Kemenperin Intensifkan Sosialisasi ke Industri - Menyembut AEC 2015

NERACA

Bandung – Di salah satu hotel yang terletak di dataran tinggi Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat, sejumlah wartawan dari berbagai media nasional yang tergabung di Forum Wartawan Industri (Forwin) mengadakan sebuah diskusi interaktif yang sengaja, difokuskan membahas isu terhangat di sektor industri nasional.

Terlebih lagi, dalam waktu dekat Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Oleh sebab itu, pemerintah dituntut untuk segera memacu beberapa pilar industri nasional yang memang menjadi unggulan dan mampu untuk bersaing saat berlakunya pasar bebas nanti.

Sekertaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Ansari Bukhari mengungkapkan untuk menghadapi MEA 2015, pemerintah mengambil beberapa langkah dan kebijakan yang bersifat lintas sektoral antara lain, mengintensifkan sosialisasi AEC kepada stakeholder industri, mengusulkan percepatan pemberlakuan safeguard dan anti-dumping bagi produk impor tertentu, menambah fasilitas laboratorium uji dan meningkatkan kompetensi SDM industri.

"Pemerintah juga menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pada masing-masing sektor industri, ini ditujukan untuk meningkatkan kinerja SDM serta penguatan IKM dan pengembangan wirausaha baru industri," jelas dia saat membuka acara Diskusi Forum Wartawan Industri di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut Sekjen memaparkan, saat pemberlakuan MEA nanti menjadi tantangan bagi Indonesia, mengingat pasar Indonesia yang besar akan menjadi tujuan pasar bagi produk-produk negara Asean lainnya.

"9 sektor industri sudah dikembangkan dalam rangka mengisi pasar Asean, yaitu industri berbasis agro (CPO, kakao, karet), olahan ikan, tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, kulit dan barang kulit, furniture, makanan dan minuman, pupuk dan petrokimia, industri mesin dan peralatannya serta industri logam dasar, besi dan baja,"papar Ansari.

Kemudian, sambung Sekjen, pemerintah juga menetapkan 7 industri yang diprioritaskan untuk dikembangkan dalam rangka mengamankan pasar dalam negeri antara lain industri otomotif, elektronika, semen, pakaian jadi, alas kaki, makanan dan minuman dan juga furniture.

"MEA juga akan memberikan peluang kepada Indonesia untuk memperluas pasar bagi produk-produk industri nasional. Peluang yang bisa dimanfaatkan tersebut antara lain populasi penduduk ASEAN yang berjumlah 590 juta jiwa, juga dapat lebih mendorong arus masuk investasi ke dalam negeri serta membentuk joint venture untuk memudahkan akses bahan baku sektor industri," terang Ansari.

Sementara menurut Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi, Budi Darmadi dalam waktu dekat, pemerintah akan memperkuat produsen mobil nasional seperti Tawon, Kancil atau Gea untuk memproduksi kendaraan penumpang (passanger car) atau kendaraan barang (pick up) di pedesaan. "Selama ini ruang ekspansi mereka menggarap segmen tersebut belum optimal. Pasalnya, produsen nasional harus memiliki outlet di wilayah pemasaran terkait pelayanan purna jual,"jelas Budi.

Lanjut Budi, karena keterbatasan modal, para produsen mobil nasional hanya memasarkan mobilnya di pusat produksi. Sebagai contoh mobil Tawon kan di Tangerang, jika dia ingin menjual di Solo dan laku di pasaran, Tawon harus membangun outlet layanan purna jual.

Oleh karena itu, sambung Budi, untuk memperluas pasar produsen mobil nasional di wilayah pedesaan, mereka harus membangun jaringan (development networking) dengan pengusaha lokal. "Develop networking juga butuh waktu karena butuh deal dengan pengusaha lokal," tambahnya.

Beberapa waktu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menginginkan mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) ditujukan untuk angkutan pedesaan. Budi memaparkan kalau pihaknya tengah mengembangkan yang di bawah 1.000 cc seperti Tawon dan lain-lain. Harapannya jika hal itu dapat dikembangkan, maka bisa dijual dengan harga yang jauh lebih murah lagi.

"Harga mobil yang melayani aktifitas pedesaan saat ini sudah tergolong murah. Ambil contoh mobil suzuki carry pick up dibanderol di harga Rp 70-80 jutaan, di bawah harga LCGC yang dirilis Toyota Agya atau Daihatsu Ayla berkisar Rp 90-120 jutaan," jelasnya.

Related posts