Gelar Ekspansi, IHI Bidik Pasar Indonesia - Industri Manufaktur

NERACA

Cilegon – Sudah seyogyanya negara berkembang menjadi bidikan bagi negra-negara maju, khusunya untuk sektor industri. Tidak luput juga Indonesia dengan negara yang mempunyai pangsa pasar terbesar di Asia, oleh karenanya jadi bidikan dan dianggap pasar potensial untuk industri khusunya industri manufaktur.

“Sejalan dengan misi dari IHI Corporation managemen international untuk membantu membangun industri negara-negara berkembang khusunya Asia Tenggara, maka dari itu managemen menjadikan Indonesia sebagai target mengembangkan bisnis, khususnya untuk industri manufaktur,” kata Hiroshi Horiguchi, General Manager,Global Marketing IHI Corporation, saat kunjungannya di pabrik PT. Cilegon Fabricators, Banten, Jawa Barat, Senin(18/11).

Dia menilai, pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara sangat berkembang pesat, oleh karenanya IHI Corporation Management ekspansi bisnisnya masuk di ranah Asia Tenggara bakal punya potensi besar kedepannya. “Di Asia Tenggara ada empat negara yang punya potensi besar dalam mengembangkan bisninya yaitu Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand,” imbuhnya.

Disinggung mengenai alasan yang mendasar potensi dari Indonesia, Hiroshi melihat Indonesia mempunyai potensi pasar yang besar, maka dari itu managemen tidak ragu lagi untuk investasi di Indonesia. “Melihat pasar besar yang ada, Indonesia merupakan negara prospek dan potensial untuk jangka panjang, “ sambungnya.

Karena memang sesuai dengan keinginan dari IHI Corporation Management, dalam melakukan investasi tidak melihat dari jangka pendek, tapi bagiamana potensi jangka panjangnya, dan Indonesia mempunyai potensi itu. Oleh karena itu, kami dari management mulai membuka dan membangun industri-industri manufaktur di Indonesia. “Dengan pertumbuhan perkembangan ekonomi Indonesia, potensi pasar yang luas. Indonesia negara yang menguntungkan untuk investasi,” ungkapnya.

IHI Corporation juga menyadari potensi Indonesia yang kaya, khususnya sumber daya alamnya yang melimpah dan profil pasar yang kuat, termasuk demografik yang menarik, iklim investasi yang baik serta permintaan dalam negeri yang kuat, merupakan sebagai salah satu target utama untuk rencana ekspansi bisnisnya di masa depan, dan pada saat yang sama, mencari cara untuk berkontribusi terhadap perkembangan negara, khususnya di bidang infrastruktur, pembangkit tenaga listrik, dan mesin industri. “Saya yakin Investasi di Indonesia akan bagus untuk masa depan,” paparnya.

Lebih jauh lagi, Hiroshi menjelaskan IHI Corporation merupakan perusahaan konstruksi/alat berat Jepang yang sudah beroperasi lebih dari 160 tahun. Dalam upaya menyelesaikan berbagai masalah, seperti sosial, lingkungan, industri dan energi, IHI menawarkan solusi inovatif, yang dikenal dengan nama “Teknologi Monozukuri”. Menjadi salah satu yang terdepan dalam industri konstruksi/alat berat di dunia, IHI tidak hanya memperhatikan isu keselamatan kerja, namun juga lingkungan dan kemanusiaan. “Disini kami disamping ingin membangun, dan merealisasikan upaya Indonesia agar menjadi negara industri yang lebih berkembang lagi,” pungkasnya.

Buka Gerbang

Debut pertama IHI Corporationa ekspansi bisnis di Indonesia masuk Pada tahun 2002, dengan mengakuisisi PT Cilegon Fabricators (PTCF). Upaya ini dilakukan sebagai langkah awal dan untuk membuka gerbang memulai bisnisnya di pasar Indonesia. Adapun bisnisnya bermain untuk sektor energi, infrastruktur, dan peralatan industri, dengan produk utama struktur baja, sistem saluran, peralatan penanganan, jembatan, boiler pressure parts, modul generator uap pemulihan panas, pengemasan boiler dan pipa. “Di pabrik ini kami memproduksi alat-alat berat pendukung industri,” kata Riadi Zakir Production Director PTCF.

Dia mengakui, presentasi permintaan antara lokal dan ekspor tidak menentu. Tapi untuk tahun 2013 ini gap nya sangat jauh, hampir semuanya untuk ekspor yaitu sekitar 90%, sedangkan untuk nasional hanya 10% saja. “Produksi kami tergantung pesanan saja, dan tahun ini dibilang paling terparah untuk yang lokal karena sedikit sekali,” ungkapnya.

Pada hal dari lebih 20 perusahaan yang dioperasikan IHI Corporation se- Asia Tenggara, PTCF merupakan fasilitas produksi boiler terbesar dengan kapasitas hingga mencapai 26.000 ton per tahun. Namun demikian, penyerapan untuk lokal sangat rendah, bisa jadi ini karena kondisi ekonomi nasional yang kurang bagus sehingga permintaan menurun. “Kemungkinan kondisi ekonomi yang sedang tidak bagus, sehingga sektor industri nasional sedang tidak bagus, makanya pesanan yang masuk kesini sangat sedikit,” terangnya.

Harapannya kedepan dengan adanya produk-produk dari PTCF ini, mampu membantu pertumbuhan industrialisasi nasional secara berkelanjutan. “Jika pasar dalam negeri bagus maka kami prioritaskan. Tapi jika lagi sepi pesanan, kami hanya memproduksi yang untuk ekspor saja untuk negra Eropa atau Amerika,” pungkasnya.

Related posts