Aturan BI Hambat Penjualan Citatah - Tidak Pasang Target Tinggi

NERACA

Jakarta – Adanya peraturan Bank Indonesia (BI) terkait Loan to Value (LTV), sangat berdampak bagi emiten marmer, seperti yang dialami PT Citatah Tbk (CTTH) yang tidak berani menargetkan pertumbuhan penjualan marmer tinggi pada tahun depan.

Presiden Direktur PT Citatah Tbk Taufik Johannes mengatakan pada 2014 perseroan berharap penjualan domestik yang akan meningkat sekitar 10%. Karena, dengan adanya peraturan terbaru BI mengenai LTV dan KPR inden serta kenaikan suku bunga kredit akan berdampak terhadap sektor properti.“Peraturan tersebut memungkinkan sektor properti yang menjadi pelanggan kita akan menurun, sehingga penjualan marmer kemungkinan akan menurun juga”, katanya di Jakarta, Senin (18/11).

Penjualan domestik hingga kuartal ketiga 2013 mencapai Rp152,01 miliar. Sementara itu, untuk penjualan ekspor blok dan slab diperkirakan baru akan meningkat sekitar 20% sampai 30% pada semester kedua 2014.“Hal ini, seiring keyakinan perseroan dengan keputusan pemerintah per 1 Oktober 2013 yang menghapus bea ekspor produk slab dan menurunkan bea ekspor produk blok,”ujarnya.

Hingga saat ini, perseroan juga tengah menunggu perizinan dari Dirjen Pertambangan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) guna melakukan perluasan lahan sekitar 30 hektar di Pangkep, Sulawesi.

Dia menyebutkan, perseroan tidak terlalu terganggu dengan masalah perizinan lahan tersebut, karena industri marmer tergolong kecil. Menurut dia, umumnya Dirjen Pertambangan ESDM dan Kementerian Kehutanan memberikan lahan non produktif. “Sementara itu, melihat potensi lahan di Pangkep, secara konservatif lahan tersebut masih bisa dimanfaatkan selama 50 tahun kedepan. Tambang marmer itu umumnya berbentuk gunung, bukan fosil yang berada di perut bumi. Jadi , marmer tidak termasuk dalam mineral yang dilarang”, jelasnya.

Perseroan juga menyatakan telah merambah ke bisnis desain sehingga produk marmer yang dihasilkannya semakin diminati pasar dan mendatangkan laba yang lebih tinggi pada perseroan. Hal ini dikarenakan bisnis marmer saling berhubungan dengan desain interior. Sehingga perseroan menciptakan kreasi marmer seperti mozaik. “Masuknya perseroan ke ranah desain telah memberi kontribusi cukup besar pada penjualan marmer yang diproduksi perseroan. Desain berkontribusi sangat positif pada perseroan seiring perkembangan industri perumahan yang membutuhkan bentuk marmer bukan hanya untuk ubin, tapi juga untuk desain yang lain”, jelasnya.

Adapun untuk memenuhi kebutuhan desain tersebut, perseroan sendiri juga bekerja sama dengan arsitek-arsitek dari para pengembang perumahan dan juga mempersiapkan tenaga ahli sendiri. Selain itu, perseroan juga mempunyai mesin-mesin yang mendukung untuk membuat desain tersebut.

Dalam laporannya, hingga saat ini perseroan telah menghabiskan dana belanja modal atau (capital expenditure/capex) sebesar US$500 ribu. Komposisinya sebanyak 60% digunakan untuk tambang, serta sisanya 40% untuk pabrik yaitu pengadaan mesin. Sementara, pada tahun 2014 mendatang, sekitar US$500 ribu akan disiapkan untuk capex. Rencananya, perseroan akan menggunakan sepertiganya untuk produksi dan sisanya sekitar US$350 ribu untuk tambang.

Berdasarkan kinerja perseroan, hingga periode September 2013 telah berhasi membukukan target penjualan sebanyak 87% atau sekitar Rp180 miliar dari target Rp206 miliar. Sementara penjualan bersih meningkat 74% menjadi Rp180,68 miliar.

Penjualan domestik masih mendominasi total penjualan, yaitu sebesar Rp152,02 miliar atau mendominasi 84% dan sisanya, Rp28,66 miliar dari ekspor. Pesanan blok, slab ataupun marmer selama 2013 totalnya sebesar US$15,3 juta dengan negara tujuan ekspor adalah Cina, Korea Selatan, dan Malaysia.

Related posts