Puncak Produksi Gas Diperkirakan 2018

NERACA

Jakarta – Sampai dengan 2018, pemerintah menargetkan produksi gas bumi mencapai 10.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). “Produksi gas akan naik sampai 10.000 MMSCFD pada 2018 sebelum turun kembali,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Edy Hermantoro di Jakarta, Selasa (19/11).

Pada 2013, produksi gas diperkirakan mencapai sekitar 8.000 MMSCFD, lalu naik 2015 menjadi sekira 9.000 MMSCFD dan berpuncak pada 2018 sebesar 10.000 MMSCFD. Lalu, selama 2019-2025, produksi secara bertahap menurun. Kalau 2019, produksi masih sekitar 9.000 MMSCFD, maka di 2025 hanya tinggal sekitar 6.000 MMSCFD.

Menurut Edy, pada tahun-tahun mendatang, produksi gas hanya mengandalkan lapangan yang berada di wilayah sulit seperti Indonesia Deepwater Development (IDD), Bakau, Masela, Tangguh, dan Natuna. “Untuk pemanfaatannya di dalam negeri, pengembangan ladang-ladang tersebut membutuhkan sarana dan prasarana seperti terminal, kapal dan pipa,” katanya.

Saat ini, menurut Edy, Indonesia setidaknya tengah membangun sembilan infrastruktur gas bumi. Proyek itu adalah revitalisasi Kilang LNG Arun yang dibangun PT Pertamina (Persero) dengan jadwal operasi kuartal keempat 2014, pipa Arun-Belawan oleh Pertamina selesai 2014, dan FSRU Lampung oleh PT PGN Tbk pada 2014.

Lalu, pipa Cirebon-Bekasi oleh PT Pertagas selesai 2014, pipa Cirebon-Semarang oleh PT Rekayasa Industri pada 2014, pipa Gresik-Semarang oleh Pertagas pada 2014, FSRU Jateng oleh Pertamina pada 2014, dan pipa Kepodang-Tambak Lorok oleh PT Bakrie&Brothers pada 2014.

Sebelumnya, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johanes Widjonarko mengklaim produksi Migas Indonesia hingga kini masih menjadi andalan Asia Pasifik. Indonesia dianggap kontributor terpenting dalam produksi gas di dunia khususnya di Asia Pasifik dengan kontribusi mencapai 19%.

Cadangan gas yang tersebar di berbagai daerah membuat peran Indonesia dalam kancah industri Migas internasional memang tak bisa diremehkan. “Indonesia kontributor penting di dunia, Indonesia banyak mememiliki area banyak tersebar di kepulauan Indonesia, banyak sekali gas diproduksi,” kata Widjonarko.

SKK Migas mencatat Indonesia saat ini mempunyai 387 lapangan gas dengan 258 lapangan yang berproduksi. Persentase recovery dari lapangan-lapangan gas tersebut mencapai 64,7% sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan cadangan gas terbesar ke-12.

Widjonarko mengungkapkan, produksi gas di Indonesia mengalami kenaikan 7% dalam periode 2007-2011. Melihat perkembangkan tersebut, SKK Migas menilai perlu adanya optimalisasi keseimbangan ekspor dan impor gas.

Kedepan, SKK Migas yakin produksi gas nasional akan mendominasi. Masa-masa Ketergantungan minyak dipastikan akan berganti menjadi ketergantungan gas. "Era produksi minyak sudah lewat,Pemerintah memproyeksikan distribusi gas alam mencapai 7,15 juta kaki kubik per hari (MMSCFD)," ujarnya.

Importir Gas

Namun begitu, Asia Pasific Energy Research Center (APERC) memperkirakan kekayaan cadangan gas yang dimiliki Indonesia justru akan tak mampu mencegah negara ini menjadi importir gas. “Demand gas di Indonesia sekarang ini menunjukkan peningkatan yang cukup besar, apabila hal ini tidak diimbangi dengan pasokan maka mau tidak mau Indonesia akan menjadi negara importir gas, padahal Indonesia sendiri tanahnya itu paling kaya akan sumber gas alam," ungkap Researcher APERC, Crisnawan Anditya.

Crisnawan memperkirakan, pengembangan gas di Indonesia setidaknya masih menemui empat kendala besar yaitu pertama masih kurangnya investor-investor yang mendukung akan penemuan sumber-sumber gas baru. Hampir semua pihak menyadari, penemuan sumber gas baru memerlukan adanya eksplorasi yang membutuhkan dana cukup besar.

Kendala kedua, lokasi-lokasi kilang gas atau sumber gas di tanah air umumnya jauh dari sumber permintaan konsumsi terbesar. Kendala ketiga, transportasi menjadi salah satu isu yang perlu diperhatikan Indonesia sebagai negara kepulauan. "Karena apabila kilang gas ada, tapi transportasi kurang siap ya sama saja," kata Crisnawan.

Faktor keempat yaitu faktor-faktor kilang gas yang ada sekarang sudah berusia tua. "Sumber-sumber gas kita saat ini sudah tua, jadi kalau tidak dilakukan renueble maka hasilnya akan semakin berkurang," jelasnya. Namun, dibalik kendala yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan sumber gas tersebut, APERC memprediksi Indonesia akan tetap menjadi negara inti pengekspor gas pada tahun 2035.

Terkait dengan pemanfaatan gas bumi untuk domestik, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No.03 Tahun 2010 tentang Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi Untuk Kebutuhan Dalam Negeri. Menteri ESDM menetapkan alokasi gas bumi untuk ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri secara optimal dengan mempertimbangkan ketersediaan infrstruktur dan keekonomian pengembangan lapangan gas bumi.

Selain itu dalam Permen ESDM No. 03 Tahun 2010 Pasal 4 dijelaskan bahwa dalam rangka mendukung pemenuhan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri, Kontraktor wajib ikut memenuhi kebutuhan Gas Bumi dalam negeri dengan menyerahkan sebesar 25% dari hasil produksi Gas Bumi bagian Kontraktor.

Related posts