Ketersediaan Benih Butuh Perhatian Khusus - Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya

NERACA

Bali – Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJBP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut, target peningkatan produksi perikanan budidaya, khususnya komoditas udang pada tahun 2013 mencapai 608 ribu ton dan 699 ribu ton pada tahun 2014. Peningkatan target produksi tersebut, memerlukan dukungan ketersediaan benih bermutu dan induk unggul udang dalam jumlah yang cukup secara berkesinambungan.

“Ketersediaan benih bermutu dan induk unggul udang untuk pemenuhan usaha budidaya ikan menuju era industrialisasi perikanan budidaya, perlu mendapatkan perhatian khusus. Apalagi saat ini dengan adanya program revitalisasi tambak, dimana para pembudidaya udang mulai bangkit lagi untuk berbudidaya, sehingga membutuhkan pasokan benih udang berkualitas yang cukup dan tepat waktu,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat memberikan sambutan dan arahan dalam acara Pertemuan Jejaring Udang Vaname yang diadakan di Hotel Inna Sindhu Beach, Bali, seperti dikirim Humas DJPB KKP kepada Neraca, Rabu (13/11).

Slamet menambahkan bahwa untuk memenuhi target produksi udang tahun 2014 sebanyak 699 ribu ton, perlu didukung ketersediaan benih bermutu dan induk udang unggul untuk menjamin keberhasilan budidaya udang yang sedang digalakkan.

“Udang VN-1 adalah salah satu solusinya. Udang ini merupakan produk asli dalam negeri yang siap menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena mampu bersaing dengan produk impor. Disamping itu, dengan semakin dekatnya penerapan Pasar Bebas ASEAN 2015, kita harus mampu swasembada benih dan induk nasional, sehingga kita dapat mencegah masuknya penyakit dari Negara lain. Swasembada benih dan induk ini bisa dimulai dari kawasan kawasan minapolitan yang kemudian dapat ditiru oleh daerah lainnya,” papar Slamet.

Pengembangan benih udang VN-1, lanjut Slamet, telah dilakukan melalui uji coba budidaya berskala intensif. Hasilnya, benih udang VN-1 yang ditebar dengan kepadatan 100 ekor/m2 dan dibudidayakan selama 100 hari memiliki survival rate sebesar 85%. Selain survival rate yang tinggi, benih udang VN-1 juga menghasilkan volume panen yang relatif tinggi, yakni 20 ton udang per hektare dengan ukuran 48 ekor per kg. “Dengan pengembangan intensif, Indonesia harus mampu mengekspor udang VN-1. Apalagi, udang kita bebas dari Early Mortality Syndrome (EMS) dan bebas residu,” kata Slamet.

Khusus untuk komoditas udang, sasaran produksinya pada tahun 2013 adalah 608.000 ton. Untuk udang vaname, capaian produksi sampai dengan Juli 2013 adalah sebesar 215.250 ton dan untuk produksi benih udang vaname pada periode yang sama mencapai 2,4 miliar ekor.

“Jumlah benih udang vaname yang ada saat ini masih kurang sehingga perlu dilakukan percepatan produksi untuk memenuhi kebutuhan benih udang vaname dalam negeri. Pemenuhan kebutuhan benur harus dimulai dari sistem hulu mulai dari penelitian, sistem onfarm, dengan mengintegrasikan penangkar benih (sebagai plasma) dan swasta (sebagai inti); serta unit perbenihan pemerintah (sebagai pendukung). Pada sistem hilir harus ditata sistem pemasaran dan distribusi yang efisien serta pada sistem penunjang perlu dilakukan penataan kebijakan impor (induk dan benih) dan plasma nuftah,” ungkap Slamet.

Lebih jauh Slamet menyampaikan bahwa pertemuan jejaring udang vaname ini merupakan momen yang penting untuk menyamakan persepsi dan memperkuat koordinasi untuk pemenuhan kebutuhan benih dan induk udang unggul nasional. “Kita harus bekerja keras bersama-sama. Karena tanpa adanya kerjasama yang terjalin diantara anggota jejaring, mustahil target atau produksi yang kita idamkan bersama dapat tercapai,” tukas Slamet.

Pada pertemuan ini hadir para pembenih udang se-Indonesia, perwakilan dari propinsi se- Indonesia, dan juga anggota jejaring udang vaname yang terdiri dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, UPT Daerah yang bergerak di bidang pembenihan udang serta stake holder terkait lainnya.

Related posts