Sulap Limbah Ternak Jadi Pakan Ikan, KKP Gandeng Kemenkop-UKM

NERACA

Jakarta – Setiap manusia mendambakan hidup tempat yang indah, asri, dan nyaman. Namun tidak demikian jika lingkungan yang diinginkan tercemar oleh limbah. Di samping menjadi kotor, tentu saja bisa menjadi sarang penyakit. Padahal limbah atau sampah jika dapat dimanfaatkan, mempunyai daya guna dan nilai tambah yang tinggi. Salah satunya yaitu limbah ternak. Kecuali bisa dihasilkan menjadi energi, pupuk,limbah ternak bisa juga disulap menjadi bahan baku pakan ikan.

Atas dasar itulah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop-UKM) memanfaatkan limbah ternak, khususnya ternak sapi menjadi bahan baku makanan ikan.

”Sejalan dengan konsep ekonomi biru yang diterapkan oleh KKP, untuk tidak mencemari lingkungan dalam melakukan industrialisasi. Dan kerjasama ini suatu hal yang luar biasa bukan hanya kita menghasilkan limbah, tapi memanfaatkan limbah menjadi berdaya guna dan nilai tinggi,” kata Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, sesaat setelah melakukan penandatangan kerjasama dengan Kemenkop-UKM, di Jakarta, Selasa (12/11).

Kerjasama ini merupakan terobosan baru dalam mengatasi limbah yang sebelumnya hanya sebatas sampah, tapi sekarang bisaa dimanfaatkan secara optimal. Maka dari itu, sinergitas antar Kementerian seperti inilah yang akan terus didorong agar dapat berjalan secara simultan ”Ini merupakan pilot project sinergi antar Kementerian yang harus terus ditingkatkan, bukan hanya dengan Kemekop saja, tapi dengan Kementerian-Kementerian lain,” sambungnya.

Adapun kerjasama dapat terjalin Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Brawijaya, proses fermentasi kotoran ternak di dalam tangki biodigester selain menghasilkan biogas, juga akan menghasilkan bahan padatan yang bebas dari hama dan bakteri pathogen serta memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Dan limbah biodigester inilah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan. ”Atas dasar inilah kami menangkap ini peluang yang bagus untuk segera direalisasikan,” ujarnya.

Karena memang saat ini, dengan melemahnya rupiah, harga dollar yang tidak menentu menjadikan bahan baku makanan ikan menjadi langka, disamping itu juga harganya mahal. Sehingga banyak para petambak yang mengeluhkan itu, dengan adanya alternatif ini nantinya akan menjawab permasalahan sekarang. ”Ketergantungan impor bahan baku makanan ikan sampai dengan saat ini sangat tinggi, adanya pemanfaatan limbah ternak ini mampu mengurangi harga pakan hingga 30%,” terangnya.

Selain itu juga, dengan pemanfaatan limbah ini nantinya akan dihasilkan pakan ikan mandiri yang berkualitas dan berkelanjutan dari bahan baku lokal, dan tentu saja dengan harga yang lebih terjangkau. ”KIta coba berpikir jangka panjang jika ini bisa berjalan, kita tidak lagi impor pakan ikan lagi. Sehingga cost para petani tambak bisa ditekan, kesejahteraanya lebih meningkat” paparnya.

Disinggung mengenai anggaran yang disiapkan, menurtnya belum terlalu besar karena memang baru di Jawa Barat saja, selain itu juga ini lagi masa percobaan. Karena memang saat ini di Jawa Barat, ada sekitar 20.000 sapi, adapun anggaran dari Kemnkop-UKM mengeluarkan sekitar 100 juta, dan dari KKP membantu 2 mesin pembuatan pelet (makanan Ikan). Tapi jika berjalan baik, maka programnya akan diperbesar lagi kedaerah lain. Bahkan dalam jangka panjang, pihak swasta bisa ikut kerja sama agar bisa industri besar. ”Kita menginginkan industrialisasi pemerintah saat ini membuka jalan, jika potensinya bagus swasta bisa masuk untuk membangun industri yang lebih besar lagi,” ungkapnya.

Ungkapan senada dilontarkan oleh Braman Satyo, Deputi Bidang Produksi Kemenkop-UKM. Dia mengatakan, jika program menjalankan atau mengoptimalisasikan limbah, bukan hanya melestarikan lingkungan, tapi juga bisa mengangkat bisnis minimal berbasis UKM dapat berjalan. “Dari sini nantinya ada pemeretaan industri di desa-desa,” ujarnya.

Pemerataan Ekonomi

Pemanfaatan limbah dijadikan berdaya guna menjadi bahan baku makanan ikan merupakan salah satu program dari pemanfaatan energi terbarukan. Saat ini memang komitmen dari Kemenkop-UKM sebagai enitas bisnis sedang fokus menjalin kerjasama dengan Kementerian dan instansi lain, tujuannya tidak lain agar ada pemeratan dalam usaha. ”Adanya pemerataan usaha maupun bisnis mampu mendorong peningkatan ekonomi pedesaan,” ujar Satyo, saat memberikan sambutan didepan peserta yang mengikuti “Temu Konsultasi Pemberdayaan Usaha Koperasi dan UKM Berbasis Energi Terbarukan Secara Berkelanjutan di Indonesia”.

Karena memang dilihat potensi Sumber Daya Alam (SDA) terutama didaerah sebenarnya banyak yang belum tercamah, padahal jika diotimalisasi akan mempunyai nilai tinggi. Terutama untuk koperasi dan UKM yang base nya di desa-desa. ”Memang kelihatannya kecil, tapi jika dikumpulkan nominalnya menjadi besar. Sehingga mampu meningkatkan perekonomian dipedesaan,” terangnya.

Untuk itu, adanya kerjasama seperti sekarang ini merupakan momentum program dan sinergitas yang harus terus didorong dan ditingkatkan karena sangat membantu adanya pemerataan ekonomi di daerah-daerah. ”Dengan begitu dapat menjaga kesetabilan ekonomi,” pungkasnya.

Related posts