2013, industri ini telah tumbuh 7% dibanding tahun lalu. "Tahun 2013 ini pertumbuhan kita cukup baik dibandingkan 2012," ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Tepung Terigu Indonesia Ratna Sari Lopies di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ratna menjelaskan, pertumbuhan ini karena adanya kebijakan pengamanan terhadap produk dalam negeri dari serbuan produk impor sehingga pangsa pasar tepung terigu lokal tidak didominasi produk asal luar negeri. "Ini karena kita punya safeguard measure, sehingga punya tindakan pengamanan perdagangan," tutur dia.

Ratna menyebutkan, selain adanya kebijakan tersebut, pertumbuhan penduduk yang diiringi dengan peningkatan konsumsi menjadi pendorong tumbuhnya industri tepung terigu tersebut. Meski demikian, menurut dia, produk impor tetap menjadi ancaman bagi produk lokal bila industri tidak waspada terhadap serbuan produk impor tersebut.

"Tetapi yang menjadi problem tetap persaingan dengan tepung terigu impor. Oleh karena itu pihak asosiasi akan mengeluarkan suatu petisi trade remedis sebagai upaya perlindungan upaya perlindungan pangsa pasar terigu saat ini," kata dia.

Saat ini, wilayah Pulau Jawa masih mendominasi kontribusi produksi terigu, disusul kemudian dengan Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sementara untuk 2014 mendatang, diharapkan pertumbuhan industri terigu bisa melebihi angka 7% seperti saat ini.

Menperin MS Hidayat sebelumnya mengatakan, investasi dan penambahan kapasitas produksi industri tepung terigu di dalam negeri menjadi prospek yang bagus bagi Indonesia. "Ke depan, industri ini akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi tepung terigu untuk memasok ekspor ke kawasan Asia Timur," kata Hidayat.

Konsumsi Nasional Sementara itu, konsumsi terigu nasional juga terus meningkat. Berdasarkan catatan Aptindo, konsumsi terigu di dalam negeri mencapai 1,22 juta ton pada kuartal I-2012, naik 5,61% dibandingkan periode sama tahun 2011 yang tercatat 1,15 juta ton.

Menurut dia, pertumbuhan konsumsi terigu dipacu oleh beberapa faktor, di antaranya harga beras yang terus naik, sehingga menyebabkan orang berpaling ke mi instan. Sebagai perbandingan, harga beras internasional lebih mahal hampir dua kali lipat dibandingkan harga gandum internasional.

Faktor lain yang menjadi pemicu bertumbuhnya industri produk hilir terigu. Produk tersebut bahkan mulai menembus pasar ekspor di kawasan regional Asia. "Variasi pangan berbasis terigu lebih banyak ketimbang beras, misalnya mi, roti, gorengan, dan martabak," kata Ratna.

Data Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) menyebutkan, pada tahun 2013 ini, ada empat pemain baru yang akan meramaikan industri terigu nasional. Mereka adalah PT Sarana Prima Makmur, PT Wilmar Flour Mills, PT Crown Flour Mills, dan PT Agrofood Makmur Mandiri. Rencananya, keempat perusahaan itu mulai beroperasi tahun ini.

Lokasi pendirian pabrik terigu ini berbeda-beda. PT Sarana Prima Makmur mendirikan pabrik di Banjarmasin, PT Wilmar Flour Mills di Gresik, PT Crown Flour Mills di Tangerang, dan PT Agrofood Makmur di Mojokerto.

Saat ini, sudah ada 21 perusahaan yang meramaikan persaingan bisnis terigu nasional. Dengan bergabungnya keempat perusahaan ini, maka total pabrik terigu di Indonesia menjadi 24 unit.

Ketua Umum Aptindo, Franciscus Welirang mengatakan, masuknya keempat pemain anyar ini bakal mengerek kapasitas produksi terigu nasional. "Saat ini, total kapasitas giling gandum mencapai 8,1 juta ton per tahun, dengan masuknya pemain baru, maka kapasitas akan di atas itu," ujarnya.

Sayang, pria yang akrab disapa Franky ini mengaku tidak tahu berapa persis kapasitas produksi dari masing-masing pendatang baru tersebut. Begitu juga dengan total investasi yang mereka siapkan.

Yang jelas, total investasi baru yang bakal mengalir ke sektor ini akan terus bertambah. Soalnya, menurut data Aptindo, masih ada tujuh perusahaan lagi yang akan membangun pabrik terigu. Beberapa dari mereka di antaranya PT Bungasari Flour Mills dan PT Murti Jaya. Mereka ini rencananya mulai beroperasi tahun 2014.

Pasar terus tumbuh

Kendati pemain kian banyak, Franky optimistis, persaingan di bisnis ini tetap sehat lantaran pasar terigu nasional juga terus tumbuh. Pada 2012, misalnya, konsumsi terigu mencapai 5,5 juta metrik ton, tumbuh 7,6% dari tahun 2011.

Sekitar 92% dari jumlah konsumsi itu dipenuhi produsen lokal. Hanya 8% saja yang bersumber dari impor. Selain mengandalkan pasar lokal, produsen terigu juga getol mengekspor produk terigunya ke sejumlah negara.

Ratna memprediksi, konsumsi terigu tahun ini akan tumbuh lebih tinggi lagi dari tahun lalu. "Lonjakan konsumsi ini turut mendorong masuknya pemain baru itu,” ujarnya.

Hingga saat ini, PT Bogasari Flour Mills masih menguasai pasar terigu nasional dengan pangsa pasar sekitar 51%. Adapun total kapasitas produksi Bogasari lebih dari 4 juta ton per tahun.

Related posts