Kurangi Defisit Barang Modal, Kemenperin Undang Perusahaan Asing - Industri Manufaktur

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi, Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi mengundang perusahaan manufaktur (engineering) asing untuk menjalankan aktivitas produksi di Indonesia. Hal ini sangat dibutuhkan mengingat Indonesia butuh barang modal yang cukup banyak untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi.

"Jadi perusahaan engineering ini kita minta masuk Indonesia kenapa? Karena kita butuh barang modal buatan indonesia, supaya mengurangi defisit barang modal, kenapa barang modal diperlukan, karena jika ekonomi bertumbuh kita perlu barang modal," ujarnya di Jakarta, Kamis (21/11).

Budi mengambil contoh, saat ini Indonesia masih belum mampu membuat Dak truk untuk mengangkut pasir, alat pengering di Kementerian Pertanian serta alat memproses makanan. Untuk membuat ini dibutuhkan perusahaan manufaktur yang berpengalaman dan memproduksi barang modal di Indonesia.

"Nah tidak semua barang modal bisa dibuat di indonesia, karena memerlukan pengalaman dan engineering yang luar biasa lama, tidak bisa dipelajari di sekolah, itu kita minta dibuat di indonesia," jelasnya.

Dalam pengembangan industri tersebut, pemerintah memberikan fasilitas kepada pengusaha seperti insentif tax holiday dan tax allowance. Budi mengundang negara dari mana saja yang mampu memproduksi barang modal tersebut di dalam negeri.

"Kita tidak membedakan negara, tetapi berlaku umum. Supaya orang beraktivitas engineering di Indonesia," katanya.

Selama ini, Indonesia telah melakukan hal yang serupa seperti dalam pembuatan turbin, boiler di mana sejak 15 tahun lalu sudah mulai dibuat di Indonesia. Tetapi, kapasitas dari peralatan tersebut berbeda-beda. kemudian, mesin perkakas, bubut yang dibuat di Indonesia tetapi mesin perkakas kapasitasnya juga berbeda-beda.

"Jadi kita bisa buat boiler, tapi kapasitas berapa, macam-macam dari 8 sampai 1000 MW, kita bisa 500-600 MW, tapi ada PLN ya ke PLN. Tapi komponen sudah bisa buat di sini. Super Critical kita bisa buat komponennya," katanya.

Untuk turbin, Indonesia dapat membuat dengan daya energi sampai 20 Mega Watt, tetapi untuk 500 Mega Watt belum dapat membuat. "kalau kilang kita bisa. kilang komponen bisa, terdiri dari motor pipa, yang belum bisa itu, rekayasa desain itu. kilang minyak bisa, mungkin ada beberapa komponen yang kita enggak bisa," katanya.

Tingkatkan Produksi

Sementara itu, meningkatnya pertumbuhan industri di dalam negeri, akan berbanding lurus dengan tingginya kebutuhan bahan baku untuk proses produksi. Akan tetapi, secara fundamental industri masih lemah, sehingga ketergantungan bahan baku dan barang modal dari impor terbilang cukup tinggi. Bahkan, menurut data dari Kementerian Perdagangan impor bahan baku dan penolong untuk industri dan usaha lainnya di dalam negeri mencapai 92% dari total impor Indonesia.

Anggota Komisi Keuangan DPR RI Ecky Awal Mucharam menilai pertumbuhan industri nasional masih melempem. Hal itu dikarenakan laju pertumbuhan impor barang konsumsi masih lebih tinggi dibandingkan bahan baku dan bahan modal. “Kondisi industri Indonesia masih semu. Industri kita di dalam negeri belum menjadi industri yang mandiri,” jelas Ecky saat dihubungi Neraca.

Menurut Ecky, kebijakan terhadap industri dalam negeri masih lemah dan tidak mandiri. Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan terhadap impor yang masih tinggi. “Dilema perindustrian Indonesia sangat rumit. Dari persoalan buruh sampai kepersoalan kebijakannya. Bangsa Indonesia masih menderita dari segala objek,” ujar dia.

Dia mengaku, Indonesia menjadi surga bagi investor dan industri-industri besar dari luar. Saat ini, investor asing banyak masuk dan berinvestasi di Indonesia. “Sayangnya industri besar yang masuk belum mendorong industri kecil dan menengah kita untuk naik kelas, “ jelas Ecky.

Saat ini kata dia, semua segmen industri tanah air hampir dipegang oleh pihak luar. Bangsa Indonesia hanya sebagai bangsa buruh saja. Kondisinya semakin merugikan Indonesia karena benefit atau value yang didapat dari industri-industri besar tersebut masih semu. “Kenyataannya kita masih sulit mendapatkan bahan baku, sehingga bahan baku masih di import dari luar,” jelas dia.

Sehingga invasi industri yang dilakukan oleh orang-orang asing ke Indonesia terkesan hanya ingin mendapatkan manpower yang murah dan ingin mendapatkan pasarnya saja di Indonesia. “Belum lagi bicara mengenai alih teknologi, yang sudah sering dibicarakan dari jaman orde baru. Sebagai salah satu contoh saja, industri otomotif misalnya. Kalau kita mau blusukkan akan kita temui bahwa dari kondisi pra dan pasca industry otomotif semuanya dipegang oleh pihak luar. Kalaupun ada industri menengah yang ditempelkan ke main industrinya paling hitungannya masih sedikit sekali,” ujar Ecky.

Untuk itu kata dia, Indonesia membutuhkan kemandirian industri. Pemerintah harus segera membuat blue print yang kuat dan jelas. Pemerintah harusnya memiliki rencana dan grand design yang kuat dan malestone atau langkah-langkah yang jelas. “Jelasnya kita Indonesia ini ingin kuat di industry apa,” kata Ecky.

“Potensi Indonesia itu besar kalau saat ini kita sudah banyak tertinggal maka kita harus melakukan lompatan-lompatan. Agar industry yang tumbuh di kita juga punya daya saing dan mendunia. Apalagi setelah adanya kesepakatan di APEC kemarin, dengan semakin terbukanya liberarilasi. Jangan sampai kebijakan dan langkah yang dibuat menjadi problem baru bagi bangsa ini,” tutup Ecky.

Related posts