Masalah Banjir Jakarta dan Citra Kepemimpinan - Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Jakarta banjir lagi, jalan-jalan di Jakarta yang selalu macet bertambah runyam manakala hujan turun. Kemacetan luar biasa pun menjadi-jadi, luar biasa, hanya dengan hujan sebentar saja membuat jalanan tergenang air dan membuat kendaraan berjalan perlahan apalagi jika hujan lebat turun, tidak terbayangkan betapa kacau balau, ruwet dan rumitnya berkendaraan di jalan-jalan kota Jakarta.

Pada saat saya masih bekerja di Jakarta belasan tahun lalu saja kemacetan parah sudah tak bisa dihindari. Kerapkali saya merasakan pahitnya berlalu lintas seusai pulang kerja jam 5 sore terperangkap macet cet di jalan menuju kerumah yang jaraknya hanya 20 km tetapi selalu pulang malam sekitar jam 9 bahkan pernah pula sampai rumah dinihari atau sama dengan waktu saat sahur yakni sekitar jam 2-3 dinihari.

Inilah kondisi perlalulintasan di Ibukota Republik Indonesia yang amat terpuruk dan karut marut seperti ini memang sulit pemimpin DKI Jakarta menanggulangi persoalan krinis tersebut. Siapapun Gubenrur dan wakil Gubernurnya tidak serta merta mampu segera menyelesaikan masalah banjir dan macet di Jakarta.

Namun dilain pihak kondisi Jakarta yang menyedihkan itu menjadi tempat yang ampuh dan menjanjikan bagi siapapun Gubernbur dan Wakil Gubernurnya untuk memperoleh popularitas luar biasa. Betapa tidak, hanya dengan satu-dua gebrakan yang dilakukan sang Pimpinan tertinggi DKI serta merta dapat membuat popularitasnya meningkat meski dalam kenyataannya persoalan akut Jakarta yang dipaparkan diatas belum jua bisa dituntaskan secara paripurna.

Fenomena ini terlihat saat media meliput blusukan dan cara merakyat Jokowi dalam menerapkan taktik dan strategi kepemimpinannya. Demikian pula saat si Wakil melakukan tindakan yang dianggap publik populer. Padahal, secara nyata dan kenyataannya problematika Jakarta tidak semudah kita membalikkan telapak tangan sekalipun telapak tangan itu milik anak kecil.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Gubernur dan Wakilnya merupkan hal biasa saja sebagai seorang pemimpin, tetapi oleh karena pemimpin-pemimpin lainnya lebih asyik bekerja dibelakang meja dan tidak menampakkan kerja-kerja merakyat maka apa yang dilakukan kedua pemimpin Jakarta itu seolah sangat luar biasa, padahal unjuk kerja mereka masih belum mampu untuk disebut berhasil secara signifikan melainkan baru berhasil dalam mengangkat dan meningkatkan citra sebagai seorang pemimpin yang (tampak) merakyat.

Bayangkan hanya dengan citra macam ini saja yang bersangkutan sudah diajak lompat jauh dan di gadang-gadang untuk dicalonkan menjadi Capres, apalagi jikalau ada sedikit saja keberhasilan sang pemimpin tentu sang pemimpin akan di "dewa-dewa" kan. Inilah kondisi dan karakter masyarakat kebanyakan yang mesti terus menerus memperoleh pendidikan politik yang baik dan berimbang.

Musim hujan telah tiba di Jakarta dan kita saksikan sendiri di Jakarta masih banjir, tetap macet, sementara rakyat (publik) sudah terlalu berharap banyak terhadap Jokowi dan Ahok bahwa banjir beserta macet akan segera berakhir. Harapan akan segera terselesaikannya masalah di Jakarta tersebut yang ada di benak publik sudah tertanam dengan sendirinya sebagai hasil karya media massa yang mampu menggiring opini publik, sayangnya dalam realitas rakyat masih menghadapi kepahitan akibat banjir dan macet.

Melihat kondisi Jakarta yang sudah demikian berat tersebut diperlukan masa yang cukup lama untuk mengatasinya. Tidak bisa persoalan di Jakarta diatasi sendiri tetapi harus dilibatkan dan melibatkan berbagai pihak terkait termasuk pemerintah pusat. Kontribusi persoalan juga berasal dari pemerintah pusat yang berkativitas di Jakarta, oleh karenanya pemerintah pusat tidak boleh lepas tangan sebagaimana baru-baru ini kita menyaksikan melalui televisi betapa pemerintah pusat seolah cuci tangan dan menyerahkan persolan sepenuhnya kepada pemerintah DKI jakarta.

Pernyataan seperti itu tidaklah mendidik masyarakat malah akan menggiring opini publik bahwa di negeri ini telah terjadi krisis kepemimpinan yang bertanggung jawab, tidak banyak pemimpin di negeri ini yang ksatria mengakui kegagalan dan siap dituding sebagai orang yang bertanggungjawab dalam suatu kegalan. Selalu saja kita saksikan melemparkan tanggung jawab persoalan dari pemimpin kepada pemimpin yang lain, sedih kita melihat fenomena ini.

Banyak hal sebenarnya yang dapat diambil hikmahnya dalam kasus keruwtan sosial di Jakarta ini bagi rakyat awam. Pertama, rakyat perlu dididik untuk tidak gumanan atau terlalu terbius dengan aksi dan perilaku elite yang hanya mengangkat citra. Kedua, aturan untuk menjalankan kepemimpinan perlu dibuatkan agar pemimpin manapun tidak mudah untuk bioleh ikut serta berlomba dalam pemilihan pemimpin pada level diatasnya sementara calon tersebut belum selesai menjalankan tuigas yang diamanahkan oleh rakyat kepadanya. Ketiga., sudah saatnya seluruh pemimpin di Indonesia dibuatkan sistem penilaian kinerja yang akurat dalam prinsip SMART (Specific, Measurable, Attainable dan Time bounded) artinya tugas-tigas dan pekerjaan pemimpin mestilah jelas, terukur, spesifik konkrit, bukan sesuatu yang muluk-muluk dan memiliki jangka waktu yang harus dijalan dan ditempuh tanpa boleh meninggalkan posisinya sebeleum mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui konsep SMART itu. (uin-malang.ac.id)

Related posts