Rupiah Melemah, Hambat Pergerakan Indeks BEI

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham Rabu sore kemarin, indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 47,550 poin (1,08%) ke level 4.350,786. Sementara Indeks LQ45 ditutup anjlok 10,920 poin (1,48%) ke level 727,087. Serbuan aksi jual yang cukup intens dilakukan oleh investor asing menjadikan sentimen negatif terhadap IHSG. Delapan sektor jadi sasaran aksi jual, hanya dua yang masih bisa menguat.

Analis PT Anugerah Sekurindo Indah, Bertoni Rio mengatakan, pelemahan indeks BEI didorong oleh beberapa faktor diantaranya tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, “Meski the Fed masih mendukung stimulus keuangannya, namun proyeksi produk domestik bruto (PDB) ekonomi global pada akhir tahun berpotensi melambat," katanya di Jakarta, Rabu (20/11).

Sehingga, lanjut dia, kondisi itu memicu pelaku pasar saham di dalam negeri terutama asing melakukan aksi lepas saham. Tercatat pelaku pasar asing mencatatkan jual bersih saham sebesar Rp194 miliar. Berikutnya, indeks BEI Kamis diproyeksikan bakal mengalami tekanan menyusul nilai tukar rupiah yang masih terbebani oleh pertumbuhan ekonomi global, “IHSG BEI dipoyeksikan bergerak cenderung melemah dikisaran 4.284--4.454 poin,”ungkapnya.

Perdagangan kemarin, investor asing kembali getol lakukan aksi jual di saham-saham lapis dua. Alhasil indeks pun sempat anjlok hingga ke posisi terendahnya di 4331,606. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 121.582 kali pada volume 4,383 miliar lembar saham senilai Rp 5,04 triliun. Sebanyak 90 saham naik, sisanya 156 saham turun, dan 103 saham stagnan.

Bursa-bursa regional berakhir mixed menutup perdagangan Rabu. Bursa saham Hong Kong dan China bertahan di teritori positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 650 ke Rp 6.300, Duta Pertiwi (DUTI) naik Rp 300 ke Rp 4.500, AKR (AKRA) naik Rp 275 ke Rp 4.950, dan Indofood CBP (ICBP) naik Rp 250 ke Rp 10.400.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 7.000 ke Rp 170.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.350 ke Rp 29.100, Nipress (NIPS) turun Rp 600 ke Rp 7.850, dan Multi Prima (LPIN) turun Rp 600 ke Rp 3.950.

Perdagangan sesi I, indeks BEI masih ditutup melemah 25,376 poin (0,58%) ke level 4.372,960. Sementara Indeks LQ45 melemah 6,382 poin (0,86%) ke level 731,625. Empat sektor masih berusaha menahan indeks tetap positit, yaitu sektor agrikultur, konsumer, konstruksi dan perdagangan. Tapi sayang tekanan jual di saham berkapitalisasi besar terus terjadi, membuat indeks sulit bergerak ke atas.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 65.054 kali pada volume 2,321 miliar lembar saham senilai Rp 2,407 triliun. Sebanyak 94 saham naik, sisanya 114 saham turun, dan 102 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia rata-rata masih bertahan di zona hijau hingga sesi pertama kemarin. Tekanan jual yang tinggi membuat bursa China dan Indonesia terkapar jadi merah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Astra Agro (AALI) naik Rp 250 ke Rp 22.650, AKR (AKRA) naik Rp 225 ke Rp 4.900, United Tractor (UNTR) naik Rp 200 ke Rp 20.350, dan Ultra Jaya (ULTJ) naik Rp 175 ke Rp 4.775.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.050 ke Rp 29.400, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 750 ke Rp 65.000, Multi Prima (LPIN) turun Rp 550 ke Rp 4.000, dan Nipress (NIPS) turun Rp 450 ke Rp 8.000.

Sebaliknya, diawal perdagangan indeks BEI dibuka menguat sebesar 10,59 poin atau 0,23% ke posisi 4.408,39. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,57 poin (0,35%) ke level 740,58. Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah mengatakan, IHSG cenderung bergerak berfluktuasi namun masih berpeluang melanjutkan penguatan, “Pertumbuhan ekonomi di AS masih berisiko melambat sehingga kemungkinan 'tapering' akan kembali ditunda untuk waktu yang belum ditentukan," katanya.

Menurut dia, masih ada kelonggaran waktu untuk stimulus AS serta adanya dukungan dari data ekonomi China yang membaik akan memberikan dorongan apresiasi bagi indeks bursa global. Namun, lanjut dia, pelaku pasar juga menanti laporan dari data terkini mengenai indikator pada sektor tenaga kerja AS.

Sementara analis Sinarmas Sekuritas, Tessa Mulia menambahkan, secara teknikal indeks BEI Rabu bergerak menguat di level 4.373-4.430 poin. Lanjutnya, pelaku pasar juga sedang menunggu data "trade balance" dari Jepang yang diharapkan membaik, disamping itu perdagangan hari ini juga akan dipengaruhi oleh antisipasi pelaku pasar terhadap dirilisnya data "retail sales" AS.

Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 59,37 poin (0,25%) ke level 23.717,18, indeks Nikkei-225 naik 6,27 poin (0,04%) ke level 15.132,83, dan Straits Times menguat 1,52 poin (0,05%) ke posisi 3.193,60. (bani )

Related posts