Makro Ekonomi Didorong Tetap Stabil - 5,9% Selama 5 tahun

NERACA

Subang – Pemeritah menilai makro ekonomi dalam negeri menunjukkan kinerja yang stabil dan berkelanjutan. Hal itu terlihat dari pertumbuhan lima tahun terakhir rata-rata di posisi 5,9%. Meski begitu diakui pemerintah belum melakukan pengelolaan yang baik dan benar.

“Terhitung sejak tahun 2008 hingga tahun 2012 pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) ekonomi kita konsisten dan terkendali di posisi rata-rata 5,9%. Bahkan di akhir tahun ini kita yakin bisa capai 6,3%. Asal tidak ada gangguan yang berarti,” kata Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) II, Bambang PS Brodjonegoro di Subang, Jawa Barat, pekan lalu.

Bambang menjelaskan besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadi kekuatan utama dalam menjaga pertumbuhan. Bahkan 66,6% di dalamnya merupakan usia kerja produktif. Dan 68% dari seluruh usia kerja produktif itu berusia muda dengan range 39 tahun ke bawah.

“Aset utama kita memang jumlah penduduk yang sangat besar. Hal itu menjamin kita untuk tetap produktif minimal ketersedian tenaga kerja jumlahnya boleh dibilang tak terbatas. Karena sebagian besarnya juga ada di domain usia produktif dengan usia 39 tahun ke bawah. Sedangkan di atas 39 tahun hanya 31,5%,” tutur Bambang.

Kemudian Bambang mengatakan penduduk usia kerja yang sekarang ada diprediksi akan terus tumbuh sebanyak 0,7% dari tahun 2012 hingga 2017. Bahkan tingkat bebas buta huruf telah mencapai angka 90%. “Sehingga investor sendiri sulit untuk abai terhadap potensi investasi di Indonesia.”

Selain itu Bambang mengaku basis market dalam negeri juga cukup besar dengan daya beli masyarakat yang cukup tinggi. Hal itu dapat dilihat dengan pengeluaran konsumen terus tumbuh sebesar 13,8% selama tahun 2000 hingga 2012. Angka itu juga akan terus tumbuh sebanyak 12,1% sepanjang tahun 2012 hingga 2017.

“Kita punya prediksi sekitar 7 juta orang tiap tahunnya akan menjadi kelas menengah. Bahkan McKinsey sudah melaporkan penelitiannya sekitar 135 hingg 170 juta orang akan masuk kelas konsumsi di tahun 2030 dengan ukuran pendpatan bersih minimal US$3.600 per tahun,” ungkap Bambang.

Meski begitu Bambang mengakui pemerintah sendiri belum melakukan pengelolaan yang baik dan benar untuk memanfaatkan basis kekuatan tersebut. Sehingga pertumbuhan ekonomi dalam negeri juga tidak akan mengalami pengingkatan yang spektakuler. “Memang kita punya potensi dari kependudukan yang size nya besar dan produktif serta punya tingkat konsumsi yang tinggi. Tapi pemerintah juga belum melakukan pengelolaan yang baik dan benar. Sehingga pertumbuhan tidak akan meningkat spektakuler hanya yang penting stabil.”

Andalkan konsumsi rumah tangga

Bambang mengaku kesetabilan perekonomian dalam negeri masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga (RT). Hal itu terlihat dari laporan Badan Pusat Stastiktik (BPS) yang menunjukan konsumsi RT menyumbang 55,5% terhadap PDB. Bahkan pada Triwulan III tahun 2013 sudah mencapai 55,6% terhadap PDB.

“Kadang pengamat atau DPR bilang bahwa kita hanya andalkan konsumi RT. Padahal tidak juga meskipun angkanya memang tinggi. Sedangkan sisanya kita mengandalkan investasi dan ekspor kok,” tegas Bambang.

Lebih dari itu Bambang menerangkan tren ekonomi dunia internasional belakangan ini juga tengah mengedepankan konsumsi RT nya. Ia memberi contoh pertumbuhan di Cina juga mulai berubah dari berbasis investasi menjadi konsumsi RT. “Jadi jangan sentimental juga dengan pertumbuhan kita yang didominasi konsumsi RT. Karen Cina saja sudha mulai perhtian pada basis konsumsi RT. Dan itu mereka lakukan sekaligus untuk menghadapi pertumbuhan PDB nya yang terus turun,” tukasnya. [lulus]

Related posts