BCA Bakal Menahan Pertumbuhan Kredit di Tahun Depan - Kebijakan Bank Indonesia

NERACA

Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk mulai menyikapi kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mengimbau kepada perbankan untuk menekan laju pertumbuhan kredit sebesar 15% hingga 17% tahun 2014 mendatang. Menurut Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja, perseroan memang akan menekan pertumbuhan kredit 2014 sebesar 15%.

“Langkah penekanan ini dilakukan untuk meredam gejolak pasar yang mungkin bisa terjadi kembali tahun depan, makanya kredit akan coba kita kendalikan, tahun ini kita coba di angka 20% hingga 23%, tahun depan mungkin dikisaran 13,5% hingga 15%,” kata Jahja di Jakarta, akhir pekan lalu.

Meskipun pertumbuhan kredit dinilai tidak terlalu signifikan, Jahja mengungkapkan perseroan belum memiliki rencana untuk menaikkan suku bunga kredit, walaupun bank sentral telah menaikkan BI rate beberapa waktu lalu. Ini karena, likuiditas perseroan, masih cukup memadai. “Loan to deposit ratio (LDR) masih bisa bertahan di kisaran 76%, jadi ya sementara belum ada niatan untuk menaikkan suku bunga,” imbuh dia.

Selain itu, Jahja menilai, keputusan BI, dengan menaikkan suku bunga acuan, tidak akan berdampak langsung kepada masyarakat. “Namun ini hanya sebagai tanda jika ekonomi Indonesia saat ini membutuhkan istirahat sejenak, jadi, BI Rate nggak impact langsung, tapi signal bahwa memang pengetatan likuiditas itu akan terjadi yang penting signal itu kan. LDR akan tetap mengacu ke 76% sampai 77%,” tutur dia.

Sebelumnya, per September 2013, BCA juga mencatat marjin bunga bersih (NIM) naik sebesar 62 bps dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya menjadi 6%. Pendapatan operasional lainnya tumbuh 19,7% menjadi Rp5,4 triliun yang didukung kenaikan pendapatan provisi dan komisi sebesar 18,0%.

Selain itu, perseroan mengakui tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dimana hal tersebut memungkinkan perseroan membukukan pertumbuhan kredit yang berkualitas. Rasio kredit bermasalah (NPL) secara gross tercatat pada level 0,5% dan rasio cadangan terhadap kredit bermasalah sebesar 378,4%.

“Kualitas aset di setiap segmen tetap terjaga sehingga periode kuartal ketiga, dengan membukukan CAR 15,8%. selain itu, posisi secondary reserves tercatat Rp62 triliun atau lebih tinggi dari posisi Juni 2013”, kata Jahja.

Kemudian untuk kredit di semua segmen tumbuh 25,8% menjadi Rp299 triliun hingga September 2013 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp237,7 triliun. Rasio dana pihak ketiga (LDR) meningkat 73,9% dari 65,7% pada periode September 2013.

Kredit konsumer juga mengalami kenaikan 30,1% menjadi Rp85,1 triliun yang ditopang oleh kinerja kredit pemilikan rumah (KPR).“Perseroan optimis di tengah berbagai tantangan ekonomi yang berlangsung saat ini, prospek perbankan Indonesia tetap menjanjikan,”kata Jahja. [sylke]

Related posts