Pasang Surut Kondisi Pasar Modal di Indonesia

Kondisi pasar modal di Indonesia saat ini bisa dibilang naik turun, pengaruh bank sentral Amerika Serikat masi menjadi acuan bagi semua negara-negara seperti Indonesia yang masih dipengaruhi keadaan kondisi perekonomian di negara adidaya tersebut.

NERACA

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida menilai, perkembangan pasar modal di Indonesia sangat rentan menyusul kondisi perekonomian global.

“Jika perekonomian global stabil, maka perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga membaik. Setiap tahunnya trend pertumbuhan IHSG naik 1,5 kali lipat dari biasanya namun IHSG masih sangat rentan bisa naik dan bisa turun," ujar dia ketika ditemui dalam acara " Citi Annual Capital Market Outlook 2014" Indonesia Economy Challenges and Opportunities".

Menurut dia, pada 2009 kapitalisasi IHSG mencapai Rp 2.019 triliun, kemudian terhitung 1 November 2013 IHSG naik menjadi Rp 4.360 triliun.

Dia mengatakan, tantangan eksternal masih menjadi ancaman pertumbuhan IHSG di Indonesia terutama isu tapering off (pengurangan stimulus) yang dilakukan bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Jika terealisasi, akan memberi sentimen negatif terhadap emerging market, termasuk Indonesia.

"Isu tapering off juga mempengaruhi kestabilan makro ekonomi Indonesia. Jika makro terguncang, secara tidak langsung pertumbuhan IHSG terkena dampaknya," kata dia.

Dia mengatakan, tantangan lain yang masih menjadi hambatan pertumbuhan IHSG adalah keterbatasan jenis produk. Menurutnya produk-produk yang tersedia masih terbatas, baik dari sisi jumlah maupun jenisnya. "Produk yang berkembang baru dalam bentuk saham, obligasi dan reksa dana konvensional," kata Nurhaida.

Tantangan lain adalah masih minimnya investor domestik yakni sekitar 0,2% dari jumlah penduduk Indonesia. Selain itu, produk reksa dana yang memiliki standar regional UCIs bagi Eropa, ASEAN CIS bagi Asean, Fund Passport (Asia Pacific) masih sangat minim.

"Ada banyak tantangan bagi pertumbuhan IHSG di Indonesia, semua tantangan tersebut harus segera diatasi agar industri pengelolaan investasi di Indonesia bisa tumbuh berkelanjutan," ungkap dia

Dia menjelaskan, saat ini OJK tengah mempersiapkan enam program untuk meningkatkan pertumbuhan pasar modal di Indonesia. Program tersebut adalah meningkatkan suplai produk di pasar modal, meningkatkan jumlah investor, meningkatkan stabilitas dan likuiditas.

Selanjutnya menciptakan kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum, adil dan transparan, menyediakan infrastruktur yang kredibel, handal dan berstandar internasional dan terakhir, meningkatkan peran asosiasi di pasar modal.

Nurhaida mengatakan OJK juga telah mempersiapkan perlindungan konsumen, untuk berjaga-jaga apabila konsumen mengalami kerugian. Caranya dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang produk jasa keuangan, meminta lembaga jasa keuangan menghentikan kegiatannya apabila berpotensi merugikan masyarakat, serta menyiapkan perangkat dan mekanisme pelayanan pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku jasa keuangan.

Tantangan Pasar Modal

“Tantangan ke depan bagi pasar modal Indonesia antara lain adalah keterbatasan jenis produk, belum optimalnya jumlah investor domestik, dan persaingan global,” ungkap Nurhaida.

Produk-produk yang tersedia sebagai pilihan investasi pemodal masih terbatas, baik dari sisi jumlah maupun jenisnya. Di sisi lain jumlah investor pasar modal Indonesia masih sangat kecil, hanya sekitar 0,2% dari jumlah penduduk Indonesia.

Dalam kaitan itu, OJK merumuskan program khusus terkait pasar modal, antara lain: meningkatkan ketersediaan produk dan jumlah investor, meningkatkan stabilitas dan likuiditas pasar modal, menciptakan kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum, menyediakan infrastruktur yang kredibel serta meningkatkan peran asosiasi di pasar modal.

Terkait peluang ke depan, Citi Country Officer Indonesia,Tigor M. Siahaan, menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan pasar modal Indonesia. “Pasar modal di tahun 2014 akan sangat menarik dan membuka banyak peluang. Tren investasi masih sangat baik. Banyak nasabah multinasional dan lokal Citi yang merasa bahwa investasi di Indonesia masih menguntungkan dan banyak yang ingin melakukan investasi dan akuisisi,” tuturnya.

Related posts