Mandiri Dukung Kenaikan BI Rate - Diprediksi Bakal Naik Lagi

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 7,5% merupakan langkah yang positif untuk meminimalisir kemungkinan anjloknya ekonomi nasional seperti pada 1998 silam. Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, kenaikkan BI Rate bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit.

Selain itu, kebijakan menaikkan BI Rate ini juga dinilai Budi sebagai kebijakan moderat yang dilakukan oleb Bank Indonesia, ketimbang pada masa krisis ekonomi pada 2008 lalu. “Lima tahun lalu (2008), BI Rate dikerek hingga 12,75%. Kemudian kurs rupiah melemah sampai menembus Rp12.400 per dolar AS. Namun harus diingat, langkah ini ternyata tepat karena pada tahun 2010 perekonomian Indonesia bangkit kembali,” jelas Budi di Jakarta, Rabu (13/11).

Akan tetapi, Budi pun mengakui kalau kenaikan BI Rate berdampak ke perlambatan kinerja perbankan. Meski begitu, dirinya sangat mendukung kebijakan tersebut. “Memang (BI Rate naik) memperlambat kredit perbankan. Apapun itu, kita tetap mengatakan ke nasabah kita kalau kebijakan BI Rate adalah kebijakan yang benar," tegasnya.

Sementara untuk menindaklanjuti kenaikkan BI Rate ini, Budi meyakinkan kepada semua pihak bahwa Mandiri akan menaikkan suku bunga kreditnya. Terkait defisit neraca transaksi berjalan, pihaknya juga memastikan akan berhasil dibenahi dengan naiknya BI Rate. Sebab, Budi memprediksi bahwa kemungkinan BI Rate naik lagi di tahun depan, masih terbuka lebar.

Alih-alih ingin memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan serta menstabilkan nilai tukar rupiah, bank sentral justru malah menimbulkan masalah baru ketimbang menyelesaikan masalah. Direktur Eksekutif Indef, Ahmad Erani Yustika menegaskan, BI sangat keliru dalam melakukan prediksi. Justru, kata dia, dengan menaikkan BI Rate akan menimbulkan masalah baru dan tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

“Kebijakan BI dalam melakukan diagnosa sangat keliru dalam mengindentifikasikan persoalan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia dengan hanya mengandalkan menaikkan BI Rate saja. Alhasil, kebijakan yang dibuat justru akan melahirkan persoalan atau masalah baru, bahkan persoalan yang berulang. Intinya, kebijakan tersebut tidak efektif dalam menekan inflasi,” tegas Erani.

Dia juga mengungkapkan bahwa sektor pembiayaan akan merasa dirugikan atas kenaikan BI Rate ini. Pasalnya, suku bunga kredit akan menjadi terkerek naik sehingga akan memperlambat perekonomian sektor riil. Tak pelak, sektor riil semakin mengalami kesulitan dalam menjalankan usahanya.

“Saya sangat menyayangkan melihat ulah BI menaikkan BI Rate. Seharusnya hal itu tak perlu dilakukan lantaran situasi makro ekonomi Indonesia masih relatif stabil. Dengan kenaikan BI Rate ini maka dunia perbankan semakin bernafsu menaikkan suku bunga kredit sehingga akan mengganggu pertumbuhan ekonomi,” terang dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Ahmad Johansyah mengatakan, BI juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan, termasuk kebijakan-kebijakan untuk memperbaiki kondisi struktural ekonomi. “Perkembangan ekonomi global pada bulan Oktober 2013 cenderung membaik, namun masih dibayangi risiko ketidakpastian yang tinggi,” imbuh dia. [sylke]

Related posts