Pendek Pangkal Miskin

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti Litbangkes, Kementerian Kesehatan

Penelitian terbaru melalu Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang baru saja di pre-diseminasikan awal minggu ini menunjukkan bahwa status gizi anak balita yang pendek meningkat di tahun 2013 yaitu 19,2% dibandingkan tahun 2010 sebesar 17,1%. Tiga propinsi dengan status anak balita pendek paling tinggi berada di NTT diikuti oleh Sulbar dan NTB.

Bagaimana untuk mereka yang beusia lebih dari 5 tahun? Dibandingkan dengan standar World Health Organization (WHO), rata-rata tinggi badan anak umur 5-18 tahun jauh di bawah standar WHO. Ada beda 12,5 cm di bawah standar pada anak laki-laki dan 9,8 cm di bawah standar pada anak perempuan. Menyedihkan memang.

Jika dilihat dari bayi baru lahir, didasarkan pada catatan kelahiran, ada sekitar 20% anak Indonesia yang lahir dengan panjang badan kurang dari normal (<48 cm). Jika lahir saja sudah pendek, menunjukkan bahwa asupan gizi bayi pada saat sang jabang bayi dalam kandungan tidaklah mencukupi. Status tinggi badan yang pendek merupakan hasil kurangnya asupan gizi kronis. Artinya sejak kecil, lahir atau bahkan sejak dalam kandungan kekurangan asupan gizi.

Apa masalahnya orang pendek? Mungkin karena rata-rata orang Indonesia itu tidak tinggi, sehingga seringkali menjadi pendek adalah bukan masalah. Padahal kependekan berakibat serius terhadap outcome kognitif, sosial dan ekonomi. Ketika anak pendek, maka pertumbuhan fisik dan mental akan terganggu. Pada bayi dan anak, status gizi pendek berpengaruh terhadap sistem imunitas yang lebih rendah dan berisiko tinggi terhadap penyakit infeksi. Dan ketika anak yang kurang gizi ini tumbuh dewasa, maka mereka akan lebih rentan untuk menderita tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung dan obesitas.

Hal ini akan menjadi lingkaran setan jika tidak diputus mata rantainya. Intervensi terutama pada waktu 1000 hari awal kehidupan. Sejak bayi dalam kandungan hingga berusia kurang lebih dua tahun. Jika tidak, maka status pendek tidak akan dapat diperbaharui. Lebih jeleknya lagi, akan menuntun pada kemiskinan.

Kenapa demikian? Anak yang pendek akan cenderung memulai sekolah lebih lambat dan terkadang berhenti. Juga lebih sulit untuk belajar dikarenakan perkembangan otak dan mental yang kurang. Anak yang tetap pendek ketika mereka berusia dua tahun berhubungan dengan lebih tingginya absensi di sekolah dan risiko tidak naik kelas paling tidak satu kali.

Pertumbuhan yang terhambat berhubungan dengan produktifitas ekonomi dan penhasilan yang lebih rendah. Penelitian menunjukkan bahwa satu persen kenaikan tinggi badan berhubungan dengan 2,4% peningkatan penghasilan.

Jadi efek status gizi pendek ini mempengaruhi sebuah negara secara keseluruhan. Sebab, meningkatkan status gizi bayi dan anak akan meningkatkan gross domestic product (GDP) sebanyak 2 hingga 3%. Perkembangan ekonomi Indonesia yang luar biasa mungkin akan lebih tinggi lagi jika tidak terhambat dengan tingginya status anak yang pendek. Pentingnya berfokus pada pemberian nutrisi yang optimal 1000 hari pertama perlu menjadi prioritas, tidak hanya prioritas negara tetapi juga prioritas masing-masing rumah tangga.

Pemerintah mungkin perlu lebih mempromosikan lebih lagi tentang praktik pemberian makanan yang benar melalui berbagai rantai. Lebih lagi mengatur bahwa curi melahirkan lebih dari tiga bulan sehingga kemungkinan anak tersusui ekslusif enam bulan lebih berkesempatan. Sebab masa ini adalah masa kritis pencegahan dan perbaikan sebelum efeknya permanen. Sebagai upaya pencegahan terhadap kematian dan kesakitan. Yang juga akan meningkatkan tingkat ekonomi. Keluarga selanjutnya pada negara.

Related posts