Industri Pembiayaan Keberatan BI Rate Naik

NERACA

Jakarta – Perusahaan pembiayaan mengaku telah kesusulitan menghadapi persaingan likuiditas. Pasalnya suku bunga acuan terus meningkat hingga level 7,5% saat ini. Untuk itu diperlukan ada regulasi yang bisa membuka lebar sumber permodalaan.

“Saya sendiri kaget (BI Rate) naik lagi, sedangkan kami tidak mengaharapkan. Sebab darahnya perusahaan pembiayaan itu, ya, likuiditas. Dengan naiknya BI rate maka likuiditas akan menjadi ketat,” kata CEO PT Adira Multifinance Willy Suwandi Dharma pada acara Seminar Insurance Outlook 2014 di Hotel Le Meridien, Rabu (20/11).

Lebih lanjut Willy menjelaskan selama ini setiap perusahaan permbiayaan sangat bergantung permodalannya pada pihak perbankan. Dengan naiknya BI rate maka perbankan juga akan menaikan suku bunga pendanaan yang tersalur ke perusahaan pembiayaan. Akhinya mau tidak mau perusahaan pembiayaan juga akan menaikan suku bunga pinjamannya.

“Setiap kenaikan BI rate pasti juga diikuti kenaikan suku bunga perbankan dan itu punya dampak pada kinerja pembiayaan. Karena sumber pendanaan kita 70% berasal dari perbankan. Akhirnya konsumen sendiri juga akan terberatkan,” tutur Willy.

Untuk itu Willy berahap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para asosiasi dapat membuat suatu rujukan yang bisa membuat pendanaan perusahaan pembiayaan terbuka lebih lebar. Sebab selama ini sumber pendanaan perusahaan pembiayaan sangat terbatas. Peraturannya hanya bisa draih melalui penerbitan obligasi dan melalui wholesale founding.

“Misalnya kita jadi bisa memperluas penerbitan medium term slot atau juga mendapat akses sekuritas. Atau bisa saja dengan recycle aset perusahaan asuransi yang nilainya mencapai Rp700 triliun itu. Tapi saya tidak tahu bagaiaman caranya. Dan saya berharap OJK dan asosiasi bisa memecahkannya,” kata Willy.

Kemudian Willy menerangkan hingga Oktober2013 ini pihaknya telah menaikan suku bunga pinjaman mencapai 100 basis poin (bps). Artinya masyarakat yang menjadi konsumennya juga akan menambah beban tagihan. Hal itu terpaksa dilakukan untuk menjaga likuiditas perusahaannya.

“Tapi suku bunga kita masih kompetitif lah dengan naik 100 bps. Sedangkan BI rate saja sudah naik sampai 2%. Hal ini memang memberatkan masyarakat tapi kita jadi mau tidak mau,” ungkap Willy.

Lalu Willy mengaku NPL perusahaannya masih dalam batas normal meskipun BI tidak henti-hentinya menaikan suku bunga acuan. “NPL kita memang mengalami peningkatan sejak awal BI menaikan suku bunga. Tapi tidak terlalu berarti dan masih dalam ukuran sehat. Sekarang ada di posisi 1,37%. Dan kita akan usahakan tetap terkendali maksimal 1,5%,” paparnya.

Selain itu Willy melaporkan sampai Oktober 2013 ini Adira Multifinance sudah menyalurkan pembiayaan hingga Rp27,5 triliun. Dengan porsi yang berimbang antara pembiayaan mobil sebanyak 45% dan motor sebanyak 55%. Angka itu menunjukan pencapaian pembiayaan masih sesuai target.

“Target akhir tahun kita mencapai Rp33 triliun. Kami yakin itu dapat tercapai hingga akhir tahun. Sehingga perolehan dana kita juga bisa mencapai sekitar Rp46 triliun,” jelas Willy.

Di tahun 2014 pertumbuhan pembiayaan tidak akan tumbuh lebih dari 10% meskipun ada penambahan konten berupa penjualan Low Car Green Car (LCGC). Pasalnya persaingan likuiditas sulit membuat harga menjadi menarik bagi konsumen. Terlebih pemerintah juga akan menerapkan peraturan LTV untuk otomotif.

“Minat masyarakat maih ada tapi tidak besar. Paling pertumbuhan di tahun 2014 hanya 10% meskipun ada LCGC. Tapi target itu juga bisa lebih kecil kalau tiba-tiba ada peraturan yang menekan seperti LTV otomotif. Sebab peraturan itu akan menganggu,” tukas Willy.

Batalkan

Pada kesempatan yang sama pengamat ekonomi Faisal Basri menghimbau agar proyek LCGC dibatalkan saja. Sebab tidak ada dampak positinya terhadap nilai ekonomi yang ditimbulkan. Justru penjualan LCGC merupakan langkah kontra produktif terhadap pertumbuhan. Sebab akan menimbulkan banyak masalah termasuk meingkatnya defisit neraca perdagangan yang diakibatkan impor bahan bakar minyak (BBM).

“Pemerintah cuma fokus pada pertumbuhan konten. Tapi nilainya tidak ada. Jadi LCGC itu justru akan memperberat karena defisit neraca perdagangan kita akan terus lemah yang diakibatkan konsumsi BBM impor meningkat,” terang Faisal.

Lebih dari itu Faisal menilai masyarakat tidak bisa berharap penjualan LCGC untuk menambah devisa. Pasalnya pemerintah Indonesia mengaku penjualan LCGC juga terbuka untuk ekspor. Sehingga Indonesia bisa menjadi salah satu pemain otomotif di negara kawasan seperti Thailand.

“Industri otomotif Thailand produktifitasnya memang tinggi. Tapi jelas pasar mereka itu ekpor dan itu dijamin oleh Undang-Undang. Nah, pemerintah kita kan cuma menghimbau. Masa memperbaiki ekonomi cuma lewat himbauan,” tukas Faisal. [lulus]

Related posts