Tahun Depan, PTPP Akuisisi Perusahaan Alat Berat - Support Bisnis Inti dan Ekspansi Usaha

Jakarta – Bisnis PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) terus melebar tidak hanya sebatas konstruksi dan properti, tetapi mulai memasuki bisnis alat berat. Hal ini dilakukan perseroan melalui rencana mengakuisisi perusahaan alat berat lokal, PT Prima Jasa Aldo Dua (PJA) pada tahun depan.

Direktur Keuangan PTPP Tumiyana mengungkapkan aset PJA saat ini mencapai Rp200 miliar, namun dia enggan menyebutkan angka pasti yang dikeluarkan perseroan untuk mengakuisisi perusahaan tersebut, “Kalau divaluasi mungkin nilainya tidak segitu, jadi akuisisinya menggunakan kas internal saja. Akuisisi tersebut akan dilaksanakan pada kuartal pertama 2014 mendatang. Jika semua proses valuasinya selesai, akuisisinya akan di eksekusi pada Februari mendatang”, katanya di Jakarta, Rabu (13/11).

Dia juga memnjelaskan, tujuan awal perseroan dalam mengakuisisi PJA adalah memberikan support kepada lini bisnis perseroan, meski tidak menutup kemungkinan perseroan akan memasuki bisnis penyewaan alat berat. Hingga Oktober 2013, perusahaan plat merah ini berhasil mengantongi kontrak baru sebesar Rp13,93 triliun atau 70% dari target tahun ini yang mencapai Rp20 triliun. Disebutkan bahwa pada tahun depan, kontrak baru akan melonjak sebanyak 20% atau berkisar diantara Rp24 triliun hingga Rp25 triliun.

Direktur Pemasaran PTPP I Wayan Karioka menyebutkan, perseroan pada tahun ini juga memproyeksikan laba bersihnya akan mencapai sebesar Rp407 miliar atau tumbuh sebanyak 31% dibandingkan raihan laba perseroan di tahun 2012 lalu yang hanya sebesar Rp309 miliar. Sementara hinga periode September 2013 mencapai Rp218 miliar.

Disebutkan bahwa kenaikan laba ini dipicu oleh meningkatnya pendapatan usaha perusahaan menjadi Rp12,3 triliun, yang berasal dari beberapa proyek besar seperti EPC PLTGU Tanjung Uncang, PLTU Duri Riau, PLTG Bangkanai 160 Mega Watt (Mw), CNG Muara Tawar, Pelabuhan Kalibaru, Bandara Kualanamu, Tol Cikampek Palimanan, serta proyek-proyek gedung seperti apartemen.

Selain itu, anak perusahaan PTPP yang bergerak dibidang industri pabrik pracetak juga sudah mulai memberikan kontribusi pendapatan maupun laba. Pertumbuhan juga didukung oleh proyek-proyek carry over tahun lalu dan proyek sepanjang tahun 2013.

Perseroan juga memperluas pasar keluar negeri, Timor Leste yaitu melaksanakan beberapa proyek antara lain, Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Likuisa dan Jalan Gleno Tibar. Sehingga dengan banyaknya proyek di Timor Leste, perseroan membuka kantor perwakilannya.

Dampak BI Rate

Sementara itu, terkait kenaikan BI Rate, perseroan menyatakan kenaikan sebesar 25 bps menjadi 7,5%, belum terlalu dirasakan pada tahun ini. Pasalnya, fasilitas pinjaman yang dimiliki perseroan baru akan jatuh tempo pada tahun 2014.“Imbasnya pasti ada, dampak ke margin sekitar 5%. Namun, baru akan terasa di tahun depan karena tahun ini sudah closing”, ujar Direktur Keuangan PTPP Tumiyana di tempat yang sama.Meski baru akan merasakan dampak atas kenaikan BI Rate, namun perseroan belum ada rencana mengurangi porsi pinjaman perbankan di tahun depan. “Terlihat di obligasi bagus, kita punya rate 8,3 (idA) sekarang. Obligasi memang lebih bagus, Tapi tidak harus obligasi, tetap ada perbankan juga”, ujarnya.

Dai juga menyebutkan bahwa porsi dana perseroan masih didominasi perbankan dengan perbandingan 705 bank dan sisanya obligasi. Fasilitas pinjaman perbankan yang diperoleh dari 3 bank Swasta dan BUMN ini mencapai Rp70 triliun, namun hingga saat ini jumlah yang terpakai Rp1,9 triliun. Pada tahun depan, perseroan menargetkan pertumbuhan laba bersih sebanyak 25% atau menjadi Rp508,75 miliar dari Rp407 miliar di sepanjang tahun ini. Perseroan optimis meraih target tersebut karena masih adanya proyek carry over.

Dia mengungkapkan bahwa pihaknya juga menargetkan pertumbuhan laba sebesar 25%. Selain itu, pertumbuhan pendapatan juga ditargetkan dapat tumbuh sebesar 25% menjadi sekitar Rp14,76 triliun di tahun 2014 dan dalam 5 tahun mendatang.

Pada tahun ini perseroan sampai dengan akhir tahun mengincar pendapatan mencapai Rp12,3 triliun yang berasal dari beberapa proyek besar seperti proyek EPC PLTGU Tanjung Uncang l, PLTU Duri Riau, PLTG Bangkanai 160 MW, CNG Muara Tawar, Pelabuhan Kalibaru, Bandara Kualanamu, Tol Cikampek Palimanan, Jalan Donggi Senoro serta proyek-proyek gedung seperti Apartemen Vida View di Makasar, GTU Izzara Apartemen Simatupang di Jakarta, dan Apartemen Intermark di Serpong. (nurul)

Related posts