Gerakan Ekonomi Syariah Jangan Musiman

NERACA

Jakarta - Indonesia dinilai terlambat dalam hal mengambil manfaat dari ekonomi syariah. Gerakan Ekonomi Syariah (GRES) jangan bersifat musiman dan sebagai negara berpopulasi muslim terbesar di dunia, Indonesia termasuk terlambat dalam mengambil manfaat dari keuangan syariah.

"Pemerintah pun dituntut untuk lebih proaktif dalam mensinergikan langkah bersama masyarakat. Walaupun sektor keuangan syariah di Indonesia tengah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, hal ini terjadi lebih karena inisiatif masyarakat," kata Ketua Umum Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII), Soetrisno Bachir di Jakarta, Kamis (21/11).

Dia mengatakan, pertumbuhan kelas menengah muslimlah yang menjadi faktor penggeraknya sehingga dapat tumbuh secara signifikan. Dukungan dari pemerintah Indonesia juga menurutnya masih tertinggal. “Pemerintah di negara lain sangat serius mendorong pertumbuhan ekonomi syariah, padahal populasi muslimnya tidak sebanyak di Indonesia,” ungkap dia.

Meskipun demikian, dirinya menyambut baik GRES! yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2013 lalu. Gerakan ekonomi syariah itu lanjutnya, harus menjadi gerakan nasional yang sistematis dan konsisten untuk membangkitkan ekonomi syariah.

"Jangan hanya bersifat musiman, apalagi ditumpangi kepentingan politik sesaat. Pemerintah perlu menggerakkan berbagai instrumen yang dimilikinya untuk secara serius membangun ekonomi syariah, karena ini adalah cara efektif untuk memberdayakan masyarakat dan mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan" jelas Soetrisno .

Penerapan prinsip-prinsip ekonomi syariah, lanjut Soetrisno, tidak hanya tumbuh di pasar finansial negara-negara muslim, tetapi juga di pasar nonmuslim."Dunia mengakui bahwa sektor keuangan syariah mampu bertahan dari krisis tahun 2008,” tambah dia.

Soetrisno juga mengingatkan agar pemerintah serius merumuskan cetak biru keuangan syariah Indonesia."Cetak biru tersebut harus menjadi bagian penting dan menyatu dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang Nasional," imbuh dia.

Dia pun menjelaskan pengembangan ekonomi syariah juga harus menjadi penjuru dari pembangunan ekonomi nasional."Pemerintah perlu menggerakkan berbagai instrumen yang dimilikinya untuk secara serius membangun ekonomi syariah, karena ini adalah cara efektif untuk memberdayakan masyarakat dan mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan," ungkap Soetrisno.

Sekadar informasi, Presiden SBY telah mencanangkan Gerakan Ekonomi Syariah (GRES!) untuk mendorong sistem syariah di Indonesia terus berkembang. Dia berharap sistem eknomi syariah berkembang di berbagai sektor mulai dari perdagangan, perbankan, asuransi dan lainnya."Terapkan ekonomi syariah di berbagai sektor seperti perdagangan, perbankan, asuransi, dan sektor pembangunan ekonomi lainnya," kata dia saat berpidato di acara Pencanangan Gerakan Ekonomi Syariah di Monas, Jakarta, Minggu lalu (17/11) pekan lalu.

SBY menambahkan pencanangan gerakan ekonomi syariah merupakan agenda nasional demi mewujudkan sistem ekonomi yang lebih adil bagi rakyat, yang sudah dimulai sejak 2009. Indonesia berpeluang menjadi pusat keuangan syariah dunia."Insyaallah, Allah akan kabulkan, ini esensi Islam rahmatan lil 'alamin," ujar dia.

Sementara itu, Ketua Umum Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES), Halim Alamsyah, meyakini ekonomi syariah membawa kemaslahatan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat. Kini ekonomi syariah berkembang pesat yaitu tidak hanya sektor bank syariah, namun juga asuransi, dana pensiun, sukuk, reksadana, dan pasar modal syariah, dan juga merambah sektor riil, hotel dan restoran.

Menurut dia, perlu adanya sosiaslisasi dan edukasi untuk pemahaman kepada masyarakat soal ekonomi syariah. Adanya Gerakan Ekonomi Syariah, untuk mendorong kesadaran kolektif, bahu membahu, supaya jadi gaya hidup syariah di Indonesia. Pencanangan GRES!, selain di Jakarta juga berlangsung 24 kota di 16 provinsi secara serempak. [mohar]

Related posts