Sineas Muda Angkat Kehidupan Anak Rimba Ke Layar Lebar - Sekola Rimba

NERACA

Akhir-akhir ini para pemerhati pendidikan dan seluruh lapisan pemerintah sedang gencar-gencarnya memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Beragam upaya dan kebijakan yang dibuat pun tak lepas dari pro dan kontra.

Seperti diketahui, negara Indonesia sangat luas dan memiliki banyak penduduk yang tersebar di desa maupun di kota-kota besar. Hal ini membuat kesenjangan pendidikan makin nampak jelas di setiap mata yang melihat.

Sebut saja kota Jakarta yang memiliki segalanya dari sarana dan prasarana pendidikan, berbeda jauh dengan daerah-daerah terpencil seperti di pedalaman.

Jambi misalnya. Daerah ini kaya dengan alamnya, tetapi kekayaan itu tidaklah berguna dan bisa dimanfaatkan dengan baik jika sumber daya manusianya kurang baik. Sumber daya manusia dilihat dari tingkat pendidikan masyarakatnya, semua ini tak akan terus terjadi jika masyarakat pedalaman ini sadar akan pendidikan.

Beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat pedalaman tak berminat untuk mengenyam pendidikan adalah sarana dan prasarana sangat cukup minim. Tenaga pendidik di daerah-daerah, khususnya pedalaman pun terbilang sangat jauh dari yang diharapkan.

Kondisi ini cukup memprihatinkan, ditambah lagi dengan adanya pemahaman masyarakat yang menyatakan bahwa belajar baca tulis melanggar adat dan dapat menyebabkan malapetaka. Pada akhirnya, kondisi masyarakat pedalaman lambat laun akan tergerus oleh arus perubahan dan modernisasi.

Terkait hal tersebut, insan sineas muda mencoba menuangkan aspek-aspek menarik kehidupan orang rimba ke dalam film berdurasi 90 menit yang diadaptasi dari buku "Sokola Rimba."

Produser Mira Lesmana mengatakan bahwa pihaknya ingin menyampaikan suara anak-anak suku pedalaman Hutan Bukit Duabelas, Jambi, lewat film yang diadaptasi dari buku "Sokola Rimba."

"Ini adalah suara kecil dari pedalaman rimba di Jambi, semoga bisa terdengar luas," kata Mira sebelum pemutaran perdana film "Sokola Rimba" di Jakarta belum lama ini.

Kisah Butet Manurung, antropolog penerima penghargaan Time Asia Hero 2004, saat menjadi guru bagi anak-anak rimba dalam film itu memang tidak persis sama dengan cerita dalam buku "Sokola Rimba". Pasalnya, penulis skenario Riri Riza hanya menuangkan aspek-aspek menarik dalam buku ke dalam film berdurasi 90 menit tersebut dan menambahkan dramatisasi serta tokoh rekaan ke dalamnya.

Namun film yang akan mulai tayang pada 21 November 2013 itu, tetap mengusung isi inti buku "Sokola Rimba", tentang kepedulian Butet pada kaum marjinal yang terdesak arus perubahan dan modernisasi. Demi menghadirkan kisah yang otentik secara visual, Riri sengaja mengambil lokasi rimba dan mendapuk anak-anak rimba untuk berperan.

Dalam film itu, Butet (Prisia Nasution) mencoba mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat rimba, seperti baca tulis dan berhitung, agar mereka tidak tergilas oleh tekanan dunia luar. Ia bertemu dengan seorang anak bernama Nyungsang Bungo yang menunjukkan ketertarikan untuk belajar.

Bersama anak-anak lain seperti Beindah dan Nengkabau, Nyungsang Bungo melahap pelajaran dari Butet di sela kegiatan mereka di rimba. Upaya Butet tidak sepenuhnya mulus karena masih banyak kelompok rimba yang percaya bahwa belajar baca tulis melanggar adat dan dapat menyebabkan malapetaka.

Film itu juga menggambarkan kehidupan orang rimba yang belum banyak diketahui, seperti ritual memanjat pohon untuk mengambil madu.

Riri berharap film itu bisa membuka mata orang bahwa pendidikan di Indonesia tidak bisa disamaratakan di semua tempat.

"Indonesia itu kompleks, enggak bisa disamaratakan, pendidikan harus sama di antara orang desa, kota, atau rimba. Situasi film ini memperlihatkan hal itu," imbuh dia.

Related posts