Penyakit Defisit Sudah Akut

Defisit transaksi berjalan (current account) sekarang ibarat penyakit akut yang diderita Indonesia. Pasalnya, laju impor ternyata lebih deras mengalirnya ketimbang ekspor sehingga dari waktu ke waktu terus menggerogoti pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Fakta defisit transaksi berjalan selama Januari-September 2013 tercatat US$24,276 miliar, yang hampir mendekati angka total defisit tahun lalu sebesar US$24,418 miliar.

Menghadapi gejala defisit transaksi berjalan atau ketidakseimbangan nilai impor terhadap ekspor yang terjadi saat ini, menunjukkan Indonesia sudah terjebak dalam transaksi impor yang melebihi kemampuan ekspornya. Jelas, situasi ini memicu pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ujung-ujungnya akan menggerus cadangan devisa yang dimiliki Bank Indonesia.

Total cadangan devisa hingga akhir Oktober 2013 tercatat US$95,675 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir 2012 US$112 miliar. Patut disadari bahwa, peranan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga perekonomian nasional dari ancaman krisis, dan dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban luar negeri pemerintah Indonesia.

Jadi, betapa strategisnya nilai cadangan devisa kita yang sekaligus memperlihatkan kredibilitas negara di mata luar negeri. Namun, peningkatan cadangan devisa akan membawa implikasi pada peningkatan jumlah uang beredar , apabila berasal dari konversi valas yang melebihi kebutuhan uang di masyarakat secara riil, dan tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tentunya akan berdampak kurang baik pada perekonomian.

Adalah domain Bank Indonesia , satu-satunya lembaga yang diamanati untuk mengemban tugas pengelolaan cadangan devisa. Sebagai pucuk pimpinan BI, leadership Gubernur BI seharusnya dapat mengawal keputusan terkait dengan pengelolaan Cadev. Apalagi kebijakan itu terkait erat dengan devisa yang dihasilkan baik dari penerimaan hasil ekspor migas dan nonmigas, maupun hasil penerbitan surat berharga (obligasi) oleh pemerintah Indonesia.

Kasus yang dialami Indonesia dan sejumlah negara lain, adalah terus membengkaknya nilai impor produk konsumtif, tapi tidak diimbangi dengan kinerja ekspornya sehingga menjadi ancaman serius bagi keseimbangan neraca perekonomian pada akhir tahun ini.

Kita tentu menjadi miris melihat kondisi bangsa sendiri yang sudah terbius oleh aneka produk impor. Dari garam, buah-buahan, beras, kedelai, hingga daging sapi. Tidak hanya itu, dari jarum jahit, mainan anak-anak, ponsel, sampai tablet mobile yang kita borong dalam jumlah tidak sedikit. Hal yang sama juga terlihat dalam produk parfum, sepatu bermerek, hingga mobil mewah built-up dari luar negeri yang terus membanjiri negeri ini untuk memenuhi keinginan konsumtif yang besar selaras dengan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia.

Sialnya lagi, sejumlah produk konsumsi yang diimpor tersebut sebenarnya sudah tersedia dalam jumlah yang memadai hasil produksi di dalam negeri , khususnya untuk produk pangan. Namun, akibat faktor pengelolaannya tidak benar, terpaksalah kita terus menerus keenakan mengimpor dalam jumlah besar, yang akhirnya menghasilkan penyakit defisit perdagangan dan transaksi berjalan yang akut saat ini.

Indonesia dikenal sebagai penghasil komoditas energi ternama di dunia, selain minyak bumi juga gas alam dan batu bara. Namun di sisi lain, negara kita menjadi importir BBM yang cukup besar sehingga menguras anggaran (devisa) negara dalam jumlah besar. Jadi seperti inilah kondisi bangsa kita menghadapi penyakit defisit current account dan defisit neraca perdagangan yang cukup lama, dan berimbas negatif ke mana-mana, terutama tekanan yang kuat pada anggaran negara.

Related posts