BUMI Akui Penyelesaian Transaksi CIC Rumit

NERACA

Jakarta- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengakui penyelesaian transaksi dengan pihak PT China Investment Corporation Ltd (CIC) merupakan hal yang rumit. Tidak heran jika hal ini menimbulkan spekulasi hingga penurunan peringkat perseroan oleh dua lembaga pemeringkat, S&P dan Moody’s pada Oktober lalu. “Rumitnya transaksi tersebut tidak memungkinkan kami menjelaskan secara rinci. Kami percaya analisis mereka terlalu dini dan subyektif. Sehingga dapat menyesatkan investor kami terutama para pemegang obligasi.” kata pihak manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Pihak manajemen meyakini perjanjian baru dengan PT China Investment Corporation Ltd (CIC) adalah langkah proaktif untuk menekan utang, sekaligus meningkatkan likuiditas perseroan. Disebutkan, di awal transaksinya dengan CIC, total utang tercatat US$1,9 miliar dengan tingkat bunga tetap 12% p.a. dan 19% IRR Payable on Principle Repayment Date. Dari total utang tersebut, pada bulan November 2011 BUMI telah melakukan refinancing tahap I sebesar US$600 juta kepada CIC yang sebenarnya baru akan jatuh tempo pada 30 September 2013.

Dengan begitu perseroan telah melakukan refinancing 2 tahun lebih awal berdasarkan kesepakatan para pihak. Selain itu, pihak manajemen menilai refinancing ini telah mengurangi beban bunga perseroan secara efektif kurang lebih US$72 juta per tahun. Perhitungannya, biaya refinancing sebesar Libor + 6,7% pa vs. 12% coupon + IRR.

Selanjutnya, dalam perjanjian baru disepakati, pelunasannya akan dilakukan dengan mengkonversikan nilai utang menjadi saham. Skema tersebut yaitu untuk 42% saham milik perseroan di PT Bumi Resources Minerals (BRMS) sebesar US$257 juta atau Rp268 per saham, dan 19% kepemilikan saham perseroan di PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar US$950 juta. Selain itu perseroan juga akan mengeluarkan saham baru (rights issue) senilai US$150 juta.

Dengan begitu, penerimaan CIC adalah sebesar US$1.357 juta dari yang seharusnya diterima CIC untuk pembayaran utang pokok plus beban bunga (Agustus-November 2013) sebesar US$1.787 juta. Sehingga sisa utang yang dicatatkan sebesar US$430 juta. Tidak hanya menekan utang, pihak manajemen juga optimistis, produksi, penjualan dan pendapatan perseroan sejauh ini masih tetap tokoh. Pasalnya, saat ini perseroan memiliki cadangan batu bara mencapai 3,3 miliar metrik ton atau meningkat 27% dari 2,6 miliar metrik ton pada tahun 2009 lalu.

Cadangan tersebut mayoritas berasal dari anak usaha seperti KPC hingga 1,3 miliar metrik ton dan Arutmin mencapai 410 juta metrik ton. Perseroan juga memiliki 13,9 miliar matrik ton sumber daya batu bara. Sebab masih terdapat potensi yang sangat besar untuk mengembangkan cadangan. Terlebih, tambang KPC masih melakukan eksplorasi sebagian.

Pihaknya mencatat, penjualan batu bara perseroan di tahun 2012 untuk pasar China mencapai 27%, pasar India 20%, pasar lokal 16%, pasar Jepang 17%, dan pasar Asia Tenggara 11%. Selain itu, biaya kas produksi perseroan tercatat menurun sebesar 11,4 % karena efisiensi yang lebih tinggi, harga bahan bakar yang lebih rendah sebesar 24%. Hal ini ditengarai penurunan rasio pengupasan sebesar 19,2% dari tahun ke tahun. (lia)

Related posts