Bersahabat dengan Stres

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Balitbangkes, Kemenkes RI

Hari Kesehatan Nasional ke 48 diperingati pada 12 November lalu. Tema yang diangkat kali ini adalah Indonesia "Cinta Sehat". Salah satu yang diingatkan Menteri Kesehatan adalah tentang pentingnya pencegahan penyakit tidak menular yang semakin meningkat. Perubahan lifestyle ke arah yang berisiko bisa menyebabkan timbulnya penyakit menyeramkan dan memiskinkan seperti kanker, jantung koroner, diabetes, ginjal dan sebagainya.

Penyakit itu sebenarnya dapat dicegah dnegan gaya hidup sehat, pola makan gizi seimbang, olahraga teratur, tidak merokok ataupun mengonsumsi alkohol, berperilaku seksual yang bertanggungjawab serta mengendalikan stres.

Untuk masyarakat kota seperti Jakarta, mengendalikan stress jadi tantangan tersendiri. Bagi masyarakat urban pemicu stres bisa dari mana saja. Termasuk jalanan. Lihat saja kemacetan Jakarta beberapa hari terakhir luar biasa. Ditambah dengan musim penghujan yang mulai menampakan diri. Satu kali perjalanan dari pinggir Jakarta ke pusat kota bisa ditempuh 2,5-4 jam. Berarti, sehari kurang lebih berada di perjalanan selama 5-7 jam. Kesal dan lelah menhadapinya. Nyaring klakson pun bersautan di jalan. Salah satu pertanda respon terhadap stres yang timbul.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa di daerah perkotaan, lama waktu di perjalanan yang lebih dari 6 jam setiap harinya bisa menimbulkan stress dan menurunnya kesehatan. Pada saat kita, sistem imunitas dan hormon seseorang akan terpengaruh dengan meningkatkan detak jantung, membakar energi yang tersimpan, meningkatkan aliran darah ke syaraf dan otot dan meningkatkan kewaspadaan untuk ddapat mengatasi stres yang timbul.

Pernahkah tangan anda merasa dingin atau pada sebagian orang merasa sakit perut saat mau menghadapi interview misalnya? Ini adalah bentuk respon tubuh terhadap stress akut. Stres yang berlangsung dalam waktu lama akan mudah menyebabkan depresi. Terlebih lagi jika kurang mendapat dukungan sosial, risiko penyakit kardiovaskular juga ikut menyertai. Lucunya tak sedikit yang berupaya meredam stres dengan kebiasaan buruk, merokok umpamanya.

Lalu apa yang bisa diperbuat? Berpikir lah positif. Penelitian menunjukkan mereka yang berpikiran positif, merasa bahagia dan antusias bisa mengurangi risiko penyakit jantung sebesar 22%. Strategi lainnya adalah identifikasi apa penyebab timbulnya stres dan buat cara untuk mengatasinya. Sebelum bereaksi terhadap stress, tenangkan pikiran sejenak dengan berjalan misalnya. Sebab aktifitas fisik bisa meningkatkan hormon endorphin sehingga bisa menstabilkan mood.

Perlu dibangun juga fitrah manusia sebagai makhluk sosial dengan memperkuat silaturahmi dan hubungan sosial. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin modern ini, kedekatan antar anggota masyarakat semakin menurun. Tetangga sebelah saja belum tentu tau wujud rupa apalagi namanya. Sanak saudara pun jarang berhubungan karena kesibukan sehari-hari. Padahal kedekatan dan dukungan sosial baik berupa dukungan emosional, fisik, dan informasi terbukti berpengaruh positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan.Mereka yang mempunyai kedekatan hubungan antar manusia terbukti bisa mengatasi stres dan penyakit dengan lebih baik. Tentu saja pilihlah hubungan yang membuat nyaman sesuai dengan keyakinan dan ekspektasi yang Anda inginkan.

Related posts