RI-Rusia Kerja Sama Bidang Alumunium - Investasi Mencapai US$6 Miliar

NERACA

Jakarta - Pemerintah Indonesia, melalui PT Aneka Tambang Tbk, akan menjalin hubungan kerja sama dengan Federasi Rusia, melalui Perusahaan Russian Alumunium (Rusal), untuk membangun industri alumunium dengan nilai investasi sebesar US$6 miliar atau sekitar Rp66 triliun. Dengan nilai investasi tersebut maka akan terbangun industri dari hulu hingga hilir yang terintegrasi. Meski begitu, Negeri Beruang Putih itu masih harus menunggu payung hukum, yaitu penerapan Undang-undang Mineral dan Batubara (UU Minerba).

“Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Yurievich Galuzin, sudah bertemu saya untuk membahas rencana pembangunan industri alumunium dalam negeri. Rencananya, tahun 2014 akan dimulai pembangunan ini,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Selasa (19/11).

Dia menjelaskan, Rusia tidak langsung mengucurkan dananya begitu saja, melainkan secara bertahap. Menurut Hatta, realisasi investasi akan dimulai dari angka US$3 miliar atau Rp33 triliun, yang digunakan untuk membangun smelter di Kalimantan. Hal ini dinilai bagus untuk mendukung produktivitas sektor riil dalam negeri.

“Rencananya dengan investasi awal sebanyak US$3 miliar, mereka akan membangun smelter alumunia, bauksit, dan pengurai dari bauksit ke alumunium terlebih dahulu. Dengan begitu, potensinya kita akan punya industri berbahan alumunium dari industri sampai hilir,” terang Hatta.

Dia pun berharap, melalui kontrak kerja sama dengan Rusia melalui industri berbasis alumunium dalam negeri ini akan menjadi yang terbesar di dunia. Pasalnya, di Indonesia sudah ada Inalum yang selama ini sudah bisa mendukung kebutuhan dalam dan luar negeri.

“Oleh sebab itu, industri smelter yang akan dibangun dengan memproduksi alumina, dan tentu saja bisa mendukung kebutuhan hasil produksi Inalum untuk menghasilkan alumunium. Dengan begitu, kita bisa mengembangkan industri yang terintegrasi di Indonesia. Dan juga berpotensi menjadi industri alumunium terbesar di dunia,” klaim Hatta.

Sementara itu, imbuh dia, pihak Rusia juga tengah menunggu kepastian Pemerintah Indonesia untuk menerapkan UU Minerba Tahun 2009 Tentang Pelarangan Ekpor Minerba Dalam Bentuk Mentah atau raw material. Rusia, lanjut Hatta, merasa khawatir begitu investasi sudah masuk ternyata Pemerintah berubah haluan dengan membuka lagi izin ekspor minerba.

Jika hal itu terjadi tentu akan merugikan Rusia lantaran investasi yang sudah ditanam sangat besar. “Mereka (Rusia) sangat serius untuk investasi. Tapi memang sedang menunggu apakah jadi diterapkan UU Minerba tersebut. Tapi yang pasti, Pemerintah kita jug siap sepakat kok,” ungkap Hatta.

Tidak menguntungkan

Meski begitu, dia mengaku Pemerintah tidak lagi melihat ada keuntungan yang besar dalam ekspor mineral dalam bahan mentah keluar negeri. Oleh karena itu Hatta memastikan, sejak Januari 2014 Indonesia tidak lagi melakukan ekspor bahan mentah, terutama bauksit.

“Itu karena lebih dari 40 juta ton per tahun bauksit mentah kita diekspor ke China. Ternyata manfaatnya tidak besar untuk kita," ujar Hatta. Kemudian permasalahan yang masih menjadi hambatan dalam realisasi investasi di Rusia justru mengenai fokus Pemerintah dalam penerapannya di lapangan.

“Kalau UU gampanglah. Tapi kita sedang memikirkan proses transisi tembaga yang sudah sampai 30% di smelter-nya. Mereka sendiri juga sedang fokus untuk mengejar sampai 100%. Nah, itu bagaimana? Ini yang perlu didiskusikan," jelas Hatta, berkilah.

Perlu diketahui, dalam hubungan kerja sama membangun indutsri ini kehadiran Rusia akan diwakili oleh salah satu perusahaan bauksit terbesar di dunia, Russian Alumunium (Rusal). Sedangkan Indonesia akan diwakili oleh salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di industri mineral, PT Aneka Tambang Tbk. “Mereka sudah pilih Rusal yang akan menggarap proyek ini. Dan mereka juga pilih Antam sebagai mitra kerja dalam negerinya," tandasnya. [lulus]

Related posts