10 Langkah Jokowi Atasi Banjir Jakarta

10 Langkah Jokowi Atasi Banjir Jakarta

Setidaknya, dalam tiga bulan ke depan hingga Februari, Jakarta dihantui oleh banjir. Itu jika tak terjadi anomali cuaca. Musim hujan bisa berubah, tidak menyurut pada Februari, tapi terus hujan hingga beberapa bulan kemudian.

Mengantisipasi banjir, jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah menyiapkan setidaknya 10 jurus atau langkah strategis di bwah komandao Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Kesepuluh program yang dicanangkan rezim Gubernur Joko Widodo itu merupakan program jangka pendek yang membutuhkan dana hingga Rp 400 miliar. “Kesepuluh langkah strategis itu merupakan program jangka pendek menghadapi musim hujan di akhir tahun ini,” kata Kepala Dinas PU Manggas Rudy Siahaan.

Satgas tanggap banjir

Menghadapi banjir, dibentuklah satuan tugas tanggap banjir.Menurut Manggas, satgas bertugas melaporkan secara dini bakal terjadinya banjir, hingga menyiapkan pengungsian sebagai tempat penampungan para pengungsi. Mereka juga melakukan tindaskan evakuasi warga yang terjebak banjir.

Di seluruh wilayah DKI Jakarta dari 44 Kecamatan, mayoritas atau sekitar 72,7% di antaranya ditetakan sebagai kawasan rawan banjir. Ada sebanyak 200 titik genangan yang menyebar. Dari 267 kelurahan yang ada, 93 kelurahan atau 34,8% merupakan wilayah rawan banjir dan genangan. Banjir di Jakarta mengancam sekitar 983.399 jiwa atau 10,2% dari total penduduk Jakarta, 9.588.198 jiwa.

Dalam catatan Pemprov DKI, Jakarta Utara merupakan wilayah yang terbanyak dilanda banjir, yaitu sekitar 51% wilayah Jakarta, disusul Jakarta Barat sekitar 187.707 jiwa (19%, Jakarta Timur 167.753 jiwa (17%), Jakarta Pusat 64.633 jiwa (7%), dan Jakarta Selatan 62.388 jiwa (6%).

Persiapan rumah pompa

Ada sebanyak 135 rumah pompa di Jakarta dan yang utama ada 73 rumah pompa. Sedangkan secara keseluruhan ada 500 unit pompa yang beroperasi, dan sebanyak 70 unit masih dalam perbaikan.

Rumah pompa itu mempunyai tugas yang strategis dalam mengendalikan banjir, yaitu untuk menyedot genangan yang muncul saat hujan lebat akibat saluran air tak lagi mampu menampung air hujan. Kebanyakan pompa itu tersebar di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Pemasangan CCTV di rumah pompa

Tiap rumah pompa akan dipasangi empat hingga delapan unit CCTV. Tujuannya untuk memudahkan pengawasan ketinggian air. Bahkan, Manggas melanjutkan, CCTV ini terkoneksi ke ruangan kantor Gubernur di Balai Kota di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Revitalisasi pintu air

Dinas PU mempunyai program mengeruk sampah di pintu air seperti Pintu Air Duri, Kamal Muara, Kapuk Muara, Kapuk Poglar, Pesing, Manggarai, dan Tomang. Dalam sehari sekitar 70 ton sampah yang menyumbat di pintu air tersebut.

Bagi Jakarta, keberadaan pintu air di Jakarta berperan penting mengendalikan air banjir yang masuk melalui 13 sungai yang melewati Kota Jakarta. Jika di kawasan Bogor terjadi hujan terus-menerus, diyakini banjir kiriman akan melanda Jakarta dalam tempo sekitar 6 jam kemudian.

Di bulan ini, banjir sudah melanda tidak hanya kawasan bantaran Kali Ciliwung, tapi juga sungai yang lain, termasuk Kali Pesanggrahan yang ada di bagian barat .

Drainase

Tugas Dinas PU lainnya adalah pengecekan gorong-gorong yang ada, termasuk got-got kecil di komplek perumahan, terutama di kawasan kota,

Pengerukan waduk

Ada 12 waduk di Jakarta yang akan dikeruk agar mampu menampung air hujan dalam jumlah besar. Kebanyakan waduk atau danau itu ditumbuhi tanaman enceng gondok, dan di tepiannya banyak dihuni penduduk liar yang berasal dari lokakarya. Ke12 waduk itu adalah Waduk Bojong, Waduk Sunter, Waduk Teluk Gong, Waduk Situ Lembang, Waduk Melati, Waduk Rawa Babon, Waduk Cengkareng, Waduk Grogol, Waduk Pegangsaan II, dan Waduk Bujana Tirta, Waduk Ria-Rio, dan Waduk Tomang Barat. Rencananya waduk-waduk tersebut selesai dinormalisasi akhir tahun ini.

Pengerukan kali besar

Tahun ini sejumlah sungai besar mulai dikeruk agar tidak dangkal dan mampu menyerap luapan air hujan. Sungai utama yang akan dijmur adalah Kali Mookervart, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Grogol, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung. Khusus Kali Ciliwung, penanganannya ada di bawah Kementerian Pekejaan Umum.

Pengerukan kali submakro

Pengerukan juga dilakukan terhadap sungai yang lebih kecil, yaitu Kali Palmerah dan Kali Lontar. Tujuan pengerukan ini sepenuhnya untuk mengurangi beban sungai-sungai besar.

Membangun sumur resapan

Dalam skala lebih kecil, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral mulai membuat 1.958 sumur resapan. Saat ini 30% sudah selesai dibangun. Target utama sumur resapan, kata Mangga adalah untuk mengurangi genangan air dan terutama di daerah berpotensi banjir seperti di Jalan Daan Mogot, Jakan Matraman, dan seluruh kawasan Menteng.

Refungsi kali

DKI mulai merapikan pinggiran kali, seperti membangun jalan inspeksi kemudian menertibkan bangunan liar dan penghijauan.

Kepala Dinas PU DKI Jakarta Manggas Rudy Siahaan mengakui, sampai akhir Oktober dana yang masuk ke Dinas PU baru terserap 25%. Namun dia optimistis hingga akhir November ini bisa terserap hingga 97%. “Belum terserapnya anggaran secara maksimal dikarenakan masih banyaknya proyek yang belum rampung. Tapi saya optimistis akhir tahun penyerapan anggaran sesuai target yakni 97%. Karena memang banyak pengerjaan yang belum tertagih,” kata Manggas. (saksono)

Related posts