Miris, Mesin Industri Didominasi Produk Impor

NERACA

Jakarta - Tingginya kebutuhan plastik dan karet di dalam negeri sangat tinggi, ini juga berbanding lurus dengan kebutuhan para pelaku industri akan mesin untuk berproduksi. Ironisnya, hingga saat ini, industri dalam negeri masih ketergantungan mesin-mesin produksi dari asing.

Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun mengatakan, sudah seharusnya Indonesia memacu pembuatan mesin-mesin untuk kebutuhan industri di dalam negeri sendiri."Pembuatan mesin untuk industri di dalam negeri harus segera dilakukan, coba anda lihat, hampir semua mesin di industri plastik dan karet memakai mesin dari China. Saya sedih, mesin yang dipamerkan hampir semua mesin yang ada disini dari luar semua,” katanya usai membuka pameran Plastic & Rubber Indonesia dan ProPak Indonesia 2013 di Jakarta, Rabu (20/11).

Lebih lanjut lagi Alex merasa miris lantaran Indonesia dijadikan pasar oleh para produsen mesin-mesin tersebut. Seharusnya Indonesia bisa mencontoh China dalam hal pengembangan teknologi.“Kita seharusnya belajar dari China. Mereka membeli kereta tercepat dinegara lain kemudian dia bongkar-bongkar itu barang lalu dia bikin yang lebih cepat dari itu. Saya bermimpi kita seperti itu kedepan. Kita harus bikin sendiri,” papar Wamenperin.

Alex berharap kedepan Indonesia mampu untuk memproduksi mesin-mesin yang dibutuhkan industri agar tidak didikte oleh orang lain.“Masa bahan bakunya kita punya, tapi untuk produk end nya kita bergantung kepada orang lain,” tegasnya.

Di tempat berbeda, Staf Ahli Menteri Perindustrian bidang Pemasaran dan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN), Ferry Yahya meminta agar industri mesin di dalam negeri perlu diperkokoh supaya bisa bersaing dengan produk-produk impor. Ferry melihat industri permesinan di Indonesia masih sangat ketergantungan terhadap bahan baku dan teknologi impor."Struktur industri rnesin dalam negeri perlu diperkokoh. Karena industri mesin Indonesia masih sangat ketergantungan terhadap baha'n baku dan teknologi impor," ungkap Ferry.

Dengan produk impor, lanjut dia, hal itu bisa menyebabkan produk-produk mesin dalam negeri kalah bersaing. Hal ini bisa dilihat dari sisi harga produk-produk mesin impor yang cenderung lebih murah."Seharusnya kita harus bisa mampu mendesain serta melakukan inovasi teknologi, caranya adalah bermitra dengan perusahaan mancanegara untuk bisa mendapatkan alih teknologi dari mereka sehingga pada masa yang akan datang, Indonesia tidak ketergantungan dengan produk impor khususnya di industri mesin," ujarnya.

Dia berharap kedepannya setiap proyek-proyek pemerintah diminta untuk menggunakan mesin-mesin, peralatan yang dibuat di dalam negeri. "Dalam Inpres Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Penggunaan produk dalam negeri juga dijelaskan bahwa dalam pengadaan barang atau jasa pemerintah dimintya untuk menggunakan produk dalam negeri. Itu adalah amanat yang harus dikerjakan," ucapnya.

Menurut dia, industri permesinan di Indonesia tumbuh luar biasa hal itu bisa dilihat dari antusiasme peserta pameran industri mesin dan mesin perkakas yang mencapai 2.400 perusahaan. "Ini menunjukan sinyal positif bagi perkembangan industri permesinan di Indonesia. Kami juga mengharapkan para exhibitors asing tidak hanya menjual produknya te-tapi juga menjadikan Indonesia sebagai basis produk-produknya dan mau menerapkan alih teknologi," tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan Ferry, industri mesin merupakan hal yang penting dalam struktur perindustrian di Indonesia. Karena menjadi salah satu sektor fundamental untuk memasok mesin-mesin dan dan peralatannya bagi sektor manufaktur, konstruksi, pertambangan, energi, pertanian, transportasi dan sektor lainnya. Untuk negara-negara pemasok mesin, lanjut dia, seperti Jerman, China, Jepang, Itali, Korea Selatan, Taiwan dan Amerika yang masih menguasai pasar industri mesjn global.

Disisi lain, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, mengatakan tahun depan Indonesia membutuhkan lebih banyak mesin teksil.Pertumbuhan pemakaian mesin tekstil berkisar 5% per tahun. "Setiap tahun bertambah 60 industri tekstil baru di seluruh Indonesia," ujarnya.

Namun, ucapnya, jumlah itu masih jauh dari pertumbuhan ideal 100 industri per tahun. Investasi masih terhambat infrastruktur yang belum memadai. "Saat ini total ada 2.930 industri tekstil di Indonesia. Kami mengharapkan, pada 2014, bisa menjadi 3.000 industri," kata Ade.

Pertumbuhan industri tekstil merosot dibandingkan sepanjang 2012. Pertumbuhan industri tekstil tahun ini sekitar 4,5% sedangkan tahun lalu sebesar 7%. "Harapannya industri tekstil arterus bertumbuh," ujarnya.

Related posts