Target Produksi Minyak Tidak Tercapai

NERACA

Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas memperkirakan target produksi minyak sebanyak 840.000 barel pada tahun ini tidak tercapai, namun target pendapatan negara dipastikan terpenuhi. Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro mengatakan realisasi produksi minyak hingga akhir 2013 diperkirakan berkisar 825.000 hingga 827.000 barel. “Memang ada sedikit penurunan peformance yang mempengaruhi produksi minyak tahun ini, tetapi turunnya hanya sekitar 1%,” katanya, Jumat (15/11).

Kendati terjadi penurunan produksi, Elan Biantoro memastikan target pendapatan negara dari sektor minyak yang tahun ini ditetapkan sekitar US$27 miliar optimistis bisa terpenuhi. “Hingga semester pertama tahun ini, lebih dari 50% target penerimaan negara dari minyak sudah tercapai. Saya perkirakan hingga akhir tahun target bisa dikejar, bahkan kemungkinan bisa lebih,” tambah Elan.

Menurut dia, naiknya nilai kurs dolar terhadap rupiah yang selama beberapa bulan terakhir berada di atas Rp10.000 per dolar, berdampak positif terhadap penerimaan dari sektor minyak. Produksi minyak terbesar masih disumbangkan dari wilayah Riau melalui perusahaan Cevron-nya yang mencapai sekitar 40% dari total produksi nasional. Sedangkan sisanya berasal dari produksi minyak di sejumlah daerah, seperti Sumatera Selatan dan Jawa Timur.

Elan Biantoro menambahkan upaya eksplorasi dan pengembangan sumur minyak baru di sejumlah wilayah kerja terus dilakukan untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri yang pada 2014 diharapkan bisa mencapai satu juta barel. Anggaran SKK migas Sementara itu, mengenai anggaran SKK Migas pada 2014, Elan Biantoro mengungkapkan hingga kini masalah anggaran itu masih dibahas oleh pemerintah dan belum diputuskan angkanya. “Mudah-mudahan segera ada keputusan, tetapi yang jelas anggaran SKK Migas dalam APBN 2014 belum dimasukkan. Kami secara intensif juga terus melakukan pembicaraan dengan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan,” tambahnya.

Sebagai lembaga sementara yang dibentuk pemerintah untuk melaksanakan kegiatan hulu migas, lanjut Elan, SKK Migas sangat menyadari jika pemerintah belum mengalokasikan anggaran operasional dalam APBN 2014. “Undang-undang mengenai lembaga pelaksana kegiatan hulu migas sedang disusun dan belum selesai, sehingga sementara ini ditangani SKK Migas. Saya belum tahu apakah nanti definitinya berbentuk lembaga negara atau BUMN,” ujarnya.

Ia menambahkan kepastian anggaran SKK Migas sangat diperlukan untuk menjalankan operasional kegiatan hulu migas dan mengawal penerimaan negara dari sektor migas. Pada tahun 2013, SKK Migas mendapatkan alokasi anggaran sekitar Rp1,6 triliun untuk kegiatan operasional lembaga tersebut.

Permasalahan Klasik

Menurut pengamat energi, Komaidi Notonegoro mengatakan, berbagai permasalahan klasik seperti perizinan dan pembebasan lahan masih menghambat pencapaian target produksi minyak. Karena itu, ia pesimistis pemerintah mampu memecahkan berbagai persoalan tersebut pada 2014. "Dengan kondisi pemerintah seperti ini, saya tidak yakin," kata Komaidi.

Di tambah lagi, lanjut Komaidi, kasus penyuapan mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini juga sedikit banyak akan mempengaruhi target lifting minyak RAPBN 2014 sebesar 870.000 barel per hari. "Apalagi kalau kasus tersebut meluas hingga ke level menteri," kata dia.

Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ), Salamuddin Daeng, memberikan catatan bahwa salah satu penyebab utama semakin terpuruknya perekonomian nasional, khususnya merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika adalah karena impor minyak yang kian makin menggila. “Data World Bank 2013, menyebutkan sejak pertengahan tahun 2012, sebagian besar penurunan datang atas pelebaran defisit minyak, yang mencapai nilai tertinggi yakni sebesar US$23 miliar,” ujar Daeng.

Yang membuat prihatin menurut Daeng, adalah di Indonesia konsesi kian meluas, tetapi hasilnya malah tidak terlihat. “Ibaratnya bagaikan lubang tikus ditengah sawah, mencapai puluhan ribu sumur migas. Namun produksi merosot, tikus-tikus jelas menggerogoti produksi minyak nasional,” tegasnya.

Akibatnya jelas bahwa, impor migas akan terus membesar dalam tahun 2013. Artinya dengan demikian defisit perdagangan akan melebar, nilai rupiah akan terus merosot, bahan baku industri nasional 70% dari total impor meningkat, industri bangkrut dan inflasi menggila.

“Ada pihak yang menikmati untung besar dari IMPOR, yakni elite penguasa. Menurut Sumber Dari BIN, Jumlah Pembelian BBM dan Crude Oil Melalui Petral Sebesar kurang-lebih Rp.33 Triliun, Per Bulan. Dengan Keuntungan 12 Triliun Masuk ke Kas Petral Dan Dibagi-bagi dan Rp4 Triliun sisanya dibagi-bagi,” pungkasnya.

Related posts