BKPM Klaim Terealisasi di Kalimantan dan Papua - Investasi China

NERACA

Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengklaim bila sejumlah investasi dari China yang masuk pada tahun ini telah terealisasi. Sebagian besar investasi asal Negeri Tirai Bambu tersebut terserap ke wilayah Kalimantan Barat dan Papua. Alasan terpilihnya kedua provinsi ini lantaran China tengah konsentrasi membangun industri, terutama bauksit.

“Saya kurang tahu persis angkanya. Tapi sebagian besar investasi China yang masuk ke Indonesia sudah terealisasi. Karena mereka sedang giat membangun industri untuk memproduksi bahan-bahan konstruksi,” ungkap Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis, kepada Neraca, Sabtu (16/11) pekan lalu.

Selain itu, lanjut dia, alasan lain mengapa China berinvestasi di Kalimantan Barat dan Papua, karena kedua itu memiliki sumberdaya alam yang sesuai serta untuk mensuplai kebutuhan industri bauksit. Adapun beberapa perusahaan China yang berinvestasi di sana, antara lain, Oriental Mining & Minerals Resources Co. Ltd., Beijing Shuang Zhong Li Investment Management Co. Ltd., dan Rui Tong Investment Co. Ltd.

“Yang paling utama dibutuhkan bauksit. Sumber pendukungnya juga ada, seperti semen, baja, besi, dan juga alumunium. Intinya, mereka (China) memang sedang gencar-gencarnya ingin memproduksi bahan-bahan untuk membangun konstruksi,” tambah Azhar.

Lebih lanjut dirinya memaparkan, hingga triwulan III 2013, total investasi China yang masuk ke Indonesia sekitar US$233 juta, yang diperuntukkan bagi 309 proyek yang telah direncanakan. Secara rinci, investasi itu berasal dari triwulan pertama senilai US$60,2 juta, triwulan kedua US$113,7 juta serta triwulan ketiga sebesar US$59,1 juta.

Tidak taat perjanjian

Perlu diketahui sebelumnya, pada 2012, China pernah berkomitem untuk menanam investasi senilai US$9,5 juta. Namun begitu, kata Azhar, sejumlah investasi yang ditanam pada tahun ini justru bukan bagian dari komitmen tersebut. “Jika ada, paling hanya sebagian kecil saja,” tambahnya.

Untuk itu Azhar menjelaskan, Indonesia sejatinya tidak bisa berharap melalui perjanjian kerja sama (memorandum of understanding/MoU). Sebab, hal tersebut secara nyata belum tentu jelas kepastiannya. Karena China sendiri kerap membuat MoU dengan beberapa negara, termasuk India, namun yang hingga kini belum terealisasi juga hasilnya. “Jangan terlalu berharap kalau cuma MoU. Itu tidak jelas, jadi atau tidaknya. Dan seandainya jadi pun realisasinya paling tiga atau empat tahun setelah MoU ditandangani,” jelas Azhar,s eraya mengeluh. [lulus]

Related posts