Terbebani BI Rate, IHSG Masih Terkoreksi

NERACA

Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan acuan suku bunga bank atau BI Rate sebesar 25% menjadi 7,5% memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, mengakhiri perdagangan Selasa kemarin, indeks BEI ditutup anjlok 61,084 poin (1,38%) ke level 4.380,640. Sementara Indeks LQ45 ditutup jatuh 11,994 poin (1,61%) ke level 731,155.

Kata analis PT Anugerah Securindo Indah, Bertoni Rio, kebijakan Bank Indonesia yang menaikan BI rate menjadi 7,5% akan membebani kinerja emiten sehingga menekan saham-saham yang diperdagangankan di Bursa Efek Indonesia, “Kenaikan BI rate sebesar 25 bps menjadi 7,50% berpotensi membebani pertumbuhan kinerja emiten seperti sektor perbankan, properti, aneka industri, dan perdagangan," katanya di Jakarta, Selasa (12/11).

Dia menambahkan, pelaku pasar asing yang masih mengambil posisi jual saham menambah tekanan indeks BEI. Tercatat pelaku pasar asing membukukan jual bersih (foreign net sell) sebesar Rp464 miliar. Oleh karena itu, indeks BEI Rabu diproyeksikan masih akan bergerak melemah, disamping depresiasi rupiah ke level Rp11.601 per dolar.

Sementara analis Sinarmas Sekuritas, Christandi Rheza Mihardja memperkirakan pergerakan indeks BEI pada Rabu akan bergerak berfluktuasi di level 4.350-4.410 poin, “Perdagangan hari Rabu akan dipengaruhi oleh data tingkat suku bunga Bank Indonesia yang diluar ekspektasi naik ke level 7,5%,”ujarnya.

Dia memproyeksikan saham-saham yang diperkirakan bergerak menguat yakni Jasa Marga (JSMR), Astra Agro Lestari (AALI), Indo Tambangraya Megah (ITMG), Adaro Energy (ADRO). Pada perdagangan kemarin, aksi jual dilakukan investor domestik dan asing. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 479,11 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 156.435 kali pada volume 4,541 miliar lembar saham senilai Rp 5,171 triliun. Sebanyak 66 saham naik, sisanya 195 saham turun, dan 92 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan mixed. Bursa Indonesia jatuh paling dalam sedangkan Jepang naik sangat tinggi hingga lebih dari dua persen.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Merck (MERK) naik Rp 1.500 ke Rp 177.000, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.450 ke Rp 32.000, SMART (SMAR) naik Rp 350 ke Rp 6.700, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 350 ke Rp 20.900. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 650 ke Rp 19.400, Lippo Cikarang (LPKR) turun Rp 450 ke Rp 5.250, Siantar TOP (STTP) turun Rp 350 ke Rp 1.600, dan Indofood CBP (ICBP) turun Rp 350 ke Rp 10.300.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 19,913 poin (0,45%) ke level 4.421,811. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 4,273 poin (0,57%) ke level 738,876. Indeks hanya menguat di awal perdagangan saja. Setelah naik hingga ke level 4.455,161 indeks langsung jatuh ke zona merah. Aksi jual banyak dilakukan investor asing.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 81.637 kali pada volume 2,611 miliar lembar saham senilai Rp 2,417 triliun. Sebanyak 80 saham naik, sisanya 128 saham turun, dan 110 saham stagnan. Bursa saham Jepang mampu mempertahankan momentum dan menguat lebih tinggi sejak awal perdagangan. Sayangnya penguatan ini tidak dibuntuti oleh bursa-bursa di Asia lainnya.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.550 ke Rp 32.100, Astra Agro (AALI) naik Rp 400 ke Rp 20.950, SMART (SMAR) naik Rp 350 ke Rp 6.700, dan Matahari (LPPF) naik Rp 250 ke Rp 11.500. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 400 ke Rp 12.600, Siantar TOP (STTP) turun Rp 350 ke Rp 1.600, Indocement (INTP) turun Rp 350 ke Rp 19.700, dan Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 350 ke Rp 5.150.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka menguat 1,34 poin ke 744,49, sementara Jakarta Islamic Indeks (JII) mampu menguat 1,65 poin ke 612,15, dan indeks IDX30 ikut naik 0,93 poin 380,91. Tercatat 36 saham menguat, 18 saham melemah, dan 58 saham bergerak stagnan. Pagi ini, telah terjadi transaksi sebesar Rp38,375 miliar dari 25,382 juta lembar saham diperdagangkan.

Sementar itu, indeks-indeks di Asia bergerak dua arah, dengan indeks Hang Seng turun 17,70 poin atau 0,08% ke 23.052,15, indeks Straits Times menguat 0,07% ke 3.188,83 dan Nikkei naik 1,27% ke 14.451,73. Sektor-sektor penopang IHSG bergerak dua arah dengan sektor perkebunan, manufaktur, dan tambang naik. Sedangkan sektor konsumer, industri dasar, infrastruktur dan keuangan turun.

Adapun saham-saham yang masuk dalam jajaran top gainers, antara lain saham PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) naik Rp150 ke Rp11.400, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) naik Rp75 ke Rp4.850, dan saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik Rp50 ke Rp4.950.

Sedangkan saham-saham yang berada dalam jajaran top losers, antara lain saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp250 menjadi Rp36.600, saham INTP turun Rp250 menjadi Rp19.800, dan saham PT United Tractor Tbk (UNTR) turun Rp200 menjadi Rp19.300. (bani)

Related posts