Awal Pekan, IHSG Berpeluang Bergerak Menguat

NERACA

Jakarta – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia akhir pekan kemarin, ditutup melemah 8,245 poin (0,19%) ke level 4.317,960. Sementara Indeks LQ45 ditutup melemah 1,123 (0,16%) ke level 720,887. Maraknya aksi jual di saham lapis dua menjadi pemicu terkoreksinya indeks BEI. Padahal diawal perdagangan, indeks sempat menghijau.

Analis Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga menjadi sentimen negatif terhadap indeks, “Pelaku pasar cenderung melakukan transaksi saham untuk jangka pendek sehingga indeks mendatar dengan kecenderungan melemah,”ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut dia, transaksi jangka pendek di pasar saham akan terus berlangsung selama belum ada kejelasan mengenai kapan pengurangan stimulus keuangan the Fed dilaksanakan. Dimana dalam tiga bulan terakhir ini, sentimen dari 'tapering off' the Fed terus menjadi perhatian pelaku pasar.

Sementara indeks BEI Senin awal pekan, diproyeksikan akan bergerak menguat lantaran aksi jual sudah memiliki titik jenuh dan indeks sudah terdiskon banyak. Pada perdagangan kemarin, pelaku pasar asing juga cenderung mengambil posisi lepas saham. Tercatat dalam perdagangan saham di BEI pelaku pasar asing membukukan jual bersih saham (net foreign sell) sebesar Rp61,201 miliar.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 96.914 kali pada volume 8,612 miliar lembar saham senilai Rp 5,580 triliun. Sebanyak 116 saham naik, sisanya 103 saham turun, dan 113 saham stagnan.

Nilai dan volume transaksi perdagangan sempat naik cukup tinggi karena ada transaksi saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) di pasar negosiasi yang cukup tinggi, yaitu Rp 1,8 triliun. Transaksi ini dilakukan oleh dua broker, UBS Securities (AK) dan Maybank Kim Eng Securities (ZP). Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan akhir pekan dengan mixed. Bursa saham Hong Kong dan Jepang bisa positif didorong sentimen rekor Dow Jones.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 300 ke Rp 37.150, Astra Agro (AALI) naik Rp 300 ke Rp 22.950, United Tractor (UNTR) naik Rp 250 ke Rp 20.250, dan Nipress (NIPS) naik Rp 250 ke Rp 7.950. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mayora (MYOR) turun Rp 800 ke Rp 27.750, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 800 ke Rp 65.000, Indocement (INTP) turun Rp 600 ke Rp 18.600, dan Danayasa Arthatama (SCBD) turun Rp 300 ke Rp 3.000.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup terkoreksi tipis 2,063 poin (0,05%) ke level 4.324,142. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,133 poin (0,02%) ke level 722,143. Investor asing malah lakukan aksi jual setelah IHSG menghijau sebentar. Akhirnya IHSG malah jatuh ke zona merah pada sesi pertama.

Penguatan saham-saham unggulan belum mampu menahan indeks tetap positif. Tekanan jual di saham-saham lapis dua cukup tinggi dan intens. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 55.811 kali pada volume 7,420 miliar lembar saham senilai Rp 3,638 triliun. Sebanyak 115 saham naik, sisanya 78 saham turun, dan 98 saham stagnan

Bursa-bursa di Asia bergerak mixed hingga sesi pertama. Momentum penguatan diawal perdagangan sudah mulai pudar. Aksi jual pun kembali melanda lantai bursa. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 350 ke Rp 29.450, Multi Prima (LPIN) naik Rp 250 ke Rp 4.575, Nipress (NIPS) naik Rp 200 ke Rp 7.900, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 200 ke Rp 37.050.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 800 ke Rp 65.000, Mayora (MYOR) turun Rp 750 ke Rp 27.800, Indocement (INTP) turun Rp 450 ke Rp 18.750, dan Danayasa Arthatama (SCBD) turun Rp 300 ke Rp 3.000.

Sebaliknya, pada awal perdagangan indeks BEI dibuka menguat 26,35 poin atau 0,61% menjadi 4.352,55 seiring dengan bursa di kawasan Asia, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 6,73 poin (0,93%) ke level 728,74.

Kata Reza, sebagian bursa saham di kawasan Asia yang cenderung kembali menguat menjadi sentimen positif sehingga IHSG dapat keluar dari tren pelemahannya, “Peluang indeks BEI menguat masih terbuka namun cenderung dibayangi aksi ambil untung,”jelasnya.

Dia menuturkan, nilai tukar rupiah yang cenderung berfluktuasi serta belum adanya kejelasan pelaksanaan pengurangan (tapering off) stimulus keuangan the Fed masih membayangi pergerakan indeks BEI. Karena itu, indeks akhir pekan diperkirakan akan berada di kisaran 4.312-4.362 poin.

Analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung menambahkan, rupiah relatif bergerak mendatar diawal perdagangan begitu juga dengan imbal hasil (yield) Obligasi tenor 10 tahun Indonesia dan dikombinasi dengan kondisi pasar saham diperkirakan IHSG cenderung bergerak "flat".

Namun, dia menambahkan potensi penguatan indeks BEI cukup terbuka menyusul saham sektor perkebunan diperkirakan dapat kembali menguat akibat penguatan harga minyak. Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 150,50 poin (0,64%) ke level 23.730,79, indeks Nikkei-225 naik 145,10 poin (0,94%) ke level 15.510,21, dan Straits Times melemah 3,45oin (0,09%) ke posisi 3.168,28. (bani)

Related posts