Tower Bersama Tawarkan Kupon Obligasi Maksimal 10%

NERACA

Jakarta- PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) akan menerbitkan obligasi tahap I sebesar Rp500 miliar dari total pokok penerbitan obligasi sebanyak-banyaknya Rp1 triliun. Perseroan menawarkan kupon bunga di kisaran 8,25%-10%. “Kupon bunga yang ditawarkan berkisar 8,25%-9% untuk yang memiliki waktu 370 hari, sekitar 9%-9,85% untuk yang jangka waktu 3 tahun, dan sebesar 9,1%-10% untuk yang 5 tahun,” kata Direktur PT Indopremier Securities, Rayendra L. Tobing di Jakarta, Selasa (12/11).

Obligasi berkelanjutan I TBIG tahap I ini, kata dia, telah memperoleh hasil pemeringkatan dengan rating AA- (idn) dari Fitch Indonesia. Masa penawaran awal (book building) akan dilakukan pada tanggal 12-25 November 2013. Sementara untuk perkiraan masa penawaran umum dari tanggal 6-9 Desember 2013, dan diharapkan dapat dicatatkan pada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 4 Desember 2013.

Sebagai penjamin pelaksana emisi, perseroan telah menunjuk PT HSBC Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities, PT NISP Sekuritas dan PT UOB Kay Hian Securities. Rencananya, dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum obligasi berkelanjutan tahap I, setelah dikurangi biaya-biaya emisi obligasi akan digunakan untuk belanja modal (capital expenditure/capex) dan pembayaran sebagian kewajiban entitas anak perseroan.“Kita akan gunakan 50% untuk capex, yaitu untuk menambah tower baru, sisanya untuk melunasi pinjaman anak perusahaan.” kata Direktur TBIG, Helmy Yusman Santoso.

Menurut dia, untuk pembangunan tower baru, masing masing dibutuhkan dana sebesar Rp1 miliar-Rp1,1 miliar. Itu artinya, dari 50% dana penawaran obligasi sebesar Rp500 miliar-Rp1 triliun diperkirakan akan ada penambahan sekitar 250-500 tower guna meningkatkan kapasitas. “Lokasinya di pulau Jawa dan di luar pulau Jawa. Untuk perusahaan tower, beberapa daerah antara lain Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Jadi menurut kita itu juga cukup menantang.” tuturnya.

Semester Pertama

Pihaknya mencatat, hingga semester pertama 2013, TBIG memiliki 15.293 penyewaan dan 9.308 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik perseroan terdiri dari 7.924 menara telekomunikasi, 1.040 shelter only dan 344 jaringan DAS. Meski demikian, sambung dia, kebutuhan dana untuk pembangunan tower ini tidak hanya diperoleh dari penerbitan obligasi, namun juga kas internal perseroan dan pinjaman perbankan. “Kita masih punya pinjaman US$2 miliar yang belum sepenuhnya kita pakai.” ujarnya.

Sementara itu, hingga semester pertama 2013 perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 673,81 miliar, naik116,2% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 311,60 miliar. Kenaikan ini ditopang pendapatan senilai Rp 1,27 triliun, naik 96% dibandingkan periode yang sama tahun tahun sebelumnya sebesar Rp 647,22 miliar. Adapun laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) juga mengalami peningkatan 102% menjadi Rp 1,04 triliun dibandingkan periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2012.

Ekuitas perseroan naik menjadi Rp 4,71 triliun pada 30 Juni 2013 dari periode 31 Desember 2012 senilai Rp 4,24 triliun. Informasinya, perseroan berhasil menambah 974 penyewaan dari dari pertumbuhan organik, di mana untuk mendanai pembangunan organik dalam skala besar ini, tower bersama telah bekerjasama dengan para kreditur agar tetap tersedia pendanaan yang kompetitif. Termasuk mendiversifikasi sumber pendanaan melalui penjualan perdana surat utang jangka panjang dalam mata uang dolar AS pada April 2013 lalu. Per 30 Juni 2013, total pinjaman perseroan tercatat sebesar Rp 10,84 triliun dan total pinjaman senior (gross senior debt) senilai Rp 7,85 triliun sedangkan saldo kas mencapai Rp 1,53 triliun. (lia)

Related posts