Perkuat Modal, Bank Permata Gelar Rights Issue - Bidik Dana Rp 1,5 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Bank Permata Tbk (BNLI) akan melakukan Penawaran Umum Terbatas atau Right Issue IV mencapai Rp1,5 triliun untuk membiayai penyertaan modal pada PT Astra Sedaya Finance (ASF) 2014 mendatang. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (19/11).

Perseroan memperkirakan dana hasil rights issue akan mencapai Rp1,5 triliun dengan mengeluarkan 1,207 miliar lembar saham. Rencananya harga saham right issue senilai Rp1.242 per lembar saham, “Untuk pembiayaan penyertaan modal pada PT Astra Sedaya Finance. Dana hasil penawaran umum terbatas ini akan mempertahankan rasio kecukupan modal kami pada penyertaan modal di ASF,”kata Direktur Keuangan PT Bank Permata Tbk Sandeep Jain.

Dia menambahkan, pihaknya akan melakukan right issue setelah melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang direncanakan dilakukan pada 6 Januari 2014 yang akan datang.

Menurut dia, dengan terus mempertahankan rasio kecukupan modal pada mitra bisnis berarti pihaknnya ikut memenuhi ketentuan Bank Indonesia. Selain itu, dia menuturkan hal ini akan memberikan peluang untuk terus mendukung ekspansi bisnis Bank Permata ke depan.“Untuk rasio kecukupan modal (CAR) Bank Permata per 30 September 2013 lalu, masih kuat yakni sebesar 14,4 persen”, katanya.

Nantinya, setiap pemegang 221 saham lama yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan (Recording Date) pada tanggal 6 Januari 2014, mempunyai 25 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), dimana setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli sebanyak 1 (satu) saham baru. Hingga September 2013, perseroan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,32 triliun atau meningkat 21% dari Rp1,09 triliun pada periode yang sama tahun 2012. Kinerja operasional perseroan membaik, dengan berhasilnya dicatat total pendapatan operasional yang mencapai Rp5,01 triliun, naik 14% dari Rp4,38 triliun.

Berdasarkan laporan keuangannya, hal ini didorong oleh pertumbuhan pada pendapatan bunga bersih dan pendapatan bebasis biaya (fee based income). Sedangkan, kredit termasuk pembiayaan syariah perseroan tumbuh 30% dari Rp89,9 triliun di akhir September 2012 menjadi Rp116,7 triliun pada periode yang sama tahun 2013. Tercatat, kredit tumbuh dihampir seluruh segmen bisnis, termasuk pertumbuhan yang kuat dalam bisnis UKM, KPR dan pinjaman untuk segmen local corporate dan middle market. Sehingga, perseroan berhasil membukukan total aset mencapai Rp154,5 triliun atau naik 35% dari Rp114,8 triliun pada tanggal 30 September 2012.

Basis pendanaan perseroan juga kian beragam dan tumbuh secara berkelanjutan, dana pihak ketiga termasuk pendanaan Syariah meningkat 34% menjadi Rp123,1 triliun. Perseroan juga mencatat pertumbuhan dalam dana murah (CASA) sebesar 12% menjadi Rp42,2 triliun dan dalam deposito berjangka sebesar 44% menjadi Rp69,4 triliun. Pendanaan syariah mencatat kenaikan yang signifikan sebesar 80% menjadi Rp11,5 triliun dari Rp6,4 triliun setahun sebelumnya. Perseroan juga menunjukkan rasio Non Performing Loan (NPL) gross dan net masing-masing tercatat 1,1% dan 0,3% dari 1,5% dan 0,4%. (nurul)

Related posts