Online Trading Jadi Tulang Punggung Bursa - Tingkatkan Jumlah Investor

NERACA

Jakarta – Seiring berkembang pesatnya teknologi informasi, industri pasar modal harus mampu menyeimbangkan kemajuan tersebut guna meningkatkan kenyamanan dan pelayanan bagi investor dan tidak terkecuali bagi perusahaan efek sebagai pengelola dana nasabah. Salah satunya yang kini tengah digalakkan dan menjadi tren perusahaan efek adalah transaksi melalui online trading.

Kini penggunaan sistem online trading setiap tahunnya selalu meningkat. Tercatat dari 114 perusahaan efek sudah sekitar 60%nya sudah menggunakan fasilitas tersebut, “Dari jumlah tersebut, hanya 63 perusahaan efek yang memiliki fasilitas online trading,”kata Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Bidang Teknologi Informasi Jimmy Nyo di Jakarta, Kamis (21/11).

Dia menuturkan, kehadiran online trading saat ini sudah dirasakan menjadikan kebutuhan bagi pelaku aktif pasar modal untuk memudahkan transaksi dan juga memantau harga perdagangan saham. Terlebih, perkembangan online trading didukung perkembangan teknologi yang ada saat ini sudah bisa di akses dengan baik menggunakan smart phone.

Sementara menurut Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Adikin Basirun mengatakan, fasilitas transaksi saham melalui internet (online trading) yang disediakan perusahaan sekuritas merupakan "tulang punggung" untuk meningkatkan jumlah nasabah."Fasilitas 'online trading' merupakan 'tulang punggung' untuk mendapatkan nasabah,”ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya mengharapkan kepada perusahaan sekuritas untuk mengembangkan fasilitas "online trading". Dari sebanyak 114 anggota bursa (AB) yang tercatat di BEI baru 73 AB yang memiliki fasilitas "online trading". Rinciannya 63 'online trading dan 10 AB mengusung konsep 'direct market access' (DMA). Jadi total ada 73 pihak.

Dijelaskan, DMA merupakan fasilitas perdagangan yang disediakan broker, di mana perdagangan efek dikelola sendiri oleh nasabah tanpa intervensi manual dari "trading desk". Fasilitas itu hanya berbeda pada karakteristik penggunanya. "Online Trading" umumnya digunakan oleh nasabah ritel. Sedangkan, DMA digunakan nasabah institusional.

Adikin mengatakan bahwa saat ini sudah ada delapan perusahaan sekuritas yang mengajukan izin untuk membuka fasilitas "online trading". Sementara itu, Coordinating Chairperson Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Lily Wijaya mengatakan bahwa kesadaran perusahaan sekuritas terhadap fasilitas "online trading" di Indonesia masih minim.

Kata Lily, dari hasil survei untuk industri jasa keuangan di pasar modal di Indonesia, indeks literasi keuangan yang "not literated" (pemahaman, keyakinan, dan keterampilan) cukup besar yakni 94% dari total jumlah penduduk Indonesia, “Not litered itu artinya sama sekali tidak mampu, tidak yakin dan tidak terampil untuk memanfaatkan produk dan jasa keuangan. Sedangkan yang 'litered'-nya hanya empat persen. Jadi, bagaimana yang 'not litered' dibawa ke 'well litered', itu merupakan 'pekerjaan rumah' besar,”paparnya.

Lily mengatakan bahwa ada tiga hal yang perlu ditekankan untuk meningkatkan potensi jasa keuangan pasar modal yakni dengan pemahaman, keyakinan, dan keterampilan. (bani)

Related posts