Indeks BEI Akhir Pekan Masih Terus Tertekan

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 24,581 poin (0,56%) ke level 4.326,205. Sementara Indeks LQ45 melemah 5,077 poin (0,70%) ke level 722,010. Pelemahan indeks BEI dipicu anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar disamping juga derasnnya aksi jual pelaku pasar. Alhasil, sepanjang perdagangan kemarin, indeks BEI berada di zona merah.

Analis PT Anugrah Sekurindo Indah, Bertoni Rio mengatakan, aksi jual investor masih menghantui pergerakan indeks BEI akibat terus anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar, “Tekanan jual saham-saham domestik terlihat sejak mata uang rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar AS,”katanya di Jakarta, Kamis (21/11).

Rio mengemukakan bahwa tekanan IHSG BEI dipimpin oleh saham sektor konsumer, keuangan, pertambangan, perdagangan, dan konstruksi. Koreksi di bursa-bursa saham global, kata dia, menambah sentimen negatif bagi indeks BEI. Terkoreksinya bursa saham global dipicu dari ekspektasi pasar bahwa pengurangan stimulus keuangan the Fed akan dipercepat seiring dengan membaiknya ekonomi AS, “Kondisi itu mendorong pelaku pasar asing di bursa domestik membukukan jual bersih saham (foreign net sell) pada Kamis sebesar Rp525,677 miliar,”ungkapnya.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanaroko menambahkan, secara teknikal IHSG telah melewati batas level bawah di posisi 4.375 poin. Namun, jika pelemahan IHSG masih berlanjut, potensi menyentuh level 4.235 dapat terjadi. Menurut dia, investor dapat melakukan transaksi beli saham untuk jangka pendek dalam kondisi pasar yang berfluktuasi seperti saat ini.

Berikutnya, indeks BEI Jum’at akhir pekan diproyeksikan masih akan terus terkoreksi lantaran aksi jual pelaku pasar belum berhenti. Pada perdagangan kemarin, dana asing kembali mengalir keluar lantai bursa. Investor lokal memilih wait and see sampai ada perkembangan yang positif. Nilai dan volume transaksi Kamis lebih kecil dibandingkan kemarin.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 108.464 kali pada volume 3,336 miliar lembar saham senilai Rp 4,162 triliun. Sebanyak 83 saham naik, sisanya 167 saham turun, dan 89 saham stagnan. Bursa Jepang jadi satu-satunya pasar modal yang menghijau sore menutup perdagangan Kamis. Bursa-bursa regional lainnya terjebak di jeratan jaring negatif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Prima (LPIN) naik Rp 375 ke Rp 4.325, Mandom (TCID) naik Rp 300 ke Rp 12.000, Enseval Putra (EPMT) naik Rp 250 ke Rp 3.925, dan Indocement (INTP) naik Rp 200 ke Rp 19.200. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) naik Rp 1.150 ke Rp 27.550, Mayora (MYOR) naik Rp 950 ke Rp 28.550, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 850 ke Rp 36.85100, dan Ultra Jaya (ULTJ) naik Rp 250 ke Rp 4.550.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 35,131 poin (0,81%) ke level 4.315,655. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 7,353 poin (1,01%) ke level 719,734. Indeks sama sekali tidak singgah ke zona hijau sejak pembukaan perdagangan. Indeks malah terus meluncur tajam hingga ke posisi terendahnya di 4.306,284.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 62.602 kali pada volume 1,808 miliar lembar saham senilai Rp 2,265 triliun. Sebanyak 62 saham naik, sisanya 156 saham turun, dan 88 saham stagnan. Pergerakan bursa-bursa di Asia masih sama seperti diawal, kebanyakan di zona merah dan hanya satu yang menguat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Prima (LPIN) naik Rp 450 ke Rp 4.400, Mandom (TCID) naik Rp 350 ke Rp 12.050, Enseval Putra (EPMT) naik Rp 250 ke Rp 3.925, dan Astra Internasional (ASII) naik Rp 150 ke Rp 6.700. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) naik Rp 1.000 ke Rp 27.700, Mayora (MYOR) naik Rp 900 ke Rp 28.600, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 600 ke Rp 37.100, dan Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 350 ke Rp 12.550.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 22,98 poin atau 0,53% menjadi 4.327,81. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 5,87 poin (0,81%) ke level 721,22,”Mayoritas bursa Asia dibuka melemah dan termasuk IHSG BEI, memfaktorkan ekspektasi 'tapering' akan dilakukan dalam waktu dekat oleh the Fed," kata analis Samuel Sekuritas, Yualdo Yudoprawiro.

Dia mengemukakan, notulen pertemuan the Fed kembali memunculkan ekspektasi pemangkasan stimulus keuangan akan segera dilakukan dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan membaiknya data pengangguran di AS. Kemudian, nilai tukar rupiah yang kembali terdepresiasi ke level Rp11.700 per dolar AS juga menjadi salah satu pendorong indeks BEI tertekan."Sektor-sektor yang sensitif terhadap pelemahan rupiah diperkirakan kembali tertekan seperti semen, konstruksi, properti dan konsumer," katanya.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 151,28 poin (0,64%) ke level 23.549,58, indeks Nikkei-225 naik 240,97 poin (1,58%) ke level 15.315,28, dan Straits Times melemah 16,11 poin (0,51%) ke posisi 3.168,42. (bani)

Related posts