BI Rate Naik, Pemerintah Mencekik Rakyat

NERACA

Jakarta - Meningkatnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 7,5% dinilai dapat mencekik rakyat. Padahal pemerintah sendiri sudah terbukti malas bekerja. Hal itu terlihat dengan defisit neraca perdagangan yang tidak pernah sembuh meskipun suku bunga sudah dinaikan sebanyak lima kali pada tahun 2013 ini.

“Untuk membenahi current account defisit (CAD) pemerintah harusnya meningkatkan produktifitas, mengurangi ongkos produksi industri yang mahal, dan membenahi infrastruktur. Salah besar kalau menaikan BI rate. Justru itu bisa mencekik rakyat,” kata pengamat ekonomi Faisal Basri pada acara Seminar Insurance Outlook 2014 di Hotel Le Meridien, Rabu (20/11).

Kesalahan itu terbukti CAD dalam negeri tidak kunjung sembuh meskipun otoritas moneter sudah menaikan suku bunga hingga lima kali sepanjang tahun ini. Padahal akar permalahannya ekspor migas dalam negeri yang lemah tidak sebanding dengan defisit transaksi jasa dan impor minyak. Akhirnya sampai September 2013 ini posisi CAD secara kumulatif sudah ada di posisi US$24,3 miliar.

“Akar permasalah CAD itu karena nilai ekpor kita tak sebanding dengan impor. Hingga September tahun ini saja sudah impor minyak kita sudah sampai US$17,5 miliar. Sedangkan ekspor non migas kita baru mencapai US$8,9 miliar. Lalu untuk menjawab masalah ini pemerintah malah menaikan suku bunga. Itu kan aneh,” ungkap Faisal.

Lebih jauh Faisal mengatakan pada dasarnya pemerintah memang ingin meingkatkan ekspor. Namun dengan naiknya BI rate justru nilai rupiah kian melemah. Akhirnya jumlah ekspor yang meningkat pun tidak akan berkualitas.

“Kenaikan BI rate menunjukan bahwa BI percaya kalau ekspor tidak mungkin dinaikan kecuali dengan melemahkan rupiah. Asumsinya kalau rupiah dilemahkan barang kita akan lebih murah. Tapi perlu diketahui kita telah kehilangan value. Jadi kenaikan BI rate itu kebijakan gombal masa rupiah dimain-mainkan. Sebab yang meningkat hanya volume kontennya saja tapi nilainya tidak,” terang Faisal.

Langkah BI menaikan suku bunga acuan dinilai menjadi bukti pemerintah tidak bekerja. “Gubernur BI sendiri yang bilang struktur produksi yang terbentuk dalam satu dekade terakhir lambat laun terasa semakin ketinggalan. Itu kan artinya kualitas industri kita dalam keadaan parah. Karena pemerintah tidak melakukan apa-apa untuk meningkatkan daya saing. Jadi yang diambil juga langkah pemalas saja seperti menaikan suku bunga,” tambah Faisal.

Kemudian Faisal mengingatkan pemerintah juga tidak bisa lagi menumpahkan masalah CAD kepada faktor eksternal. Juga tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk menaikan BI rate lagi. Sebab sudah terbukti jelas pemerintah tidak pernah memperbaiki produktifitas industri dalam negeri.

“Kebiasaan itu dari kemarin salahin tapering off. Padahal ekspor turun atau impor naik kan tidak ada hubungannya dengan dengan tapering off. Justru yang terjadi adalah ekspor komoditas kita babak belur yang disebabkan impor migas kita keterlaluan.” Tegas Faisal.

Untuk itu Faisal menghimbau agar pemerintah khususnya segera memperbaiki industri dalam negeri. “Jadi pertumbuhan kita jangan diturunkan lagi. Menurut saya ini sudah keterlaluan. Jadi nyekek-nyekek terus aja kerjaannya,” tukasnya. [lulus]

Related posts