Industri Kaca Pesimis Hadapi Pasar Bebas ASEAN 2015 - Biaya Energi Terus Naik

NERACA

Jakarta - Pelaku industri kaca nasional pesimistis menghadapi era perdagangan bebas ASEAN (Masyarat Ekonomi ASEAN/MEA) pada 2015. Bahkan para pelaku usaha mengaku tidak memiliki persiapan khusus menghadapi perdagangan bebas antar negara di kawasan Asia Tenggara tersebut.

Ketua III Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus H Gunawan mengatakan para pelaku industri kaca dalam negeri siap terjun bebas saat berlangsungnya perdagangan bebas tersebut. "Nggak ada persiapan khusus, memang sudah terjun bebas kalau kita," ujarnya di Jakarta, Selasa (19/11).

Pengusaha industri kaca mengaku masih menghadapi sejumlah kendala besar jelang pemberlakukan MEA 2015. Ketersediaan energi berupa gas sebagai penggerak utama industri tersebut masih menjadi masalah besar yang belum terselesaikan. "Yang kita takutkan salah satunya gas, harganya naik terus, listrik juga naik. Kalau harganya naik terus, kita takut nggak bisa bersaing," lanjutnya.

Yustinus menjelaskan, pesaing terbesar produk kaca selama ini berasal dari Malaysia. Negara Jiran tersebut diuntungkan dengan kebijakan pemerintah yang masih memberikan subsidi pasokan gas. Kondisi ini membuat pelaku industri kaca nasional mengaku sulit menghadapi meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

"Indonesia memang menang di SDA, tapi masalah pada energi. Kami sendiri tidak mengharapkan subsidi, asalkan nggak naik saja. Kalau naik 5% saya kira wajar tapi kalau sekian puluh persen, waduh. Sekarang saja bisa hidup, tetapi (seperti) bonsai," katanya.

Kalangan pelaku usaha mengaku sudah mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah pasokan gas dengan membangun pabrik yang berdekatan dengan sumber gas. Sayangnya upaya ini justru memicu masalah baru pada pengangkutan hasil produksinya ke pasaran.

Yustinus kini hanya bisa berharap pemerintah dapat menekan harga gas untuk konsumsi industri sehingga mampu membangkitkan kembali industri kaca nasional untuk menghadapi MEA mendatang.

Di sisi lain, produsen kaca optimis industrinya bisa tumbuh hingga 6,5% di akhir tahun ini. Pertumbuhan terdorong peningkatan permintaan produk kaca dalam negeri dari sektor otomotif dan properti. "Jadi kita masih bisa jaga sedikit di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi. Kalau untuk (pertumbuhan) kaca hulu sekitar 6%, tapi kalau kaca yang diproses mungkin sampai 6,2%. Jadi mungkin bisa sekitar 6,5%," ujar Yustinus.

Yustinus menjelaskan, permintaan kaca pada sektor otomotif diprediksi mencapai 8%, sementara sektor properti 12,5%.Meskipun permintaan ekspor kaca mengalami penurunan 5,5% hingga 6,5%, namun tertolong dengan kenaikan permintaan dari kedua sektor domestik tersebut.

Sementara kapasitas produksi kaca nasional pada tahun ini, diprediksi mencapai 1,2 juta ton, naik dari tahun lalu yang masih 01,125 juta ton."Kalau misalnya pengiriman akhir tahun ini banyak, nggak ada hambatan lagi, maka 1,25 juta ton tercapai. Itu sudah hampir 90% kapasitas terpasang," jelasnya.

Dia menyebutkan, dari jumlah kapasitas produksi tersebut, sebanyak 35% diperuntukkan ke pasar ekspor. Namun sayang, ekspor ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu."Turun dari tahun lalu sekitar 5%. Jadi mereka (industri) sekarang menyiasati dengan mencoba ekspor kaca-kaca yang bernilai jual tinggi, kalau kaca-kaca biasa saja kalah dengan saingan terbesar kita, China," jelas dia.

Ekspor ini, lanjut Yustinus, diperuntukkan hampir ke semua negara, terutama untuk kawasan Asia dan Timur Tengah. Sifat berat kaca cukup menyulitkan. Adapun saingan produsen kaca nasional seperti Malaysia dan Thailand.

Sedangkan untuk kebutuhan produk kaca dalam negeri saat ini telah mencapai 700 ribu ton. Dengan demikian, Yustinus berharap industri pengguna kaca seperti industri otomotif dapat terus berkembang sehingga mampu menyerap lebih banyak produksi kaca nasional."Mudah-mudahan produksi mobil kita bisa diekspor, jadi kita bisa nimbrung dikacanya. Kita ikut pada nilai tambahnya," tandasnya.

Sektor UMKM

Sebelumnya, guna menghadapi AEC 2015, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mempunyai strategi khusus, terutama yang berkaitan dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi. Hal tersebut seperti diungkapkan Wakil Ketua Kadin bidang UKM Erwin Aksa di Jakarta, belum lama ini.

Setidaknya, Kadin mempunyai dua cara untuk meningkatkan kualitas UMKM Indonesia menghadapi AEC. Pertama, Kadin akan bekerjasama dengan Kementrian Koperasi dan UKM untuk mendirikan sebuah lembaga keuangan yang dikhususkan untuk pelayanan dan fasilitas para UMKM dan Koperasi di seluruh Indonesia.

“Dengan ini nantinya ada satu pintu atap yang akan mendorong pelayanan usaha, pendampingan, konsultasi yang diharapkan nantinya Kadin Daerah akan terlibat secara langsung dalam program tersebut. Saya kira pertumbuhan UKM ini semakin besar dan pengisaha mikro menjadi pengusaha kecil, yang mengah skilling up menjadi besar,” ujarnya.

Menurut dia, pada 2015 mendatang akan ada setidaknya 591 juta pasar yang akan menjadi peluang bagi para pengusaha di seluruh ASEAN. Dari total penduduk negara ASEAN sebanyak 80% merupakan penduduk di bawah 45 tahun. “Peluang ini tentu kita tangkap sebagai peluang usaha yang nanti bisa menjadi bagian dari bisnis dinikamti UKM, jangan sampai nanti kita menjadi penonton,” kata dia.

Related posts