Kenaikan BI Rate Untungkan Bank Asing - “Bom Waktu” Bagi Ekonomi

NERACA

Jakarta - Rektor Kwik Kian Gie School of Business, Anthony Budiawan, menegaskan bila kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate menguntungkan perbankan asing. Pasalnya, kebijakan ini membuat bank asing leluasa mengoptimalkan dana menganggur mereka atau undisbursed loan untuk ditempatkan di surat obligasi.

"(Kenaikan BI Rate) Ini membuat bank asing lebih mengoptimalkan dana nganggur-nya. Dana berlebih mereka (bank asing) tentu akan berpindah dan ditempatkan di Surat Utang Negara (SUN), dan tidak ditempatkan di saham lagi. Karena bunganya yang tinggi. Artinya, sekarang keadaannya berbalik,” jelas Anthony kepada Neraca, Minggu (17/11) pekan lalu.

Dia mengkritisi kebijakan bank sentral alasan BI Rate naik tujuannya untuk menekan current account deficit (CAD) yang semakin membengkak. Menurut dia kebijakan itu merupakan kebijakan yang salah arah. “BI Rate mau dinaikkan berapa pun, tidak akan meredam kondisi ini. Bahkan, kenaikan BI Rate akan mempercepat keterpurukan ekonomi Indonesia. Saya mendesak BI untuk menghentikan menaikkan BI Rate ke depan,” tegasnya.

Menurut Anthony, jangan hanya suku bunga yang dijalankan, bank sentral seharusnya melakukan stimulasi ekonomi, misalnya dengan memasuki sektor riil. Dia juga menilai, kondisi ekonomi seperti saat ini memang belum bisa diperbaiki dalam waktu cepat, apalagi hanya mengandalkan instrumen BI Rate. “Kalau begini, pasti perusahaan akan kena imbasnya dua kali. Pertama, investasi mereka akan berkurang. Kedua, pendanaan untuk operasional semakin meningkat,” terang dia.

Walaupun BI Rate dinaikkan kembali, misalnya 50 basis poin (bps), menurut dia tidak akan berubah kondisi ekonomi menjadi lebih baik. “Justru itu menjadi bom waktu untuk ekonomi nasional,” jelas Anthony, seraya kecewa.

Kebijakan Tak Kreatif

Senada, di tempat terpisah, Ketua Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menegaskan kebijakan bank sentral menaikkan BI Rate sebagai aksi ketakutan BI. Pasalnya, defisit neraca perdagangan belum terlihat mengalami perbaikan. Seharusnya, BI bisa lebih kreatif dibanding menaikkan BI Rate terus-menerus.

“Sudah cukup. BI Rate naik sudah batas yang paling tinggi. Kalau ditambah lagi bisa ambruk sektor riil kita. Sektor industri paling terasa karena makin kesulitan likuiditas,” ungkap Telisa, dalam diskusi Bauran Kebijakan Makroekonomi Indonesia Menghadapai Gejolak Ekonomi Global di UI Salemba, Jakarta, Sabtu.

Dia menilai, BI terlalu ketakutan mengahadapi defisit transaksi berjalan dalam negeri yang belum terlihat membaik. Padahal BI tidak bisa serta merta menaikan BI Rate saat ini. Meskipun secara teori untuk menekan laju defisit, ya, cara ampuhnya dengan menaikkan BI Rate.

“Kebijakan Gubernur BI sekarang (Agus DW Martowardojo) terlalu tidak kreatif. Karena sebentar-sebentar BI Rate dinaikkan. Padahal, era Pak Darmin (Nasution, mantan Gubernur BI) tidak seperti itu. Dan hasilnya baik-baik saja,” kata Telisa.

Dia pun mengkhawatirkan dengan beratnya persaingan likuiditas pada akhirnya jumlah pengangguran akan meningkat. Pasalnya, industri sektor riil juga akan mengalami kesulitan dalam pendanaan produktivitasnya sehingga perusahaan akan mengalami kerugian. “Akhirnya untuk mempertahankan perusahaan maka diperlukan langkah PHK (Putusan Hubungan Kerja),” tambahnya.

Dari sisi fiskal, Telisa juga menyayangkan jika peran Pemerintah tidak terlihat. Selama ini kebijakan yang diberikan hanya melalui insentif saja. Sedangkan pembangunan infrastruktur yang dapat mempermudah dan mempermurah biaya produksi tidak pernah dilakukan. Padahal indsutri sendiri sebetulnya lebih berharap adanya infrastruktur yang memadai ketimbang pemberian insentif.

“Pelaku usaha di sektor riil sebetulnya menharapkan infastruktur yang memadai ketimbang insentif. Nah, Pemerintah secara fiskal sendiri juga memang belum terlihat langkahnya. Jadi bisa dimaklumi juga ketakutan BI sehingga terus menaikan BI Rate,” tutur Telisa.

BI Rate didorong naik

Sementara Chief Economist Standard Chartered Bank, Fauzy Ichsan dan Head of Global Market HSBC, Ali Setiawan, sama-sama mendukung kenaikan BI Rate sebagai kebijakan positif. Bahkan mereka berani memprediksi bahwa pada semester I 2014, BI Rate akan mengalami peningkatan sekitar 50 bps.

Menurut mereka, naiknya BI Rate bertujuan untuk mengantisipasi keluarnya aliran modal dari Indonesia atau capital outflow ketika kebijakan tapering off dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Selain itu, kenaikkan ini dilakukan lantaran kondisinya sangat mendesak, yaitu menekan defisit neraca transaksi berjalan serta konsumsi masyarakat yang tinggi.

“Keputusan naiknya BI Rate memang pahit. Namun langkah ini memang harus diambil mengingat Indonesia masih terus mengalami defisit neraca transaksi berjalan yang sifatnya struktural. Sementara harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia masih mengalami tekanan, karena 60% dari ekspor Indonesia adalah komoditas,” ungkap Fauzi dan Ali, kala di wawancara terpisah di acara Bankers Dinner, pekan lalu.

Kenaikkan BI Rate dinilai dapat membantu menekan kebutuhan domestik yang tinggi, hingga akhirnya diharapkan bisa menekan laju pertumbuhan kredit perbankan dan nantinya bisa menekan laju impor. [lulus/sylke]

Related posts