Konsorsium Asuransi Tanaman Terbentuk di 2015 - Ekspansi Bisnis Grup Bosowa

NERACA

Jakarta - PT Asuransi Bosowa Periskop (ABP), perusahaan asuransi umum milik Grup Bosowa, akan memasarkan asuransi tanaman atau growing trees insurance melalui konsorsium. Menurut Direktur Utama ABP, Siegfried Cornelis Salawati, rencana ini bakal terealisasi pada 2015 mendatang yang menyasar nasabah PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) yang berlokasi di Makassar, Sulawesi Selatan.

“Saat ini konsorsium sedang kita kaji untung dan ruginya. Selain itu, dilakukan juga bentuk keanggotaan, konsep menjamin kerugian atau tingkat risiko serta kapasitas (bentuk setoran) bersama. Dari total 83 jumlah perusahaan asuransi umum, 60 diantaranya sudah menyatakan ikut dalam konsorsium,” ujarnya di Jakarta, Rabu (20/11).

Lebih lanjut Fried memaparkan, ABP juga telah mengajukan kapasitas bersama untuk konsorsium asuransi tanaman ini senilai Rp1 triliun. Dia menilai, alasan dipilihnya konsorsium tersebut lantaran banyaknya klaim kerugian yang harus di-cover asuransi adalah banjir, hama dan penyakit.

Terlebih, mayoritas pegawai PTPN XIV merupakan nasabah ABP, di mana perusahaan perkebunan pelat merah itu menangani tanaman seperti kelapa sawit, kakao, gula, karet serta kelapa. “Mereka (PTPN XIV) adalah nasabah potensial. Meski begitu harus diingat, dalam program asuransi, klaim kerugian asuransi tanaman termasuk ke dalam pengecualian, karena risiko kerugian yang harus ditanggung besar. Tapi pasarnya sangat luas,” jelas Fried.

Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa sejak 2012, ABP resmi melebarkan sayap bisnis, dari sebelumnya berkutat di korporasi lalu ke ritel. Dengan perubahan ekspansi bisnis, tentu, terjadi perubahan komposisi antara korporasi dan ritel. Menurut Fried, hal ini dilakukan karena untuk memaksimalkan pasar investor ritel asuransi yang masih rendah, yaitu sekitar 5% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa.

Di sisi lain, pertumbuhan kelas menengah akibat meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional, dan bahkan diprediksi jumah kelas menengah Indonesia menembus angka 140 juta pada 2020 mendatang, bagi ABP hal ini merupakan potensi besar dan sangat menjanjikan.

Tercatat, pada 2011 posisi korporasi sebesar Rp45 miliar dan ritel Rp27 miliar. Lalu, pada 2012 posisi korporasi menyusut menjadi Rp49 miliar dan ritel meningkat Rp54 miliar. Fried kembali melanjutkan, rencananya pada tahun ini, posisi korporasi diprediksi makin menurun hanya Rp46 miliar dan ritel terus naik menjadi Rp104 miliar.

“Tahun 2014 korporasi sebesar Rp94,1 miliar dan ritel melonjak menjadi Rp105,9 miliar. Sehingga totalnya Rp200 miliar kontribusi asuransi ke grup,” tandasnya. Terkait kinerja, per Oktober 2013, premi ABP sebesar Rp132 miliar. Hingga akhir tahun ini, diperkirakan mencapai Rp150 miliar atau tumbuh 45,63% dari 2012 yang senilai Rp103 miliar.

Adapun laba perusahaan diprediksi sebesar Rp12,9 miliar di akhir 2013, atau meningkat dari tahun lalu yang hanya Rp10,45 miliar. Untuk total aset, perseroan menyumbang Rp187,41 miliar, per September 2013, atau meningkat 41% dari periode yang sama tahun lalu Rp133,26 miliar. [ardi]

Related posts