Industri Kemenperin Dorong Penerapan "Industri Hijau"

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Panggah Susanto mengungkapkan pengembangan bangunan hijau (green building) tengah mendapat perhatian penting di bidang teknologi hijau. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah dan infrastruktur yang ramah lingkungan saat ini telah menjadi tren, seiring dengan meningkatnya kesadaran pelestarian lingkungan.

"Ini menjadi tren internasional sehingga dapat menjadi sesuatu yang mutlak. Dan harus dipikirkan juga insentif apa yang bisa diberikan untuk mendorongnya," ujar Panggah usai pembukaan Pameran Industri Keramik dan Bahan Bangunan di Jakarta, Selasa (19/11).

Lebih lanjut Dirjen Agro ini memaparkan untuk penerapan pengembangan green building ini dapat dimulai dari pemilihan bahan bangunan hingga lokasi tempat bangunan yang akan didirikan yang diharapkan telah mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup.

"Untuk mendapatkan green building ini diperlukan bahan bangunan yang mendukung, oleh sebab itu industri bahan bangunan harus dapat mengembangkan produknya dengan memanfaatkan bahan baku lokal secara maksimal melalui pengembangan standar teknologi proses, desain maupun peningkatan SDM," tutur Panggah.

Menurut dia, pengembangan teknologi hijau merupakan teknik untuk menghasilkan energi atau produk yang tidak mencemari lingkungan hidup serta dapat melahirkan banyak inovasi dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari."Saat ini sudah makin banyak yang masuk ketegori industri hijau setiap tahun. Sekarang kita lebih mendorong suatu industri untuk semakin meningkat penerapan industri hijau, apakah terkait dengan pemakaian energinya, pemakaian air, atau re-use bahan bakunya," ujarnya.

Sehingga, ujar Panggah,untuk mendapatkan green building ini diperlukan bahan bangunan yang mendukung, oleh sebab itu industri bahan bangunan harus dapat mengembangkan produknya dengan memanfaatkan bahan baku lokal secara maksimal melalui pengembangan standar teknologi proses, desain maupun peningkatan SDM," tutur Panggah.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim, Shinta Widjaja Kamdani mengatakan tingginya penggunaan energi di kawasan industri dan perhotelan menuntut adanya inovasi dalam konsep desain infrastruktur dan bangunan yang ramah lingkungan dengan penggunaan energi yang efektif. Diperlukan peran pemerintah untuk mendorong agar secara bertahap seluruh infrastruktur dan bangunan mengunakan energi yang efisien.

"Bangunan dari berbagai jenis, apa pun itu, menggunakan hampir 40 % dari energi global, bahkan bisa lebih. Jika energi yang dikonsumsi selama proses konstruksi bangunan dimasukkan maka akan menjadi lebih dari 50 % dari konsumsi energi dunia," kata Shinta.

Menurut dia, penggunaan energi memang harus diefektifkan dan sebenarnya ada peluang bagi investor untuk mulai melakukan investasi dalam sektor efisiensi energi.Peluang investasi itu, lanjut Shinta, cukup besar karena memiliki social cost yang rendah dengan pengembalian yang tinggi atas nilai investasi yang diharapkan."Tuntutan atas kebutuhan tersebut di era modern dewasa ini dipastikan akan membawa peluang bagi pelaku usaha untuk melakukan investasi dalam efiensi energi baik untuk bangunan maupun kawasan industri," kata dia.

Shinta juga mengatakan pada dasarnya selain kebutuhan efisiensi dari segi ekonomi, efisiensi energi pada bangunan terutama yang ada di perkotaan juga disebabkan adanya kebutuhan akan personal comfort dan psychological issue.

Ramah Lingkungan

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI), Yanti Sukamdani, mengharapkan pengelola hotel di Tanah Air beralih menggunakan infrastruktur dan bangunan yang hemat energi. "Ini disebabkan wisatawan asing, terutama dari Eropa Barat, saat ini hanya memilih hotel-hotel yang ramah lingkungan," katanya.

Dia menambahkan umumnya para wisatawan lebih memilih hotel ramah lingkungan karena sesuai dengan gaya hidup mereka di negara asal dan mereka juga peduli dengan keterbatasan sumber daya alam dari fosil, seperti minyak bumi.

Related posts