Kemendag Prediksi Impor 2014 Masih Tinggi - Dampak Realisasi Investasi

NERACA

Jakarta – Indonesia masih tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap barang-barang impor. Hal tersebut yang masih menyelimuti neraca perdagangan pada 2014 di mana impor masih cukup tinggi. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bayu memperkirakan nilai impor pada 2014 akan masih sama seperti tahun ini. Hal itu didorong dari impor barang modal dan impor bahan baku penolong yang mana disebabkan realisasi investasi kurun waktu 2012-2013 seperti pembangunan pabrik dan lain-lain yang masih berjalan hingga tahun depan.

“Impor kita tahun 2014 masih akan kuat dan masih akan sama yaitu barang modal dan bahan baku penolong, karena pembangunan pabrik dan segala macam kegiatan riil dari investasi tersebut masih berlangsung selama 18-24 bulan kedepan,” ujar dia.

Bayu menjelaskan implementasi dari investasi tersebut akan membuat tekanan yang cukup tinggi terhadap impor sehingga mau tidak mau harus dilakukan. “Kita bisa bayangkan tekanan terhadap impor untuk mesin, bahan baku, bahan penolong masih akan tinggi juga,” lanjutnya.

Namun begitu, Bayu menegaskan bahwa Indonesia harus bersiap akan hal tersebut karena negara ini masih menjadi magnet bagi investor untuk menanamkan modalnya. Indonesia dikatakan harus menata ulang mengingat posisi ekonomi diprediksi masih relatif lebih lambat dari harapan pada tahun depan, seperti tekanan pada neraca perdagangan maupun pembayaran.

Meskipun begitu, Bayu juga meyakini bahwa dengan masuknya banyak investor ini akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin kuat. “Pada tahun 2015, yang sekarang investasi, ini akan mulai produksi dan sebagian ada yang melakukan ekspor. Kita bisa bayangkan, dengan pemulihan ekonomi, maka pertumbuhan Indonesia akan sangat mungkin jauh lebih besar dari sekarang,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan bahwa industri nasional akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku pada 2014. Setidaknya, dibutuhkan waktu dua tahun untuk memperkuat struktur industri di dalam negeri. “Fokus saya adalah memperkuat struktur industri. Saya berharap, pada 2014, kita sudah bisa menekan ketergantungan impor,” urai Hidayat.

Menurut Hidayat, hampir 50% kebutuhan barang modal dan bahan baku industri di dalam negeri masih didatangkan melalui diimpor. Padahal idealnya, kebutuhan itu harus dipenuhi di dalam negeri. Untuk mendorong pemenuhan bahan baku di dalam negeri, menurut Hidayat, diperlukan berbagai insentif fiskal agar pelaku usaha berminat menginvestasikan dananya. Pemenuhan insentif tersebut telah disadari oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan diharapkan dapat mendorong pengembangan industri bahan baku di dalam negeri.

Di sisi lain, dia mengakui, ketergantungan impor barang modal dan bahan baku yang tinggi juga menjadi salah satu kelemahan struktur perdagangan nasional. Importasi barang modal dan bahan baku yang tinggi menjadi salah satu penyebab defisit perdagangan yang semakin bertambah. Untuk itu, pemerintah akan terus memperkuat pembangunan industri dasar di dalam negeri, terutama sektor petrokimia dan logam dasar.

Data Badan Pusat Statistik yang dirilis 1 November 2013 menunjukkan, total impor Indonesia pada September 2013 sebesar US$15,46 miliar. Jumlah itu sebagian besar berupa bahan baku atau bahan penolong, yakni US$11,58 miliar. Sisanya berupa barang modal US$2,79 miliar dan barang konsumsi US$1,08 miliar.

Sementara selama Januari- September 2013, total impor Indonesia mencapai US$140,306 miliar. Sekitar 76,1% berupa bahan baku atau bahan penolong. Adapun sisanya, sekitar 16,92% berupa barang modal dan 6,98% berupa barang konsumsi.

Impor barang konsumsi pada kurun waktu Januari-September 2013 mencapai US$9,793 miliar, turun tipis dibandingkan Januari-September 2012 yang sebesar US$9,989 miliar. Secara bulanan, impor barang konsumsi pada September 2013 mencapai US$1,088 miliar, lebih tinggi dibandingkan Agustus 2013 yang sebesar US$907 juta.

Ketidakpastian

Impor yang masih tinggi diduga akibat investor masih memandang Indonesia sebagai pasar yang prospektif sehingga terus menggenjot produksi. Namun, ada juga dugaan lain, yakni investor sengaja mengimpor saat ini agar terhindar dari ketidakpastian politik pada tahun Pemilu 2014.

Menurut ekonom Standard Chartered Indonesia, Eric Sugandi, langkah investor mengimpor barang menunjukkan kebijakan Bank Indonesia belum cukup mengerem konsumsi masyarakat. Akibatnya, impor barang konsumsi masih tinggi. “Investor juga masih mengimpor barang modal dan bahan baku untuk produksi,” kata Eric.

Daya tarik Indonesia berupa populasi besar dan kelas menengah yang bertambah banyak membuat industri menempatkan Indonesia sebagai pasar. Maka, investor di Indonesia pun menghasilkan produk untuk dijual di Indonesia. Akan tetapi, bahan baku dan barang modalnya banyak diimpor.

Di sisi lain, Pemilu 2014 memberikan ketidakpastian karena masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir dan harus diganti yang baru. Hal ini diduga berimbas pada ketidakpastian kondisi ekonomi, terutama akibat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Related posts