Sains Ujung Tombak Kemajuan Bangsa

NERACA

Tak berlebihan kiranya apabila pendidikan sains disebut sebagai salah satu pilar terpenting dalam dunia pendidikan. Pasalnya, kemajuan di bidang sains diyakini merupakan salah satu faktor pendukung majunya suatu negara. Hal ini dibuktikan dengan kemajuan bidang sains yang berkembang sangat pesat di negara-negara maju di berbagai belahan dunia.

Berbagai penelitian dan penemuan baru di bidang sains pun didedikasikan demi peningkatan kualitas hidup negara-negara tersebut. Seperti penerapan penelitian seorang ilmuwan inspiratif penemu teori plant resurrectionyang berasal dari Afrika Selatan, Professor Jill Farrant dalam mengubah wajah ekonomi di beberapa wilayah Afrika.

Dalam penelitiannya, Prof. Farrant ini memungkinkan produksi tanaman pertanian yang dapat bertahan hidup dalam suasana kekeringan seperti tanaman yang hidup kembali. Alhasil, penelitiannya dapat mengubah pola penanganan kelaparan dan ketahanan pangan di negara yang sering dilanda kekeringan ekstrim yang mengakibatkan tragedi kelaparan berkepanjangan ini.

Di Indonesia, penelitian Prof. Jill Farrant dapat memberikan solusi bagi daerah-daerah yang terkenal kering, seperti propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan hanya empat bulan hujan dalam setahun, pemerintah memperkirakan 80% dari 4,5 juta orang mengandalkan tanah yang berbatu dan tidak subur untuk bertahan hidup, karena sangat sedikit industri lain yang dapat menjadi mata pencaharian. Karenanya, ketersediaan pangan selalu menjadi masalah.

“Memahami mekanisme sel bertoleransi terhadap kekeringan dalam kelompok tumbuhan yang unik ini memungkinkan perbaikan molekular dari toleransi kekeringan pada tanaman pertanian,” kata Prof. Farrant dalam kuliah umum yang diikuti oleh lebih dari 300 mahasiswa di Universitas Indonesia belum lama ini.

Ya, di samping sebagai ujung tombak untuk meningkatkan dan memajukan sebuah bangsa, sains juga merupakan kunci untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi dunia saat ini. Oleh karena itu, dengan begitu banyaknya tantangan, dunia sains memerlukan lebih banyak lagi sumber daya.

Untuk mencapai tahap dimana sains menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, belum lama ini Universitas Indonesia (UI) mengadakan seminar “Sciencepiration”. Sebuah seminar untuk menginspirasi generasi muda Indonesia agar mengejar ilmu pengetahuan dan menjadikan penelitian sebagai karir masa depan mereka.

Dalam perhelatan tersebut, beberapa orang perempuan peneliti Indonesia memberikan inspirasi kepada generasi muda Indonesia tentang pentingnya penelitian di bidang sains bagi mereka secara pribadi.

Sebut saja Ines Atmosukarto PhD. Perempuan yang sering dianggap sebagai pelopor oleh rekan L’Oreal-UNESCO For Women in Science ini berujar, ketika dirinya menerima beasiswa dari Universitas Adelaide, dia memutuskan untuk mengambil Molecular Biology sebagai bidang jurusan karena bidang tersebut jarang diteliti di Indonesia. “Saya hanya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa orang Indonesia juga memiliki kompetensi sama dengan mahasiswa internasional lainnya,” kata dia.

Aspirasi Ines Atmosukarto telah menjadi kenyataan karena saat ini ia menjabat sebagai Chief Scientific Officer (CSO) di Lipotek Pty.Ltd – sebuah perusahaan Biotech di Australia.

“Kami berharap bahwa berbagi kisah dalam seminar “Sciencepiration” ini dapat memberikan inspirasi yang diperlukan generasi muda Indonesia untuk mengejar ilmu pengetahuan dan penelitian sebagai karir masa depan mereka”, jelas Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (KNIU) Prof Arief Rachman.

Related posts