Industri Otomotif Jadi Prioritas Pemerintah - Bendung Produk Impor Banjiri Pasar Lokal

NERACA

Jakarta - Era perdagangan bebas negara anggota ASEAN dan beberapa negara di Asia Timur, sebentar lagi akan bergulir. Untuk itu, pemerintah dituntut untuk segera melakukan berbagai macam terobosan di dalam industri nasional. Sebagai upaya mengantisipasinya industri otomotif Indonesia dituntut melakukan inovasi dalam menciptakan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan pasar baik domestik maupun ekspor.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tingg (IUBTT), Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi mengungkapkan kalau saat ini, pemerintah menempatkan industri otomotif sebagai industri yang diprioritaskan pengembangannya.

"Apabila kita tidak memenuhi permintaan masyarakat dengan produk otomotif dari dalam negeri, maka pasar dalam negeri akan dibanjiri dengan produk impor dan sebaliknya, peluang pasar bebas harus dapat kita manfaatkan agar produk otomotif yang dibuat di dalam negeri mampu diekspor," jelas Budi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut Dirjen IUBTT ini, menjelaskan pihaknya telah menjalankan program pengembangan industri otomotif secara simultan. Seperti, program kendaraan angkutan umum murah pengembangan kendaraan angkutan umum telah dilaksanakan 10 tahun lalu melalui kebijakan pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) sebesar 0% untuk kendaraan angkutan komersial seperti pick up, truck dan bus komersial.

"Program angkutan umum murah (angkutan pedesaan) yang dicanangkan sejak tahun 2010 adalah untuk membuat platform kendaraan angkutan umum (pick up) yang dapat dikonversi menjadi mobil penumpang dan program ini sesuai dengan arahan Presiden yang tertuang dalam PERPRES No. 15 tahun 2010 yaitu pada Klaster IV Program Pro Rakyat, antara lain program kendaraan angkutan umum murah," jelas Budi.

Angkutan Murah

Tidak hanya itu, sambung Budi, di dalam program kendaraan angkutan murah ini Kementerian Perindustrian bersama BPP Teknologi mendesain prototipe platform dan komponennya. Sejak tahun 2011 telah dilakukan kegiatan brainstorming, survey kebutuhan dan spesifikasi kendaraan serta pengembangan beberapa prototipe.

"Peralatan software kepada BPPT untuk pengembangan desain kendaraan umum angkutan umum murah berupa Casting Simulation & Analysis Software, Stamping Process Simulation & Analysis Software, Progressive 3D Die Design Software for Solidworks, Progressive Die Design Software, Structural Mechanics Analysis Software, Manufacturing Process Management Software, Simulation Driven Automotive Design (with Optimization) Software, Product Design With Structural/Fatigue/Kinematics Analysis Software, dan Heat Treatment Simulation & Analysis Software,"paparnya.

Menurut Budi, peralatan hardware kepada BPPT untuk mendukung pengembangan kendaraan angkutan umum murah di BPP Teknologi (Spectrometer, Alumunium Tilting Crucible, Laddle Transport and Preheating Unit, Degesser Unit, Bandsaw Machine, Heat Treatment, NOX-Analyser, Hydrocarbon Analyser, Exhaust Gas Analyser, Vibration Analyser, Digital Three Points Internal Micrometer, Ultrasonic Thickness Gauge, Material Identification, Video Digital Microscope).

"Saat ini program tersebut masih terus berjalan berupa bantuan peralatan dan uji coba untuk pengembangan beberapa merek lokal antara lain Tawon, Gea, dan VIAR. Diperlukan pelaku usaha yang tangguh dan sumber daya manusia (SDM) yang handal agar dapat mentransfer desain dan know how ini menjadi produk mobil komersial,"imbuhnya.

Selanjutnya, ujar Budi, yang diperlukan adalah tumbuhnya industri komponen otomotif dan bahan baku baja, plastik, dan karet, serta dukungan finansial Lembaga Keuangan agar komersialisasi mobil angkutan umum murah ini dapat terwujud.

Fasilitas PPnBM 0% yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.41 tahun 2013 berlaku untuk seluruh kendaraan selain sedan atau station wagon sehingga PP ini dapat dipakai untuk mendukung program kendaraan angkutan umum murah pedesaan.

Program mobil penumpang hemat energi dan harga terjangkau buatan dalam negeri Program pengembangan produksi mobil penumpang hemat energi dan harga terjangkau buatan dalam negeri atau yang lebih populer disebut Low Cost and Green Car ditujukan agar mampu “survival” dan memenangkan persaingan industri otomotif.

Aktivitas Program ini dimulai sejak 4 tahun yang lalu dengan mengadakan pendekatan ke investor, pemilik hak cipta merek (Principal), lembaga riset (R&D), industri komponen, regulator, dan lain-lain. Program ini telah membuahkan hasil dengan masuknya investasi baru pada 5 (lima) industri mobil dan sekitar 100 industri komponen otomotif, serta industri bahan baku baja dan plastik.

Industri komponen yang terbentuk akan dapat menunjang program lain yang simultan sedang dijalankan antara lain program angkutan umum murah (angkutan pedesaan), program manufaktur mobil dengan merek orisinal domestik, dan lain-lain.

Program Low Carbon Emission bagi mobil buatan dalam negeri untuk semua kapasitas mesin Internal Combustion Engine (ICE) termasuk didalamnya yang mengadopsi teknologi hybrid, converter kit BBG, dan lain-lain. Program ini untuk mendorong produksi mobil yang hemat BBM dan lebih bersih emisi gas buang.

Related posts