AKR Tangguhkan Kredit Mandiri US$10 Juta

NERACA

Jakarta- PT AKR Corporindo (AKRA) memperpanjang penanggungan utang dan komitmen penyediaan cash defisit (corporate guarantee) atas pembaruan fasilitas kredit (revolving) sebesar US$10 juta dari PT Bank Mandiri Tbk, cabang Hongkong. Fasilitas kredit ini diberikan kepada anak perusahaan, Khalista (Luizhou) Chemical Industries, Ltd yang berkedudukan di Cina (“Khalista”).

“Tujuan fasilitas tersebut adalah untuk modal kerja Khalista termasuk untuk pembelian bahan baku dan kegiatan usaha.” kata Direktur PT AKR Corporindo Tbk, Suresh Vembu dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (13/11).

Disebutkan, perseroan telah menandatangani perpanjangan fasilitas kredit pada 8 November 2013. Kepemilikan saham perseroan pada anak perusahaannya ini mencapai 100%. Transaksi ini merupakan transaksi afiliasi yang termasuk dalam ketentuan Peraturan Bapepam LK No IX.E.1 tentang transaksi afiliasi dan benturan kepentingan. Meski demikian, bukan merupakan transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama sebagaimana dimaksud peraturan Bapepam LK No. IX.E.2.

Sekadar informasi, perusahaan penyalur distribusi BBM non subsidi dan bahan kimia ini hingga Sepetmber 2013 mencatatkan laba periode berjalan naik 9,01% menjadi Rp 500,99 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 459,54 miliar. Namun, pendapatan yang dicatatkan perseroan turun tipis 0,81% menjadi Rp 16,17 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 16,3 triliun.

Margin bersih perseroan naik menjadi 3,09% pada kuartal ketiga 2013 dari periode sama tahun 2012 sebesar 2,81%. Beban pokok penjualan dan pendapatan turun menjadi Rp 15,2 triliun hingga September 2013. Laba kotor pun naik menjadi Rp 967,57 miliar hingga September 2013 dari posisi sama tahun 2012 senilai Rp 908,53 miliar.

Perseroan mengalami kenaikan beban usaha. Beban umum dan administrasi perseroan naik menjadi Rp 318,47 miliar hingga September 2013. Beban penjualan meningkat menjadi Rp 66,4 miliar hingga sembilan bulan pertama tahun 2013.

Terkait kinerja distribusi bahan bakar minyak di semester kedua tahun ini, Suresh pernah bilang, penjualan bahan bakar minyak di semester dua tahun ini akan lebih baik dari hasil penjualan di semester satu. Pasalnya, pasokan BBM untuk PT Freeport Indonesia yang berkontribusi besar terhadap pendapatan perseroan sudah dapat dilaksanakan kembali. Menurut dia, lebih dari 10% pendapatan perseroan dihasilkan dari penjualan BBM ke Freeport. "Tiga bulan yang lalu suplai BBM ke perusahaan tambang di Papua sempat terhenti, namun sekarang sudah lancar kembali," ucapnya.

Selain dari perusahaan tambang, perseroan memasok BBM untuk perusahaan listrik, industri, perikanan dan retail. Suresh menjelaskan sekitar 45–50% kontrak suplai BBM dihasilkan dari perusahaan tambang, kemudian sekitar 15% dihasilkan dari kontrak perusahaan listrik, sekitar 15 hingga 20% dihasilkan dari industri, dan 15% sisanya ditopang oleh kontrak penjualan BBM dengan perusahaan berbasis perikanan dan retail.

Sementara dari proyek pelabuhan terintegrasi di Gresik tahap pertama, perseroan disebut sebut mengincar pejualan lebih dari Rp2 triliun rupiah. Rencananya, perseroan akan segera memulai penjualan lahan industri tersebut pada November tahun ini, dan sudah dapat memberikan kontribusi pendapatan pada 2014 mendatang.

Related posts