Putus Hubungan Dagang dengan Australia, Harga Daging Bisa Semakin Mahal

NERACA

Jakarta - Hubungan diplomatik Indonesia-Australia belum juga mereda pasca penyadapan yang dilakukan oleh Australia terhadap beberapa pejabat pemerintah Indonesia termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejauh ini, Indonesia masih ketergantungan terhadap Australia khususnya di bidang perdagangan impor sapi. Pasalnya, setiap tahunnya Indonesia mengimpor 500 ribu ekor sapi potong dari Negeri Kangguru tersebut.

Jika saja hubungan ekonomi Indonesia-Australia diputus, maka impor sapi dari negara kangguru tersebut akan terhenti. Hal ini, menurut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan bisa menyebabkan harga daging bisa semakin mahal dan Indonesia akan dirugikan. Harga daging sapi akan terus naik karena kurangnya pasokan. "Kalau impor sapi induk dari Australia kalau diputuskan hubungannya maka akan sulit memasok tiap tahunnya dan itu dampaknya harga untuk menerima kenyataan kalau akan naik signifikan," ujar Gita di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Kerja sama perdagangan Indonesia dengan Australia tidak hanya pada sapi, namun juga buah-buahan. Kendati demikian Gita tidak merasa khawatir karena nilai impor buah Australia tidak terlalu besar. "Kalau buah tidak terlalu besar seperti sapi, kita masih bisa impor dari Thailand, Tiongkok, kalau gandum kita bisa datangkan dari tempat lain, nah kalau garam memang masih terbesar dari Australia," jelas dia.

Menurut Gita, perlu batas waktu yang cukup lama agar Indonesia bisa melepas ketergantungan dagang dengan Australia. Dalam waktu yang berjalan ini, sudah terlalu banyak kebutuhan masyarakat yang di suplai dari Australia. "Bauksit juga, sejauh mana pembangunan smelter ini kan sudah digagas tinggal timing bisa diatur kalau smelter ini sudah siap mungkin kita harus mengambil sikap untuk mengambil nilai dalam negeri dari pada ekspor bahan baku ke luar negeri terus dijual lagi di sini," tutupnya.

Sejauh ini, harga daging masih bertengger di angka Rp100 ribu per kilogram. Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, jika harga daging sapi masih tinggi, kemungkinan besar persoalannya terletak pada kekurangan pasokan untuk kebutuhan masyarakat. "Intinya kalau harga masih tinggi artinya pasokannya kurang, jangan-jangan yang harus dilihat ulang itu pasokan dalam negeri," ujarnya.

Meski begitu, pihaknya berjanji berusaha menurunkan harga daging sapi sesuai yang ditetapkan. "Komitmen sesuai janji akan menurunkan harga itu," jelas dia

Tak Punya Pilihan

Indonesia hanya bisa mengimpor sapi dari 2 negara yaitu Selandia Baru dan Australia. Ketika hubungan diplomatik bidang ekonomi diputus, maka impor sapi dari Australia juga terhenti. Maka Indonesia hanya bisa mengimpo dari Selandia Baru. Namun demikian, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menilai Selandia Baru tidak bisa menjadi alternatif untuk memasok sapi ke Indonesia. Pasalnya, negara tersebut hanya memiliki sapi perah sedangkan Indonesia membutuhkan sapi potong. "Mereka (Selandia Baru) itu tidak punya sapi potong, mereka lebih ke sapi perah. Tidak bisa menjadi alternatif. Hanya daging yang utama untuk selalu bergantung dengan Australia," ujar Bayu.

Begitu juga dengan India dan Argentina yang akan mendatangkan sapinya ke Indonesia. Bayu mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menunggu revisi Undang-Undang Pertanian Nomor 18 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, dengan begitu maka Indonesia tak akan lagi tergantung pada impor sapi dan daging asal Australia. "Kalau mau datangkan dari India dan Argentina ya diubah dulu UUD nya, kami mohon dipercepat saja," jelas dia.

Sementara itu, Menteri Pertanian Suswono mengatakan bahwa pemerintah tengah mengevaluasi sejumlah kerjasama dalam bidang pertanian dan peternakan dengan Australia. "Jika mereka (Australia) tidak mengindahkan protes dan permintaan yang disampaikan Kepala Negara, kita akan melakukan evaluasi lagi terhadap kerjasama yang selama ini sudah terjalin,” katanya.

Mentan belum dapat merinci apa saja kerjasama bidang pertanian dan peternakan yang sudah dijalin dengan Australia. Namun salah satu yang terbilang besar adalah soal impor daging. Indonesia banyak mengimpor daging dan sapi potong dari Australia. “Tidak menutup kemungkinan impor daging dari Australia juga kita tinjau kembali,” jelasnya.

Jika impor daging dari Australia dihentikan, dalam jangka pendek mungkin saja akan terjadi gejolak harga. Namun hal itu tidak akan berlangsung lama, karena banyak negara yang siap menggantikan posisi Australia sebagai pemasok daging sapi terbesar ke Indonesia.

Suswono menyebutkan, banyak negara yang ingin menjual daging sapi ke Indonesia. Selandia Baru salah satunya. Belum lama ini Mentan Suswono melakukan kunjungan ke Selandia Baru. Pemerintah maupun pihak swasta di negeri Kiwi itu menyatakan siap memasok daging maupun sapi potong lebih banyak lagi ke Indonesia

Mentan menjelaskan, ia banyak menerima utusan dari negara-negara Eropa, Amerika Latin, maupun Asia yang minta diperkenankan daging produk mereka masuk ke pasar Indonesia. “Banyak negara yang bisa jadi alternatif pemasok daging dan sapi potong, jika kita tidak bekerjasama lagi dengan Australia,” katanya.

Memang untuk memasok daging ke Indonesia ada syarat negara pemasok harus sudah bebas penyakit kuku dan mulut (PMK) sesuai dengan standar internasional. Banyak negara yang sudah bebas PMK ingin menjual produknya ke Indonesia. Suswono menyatakan, pihaknya masih menunggu perkembangan sikap Australia. Serta arahan dari Presiden terkait langkah-langkah yang harus diambil.

Jika sikap Australia masih arogan seperti saat ini, tentunya pihaknya tidak segan-segan untuk meninjau kembali semua kerjasama dengan Australia. “Kita akan tunjukkan bahwa kita tidak hanya bergantung dari mereka untuk pasokan daging dan sapi potong. Masih banyak alternatif lain,” ujarnya.

Related posts