Aksi Spekulasi Investor Properti Timbulkan Korban - Nasib Kosumen KPR

NERACA

Jakarta – Aksi spekulasi investor kelas atas di sektor properti dinilai membuat harga perumahan menjadi over value (berlebihan). Faktanya peningkatan harga ini juga berimbas kepada Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Imbasnya ke konsumen properti kelas menengah ke bawah.

“Ekonomi kita memang sedang mengalami perlambatan, termasuk industri properti. Tapi kemudian para investor menjadi berlebihan reaksinya sehingga mereka sering melakukan aksi spekulasi. Harga properti pun over value,” kata Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, di Jakarta, Selasa (12/11).

Dia menuturkan, seharusnya para investor tidak perlu bersikap berlebihan. Pasalnya, untuk investasi properti tidak ada istilah "kata mati". Kalau pun susah dijual setidaknya para investor itu juga memiliki kemampuan untuk holding.

“Mereka takut harganya jatuh. Padahal kalau memang harga jualnya belum cocok, ya, tinggal holding saja. Mereka punya kemampuan untuk itu. Beda lagi kalau pemilik propertinya masyarakat menengah ke bawah,” ungkap Ali. Lebih lanjut dia mengatakan, untuk saat ini memang harga properti tidak mungkin naik. Terkait dampak dari over value, Ali mengatakan pada akhirnya mengorbankan masyarakat menengah ke bawah. Sebab, dampak dari over value itu tidak hanya berimbas pada tingginya harga properti menengah ke atas namun kepada properti sekelas KPR.

“Sekarang harga KPR sudah di antara Rp300 juta-Rp500 juta. Apa konsumen kelas menengah ke bawah mampu membeli rumah dengan harga sebesar itu? Pasti mereka kesulitan membeli KPR,” imbuh Ali. Mengenai perlambatan pertumbuhan properti, Ali menjelaskan, hingga 2014, tidak akan menembus angka 35%. Pasalnya, kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate dan penerapan peraturan LTV oleh Bank Indonesia turut menyumbang perlambatan tersebut.

Dengan demikian, pertumbuhannya diprediksi hanya akan mencapai angka 25%. “Jadi setiap kenaikan 1% suku bunga saja biasanya pangsa KPR bisa jatuh sampai 5%. Sedangkan sekarang suku bunga sudah meningkat hampir 2%. Belum lagi penerapan LTV yang membuat penurunan hingga 20%,” tutur Ali.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial, Raharjo Adisusanto, mengaku kenaikan BI Rate tidak terlalu mempengaruhi kinerja perusahaannya. Sebab, kenaikan BI Rate ini justru berpengaruh di pihak perbankan yang harus menanggung down payment (DP) atau uang muka.

“Bagi kami di perusahaan pembiayaan tidak terlalu bermasalah.. Hingga saat ini saja pembiayaan kita di sektor KPR sudah mencapai Rp1,75 triliun. Sedangkan target akhir 2013 kita sebesar Rp2,5 triliun,” tutur Raharjo.

Dia juga menjelaskan, rasio KPR terhadap kredit perbankan juga mengalami pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data Juli 2013, rasio tersebut berada pada posisi 8,84% atau meningkat dari periode yang sama di 2012 yang hanya mencapai 8,20%. “Itu artinya, pertumbuhan properti masih bagus di Indonesia. Bahkan outstanding (posisi) portofolio KPR data BI, per Oktober 2013, sudah mencapai Rp267 triliun,” tukasnya. [lulus]

Related posts