Jabodetabek “Penenggak” Minuman Ringan Terbesar - Ditopang Jumlah Penduduk dan Gaya Hidup

NERACA

Jakarta - Tingginya konsumsi masyarakat di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) memang sangat menjanjikan. Untuk itu, berbagai perusahaan minuman ringan berkompetisi untuk masuk ke tanah air. Penyerapan minuman ringan di wilayah tersebut mencapai hampir setengah dari total keseluruhan produksi minuman dalam kemasan.

Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo mengungkapkan Jabodetabek masih menjadi pangsa pasar yang besar, lebih dari 40% dari total keseluruhan, hal ini lantaran jumlah penduduk banyak serta ditopang oleh gaya hidup masyarakatnya yang modern dengan mobilitas tinggi sehingga menuntut kepraktisan dalam hal apapun, termasuk konsumsi minuman.

"Konsumsinya memang sangat besar disini karena faktor jumlah penduduk dan gaya hidupnya. Tetapi selain itu kota-kota besar lainnya juga cukup memberikan kontribusi dalam konsumsi minuman ringan," katanya di Jakarta, Kamis (21/11).

Industri minuman ringan sendiri, lanjut Triyono, mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam 3 tahun terakhir. Industri ini mampu tumbuh stabil antara 8%-9% per tahunnya, sehingga dia yakin tahun ini paling tidak industri minuman juga mampu tumbuh pada kisaran persentase tersebut.

"Tetapi ini setiap kategori minuman berbeda-beda, tetapi rata-rata untuk minuman ringan pada angka tersebut. Jadi secara keseluruhan ekspektasi untuk tahun 2013, kami berharap juga seperti itu," jelasnya.

Selama tahun 2012, penjualan minuman ringan dalam negeri secara total hampir mendekati 30 miliar liter, dimana air minum dalam kemasan (AMDK) menguasai 50-60% dari total minuman ringan.

Di sisi lain, Triyono juga memaparkan pertumbuhan industri minuman ringan di Indonesia membuat perusahaan minuman luar negeri tertarik untuk berinvestasi di Indonesia, terutama perusahaan minuman asal Negeri Sakura, Jepang. "Kami banyak mendapatkan tawaran dari investor minuman Jepang, ada 3 sampai 4 perusahaan sudah bertemu dengan saya dan mereka berniat untuk berinvestasi disini," ujar Triyono.

Menurut Priyono, alasan perusahaan-perusahaan tersebut tertarik untuk berjualan minuman ringan di dalam negeri karena melihat pangsa pasar minuman di Indonesia sangat bagus dengan populasi penduduk yang banyak sehingga dari segi konsumsi pun besar.

Selain itu juga daya beli dan pola hidup masyarakat yang meningkat juga menjadi dasar perusahaan-perusahaan tersebut memilih Indonesia. Pola investasi yang diinginkan perusahaan asal Jepang pun bermacam-macam. Ada yang memang berniat untuk membangun pabrik sendiri di Indonesia atau menggandeng mitra lokal untuk memasarkan produknya tersebut.

"Kalau memang perusahaannya sudah skala besar, mereka ingin membuat pabrik disini. Tapi umumnya mereka memang ingin membangun kapasitas produksi, bukan hanya sekedar berjualan atau melakukan importasi saja," jelasnya.

Mengenai kendala yang dihadapi investor-investor tersebut, Triyono sendiri mengatakan bahwa secara umum relatif tidak ada dan regulasi investasi yang diterapkan di Indonesia pun cukup terbuka.

"Yang menjadi tantangannya hanya bagaimana perusahaan minuman tersebut dapat memenuhi kebutuhan minuman di Indonesia dan dapat bersaing dengan perusahaan minuman yang sudah ada," tandasnya.

Target Produksi

Sementara itu,Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) menargetkan pertumbuhan produksi industri makanan dan minuman pada kuartal II-2013 dapat tumbuh 8%. Pada Kuartal I-2013, pertumbuhan industri makanan mengalami penurunan sebesar 2,25%.

Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman mengakui, target pertumbuhan tersebut dikarenakan produksi industri makanan untuk menghadapi bulan puasa dan hari raya Lebaran. "Kuartal II ini menjadi momentum untuk kita meningkatkan produksi, ditambah lagi puasa dan Ramadhan," kata Adhi.

Sebelumnya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, diperlukan investasi sebesar Rp 65 triliun untuk memenuhi target pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar 8,1%. Menurut Kemenperin, saat ini, industri makanan dan minuman membutuhkan investasi Rp65 triliun bagi pembangunan pabrik baru, perbaikan infrastruktur serta pembangunan klaster khusus.

“Saat ini, industri makanan minuman dan tembakau merupakan salah satu kelompok industri strategis yang memberikan kontribusi paling besar terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 6,96% dibandingkan dengan kontribusi sektor lainnya,” Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim di Jakarta.

Untuk investasi industri makanan dan minuman pada tahun lalu, menurut Rochim, mencapai Rp63,65 triliun dan pada 2011 mencapai Rp60,53 triliun. Dalam rangka meningkatkan investasi kelompok industri makanan dan minuman pada tahun ini, pemerintah akan terus menjalankan program penghiliran industri berbasis agro.

“Beberapa contoh program penghiliran industri berbasis agro seperti peningkatan produksi minyak goreng kelapa sawit dan kakao. Penghiliran industri minyak goreng kelapa sawit mampu meningkatkan utilisasi industri sebesar 45% pada 2010 menjadi lebih dari 70% pada tahun berikutnya,” paparnya.

Related posts