Perusahaan Pembiayaan Keluhkan Kenaikan BI Rate

NERACA

Jakarta – Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate kembali naik menjadi 7,5%. Tentu kabar ini kurang menggembirakan bagi industri keuangan, khususnya sektor pembiayaan atau multifinance. Pasalnya, kenaikan BI Rate berimbas kepada melambatnya kinerja industri pembiayaan, terutama otomotif, di mana mereka terjepit antara menjaga daya beli konsumen agar tak turun dengan menaikkan suku bunga pembiayaan.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia, Suwandi Wiratno, mengeluh bila penjualan otomotif di industri pembiayaan mengalami perlambatan. Hal itu dikarenakan BI Rate telah melambung tinggi, sedangkan perusahaan belum bisa menaikkan suku bunga pinjaman lantaran dikhawatirkan daya beli masyarakat menurun.

"(Kenaikan BI Rate) sangat berdampak ke masyarakat. Karena daya beli pasti turun," ungkap Suwandi di Jakarta, Selasa (12/11), Bahkan, lanjut dia, dengan naiknya BI Rate maka target pertumbuhan pada 2014 hanya bisa mencapai 5%-10%. Padahal, pada tahun tersebut, Indonesia tengah mengadakan hajatan besar, yaitu Pemilihan Umum Legislatif dan Pemlihan Presiden dan Wakil Presiden, yang mana biasanya terjadi peningkatan penjualan kendaraan bermotor.

“Mestinya kita bisa menargetkan pertumbuhan antara 20%-25%. Faktanya hal itu sulit terealisasi walaupun tahun 2014 ada pemilu. Ini karena tingginya suku bunga yang ada sekarang,” keluh Suwandi. Kenaikan BI Rate sangat berdampak pada meningkatnya bunga kredit perbankan.Sementara perbankan sendiri hingga saat ini mengaku ada kemungkinan keuntungannya berkurang.

“Data per September 2013 menyebutkan keuntungan kumulasi pembiayaan mencapai Rp10,9 triliun. Sedangkan target kita sampai akhir tahun 2013 sebesar Rp12 triliun. Dalam waktu sekitar 1,5 bulan ini mudah-mudahan target bisa tercapai,” terangnya, seraya berharap.

Meskipun begitu, Suwandi mengaku persoalan tingginya BI Rate tidak menjadi hambatan yang terlalu berarti bagi perusahaan pembiayaan untuk terus tumbuh. Hanya saja, untuk saat ini masyarakat memang sedang lebih teliti dalam melakukan pembelian barang. “Life must go on. Tapi kita juga melihat industri otomotif akan tetap tumbuh. Artinya, industri pembiayaan juga akan tetap tumbuh,” papar dia.

Terkait perusahaan pembiayaan akan menaikkan suku bunganya, Suwandi menuturkan pihaknya terpaksa menaikkan antara 1%-1,5%. Dengan persentase sebesar itu, kata dia, sebenarnya kenaikan cicilan hanya Rp10 ribu-Rp15 ribu per bulan bagi sepeda motor. Adapun untuk cicilan mobil, kenaikan cicilan sekitar Rp80 ribu per bulan.

"Saya sangat berharap tahun depan BI Rate tidak naik lagi dan stabil," pintanya. Hingga September 2013, penjualan otomotif masih relatif tinggi. Untuk kendaraan sepeda motor sudah masuk di angka 1,2 juta unit dan kendaraan bermotor (mobil) 7,7 juta unit.

Bertahan

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Mega Central Finance, Wiwie Kurnia, mengatakan meski BI Rate terus meningkat namun pihaknya akan tetap mempertahankan suku bunga pembiayaan dikisaran 9%. Angka ini dinilai Wiwie masih moderat karena apabila dinaikkan maka masyarakat akan mengalami kesulitan dalam membeli kendaraan bermotor. Sementara daya beli masyarakat juga belum meningkat.

“Untuk saat ini kita masih mempertahankan suku bunga di level 9%. Karena kita juga mau mempertahankan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) yang sekarang ada di posisi 1,13% sampai akhir September 2013, dari sebelumnya bulan Januari 2013 yang di level 1,3%. Kalau melihat kondisi sekarang, saya mengakui kita mengalami pelemahan (penjualan) di beberapa daerah seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi,” ungkap Wiwie.

Dengan demikian, dirinya berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan ekonomi nasional. Terutama menguatkan nilai tukar rupiah agar daya beli masyarakat kembali menguat. Dengan begitu, industri pembiayaan juga dapat menjaga kinerjanya ke arah yang lebih positif. [lulus]

Related posts