Penjualan Indo Tambangraya Turun Tipis - Dampak Kenaikan Beban Penjualan

NERACA

Jakarta – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan penurunan penjualan menjadi US$1,6 miliar pada kuartal ketiga 2013 akibat kenaikan beban pokok penjualan. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, pada periode yang sama tahun lalu perseroan berhasil membukukan penjualan sebesar US$1,7 miliar. Disebutkan pada periode tersebut, beban pokok penjualan naik menjadi US$1,2 miliar dari US$1,1 miliar pada kuartal ketiga 2012.

Disamping itu, perseroan juga mencatatkan laba kotor turun menjadi US$382,8 juta dari US$582,5 juta. Sementara itu, beban pokok penjualan mencapai US$108,7 juta dari US$107,8 juta. Sedangkan laba sebelum pajak juga menurun menjadi US$253,5 juta dari US$517,6 juta.

Dengan beban pajak penghasilan sebesar US$69,2 juta dari US$151,01 juta, maka laba bersih menjadi US$184,3 juta dari US$366,6 juta. Perseroan mencatatkan kenaikan aset menjadi US$1,5 miiar dari US$1,4 miliar per 31 Desember 2012. Sedangkan total liabilitas mencapai US$488,2 juta dari US$488,8 juta.

Sebagai informai, pasokan batubara yang masih berlebih di pasar berpengaruh pada rata-rata harga jual batubara global. Sepanjang kuartal ketiga 2013, perseroan memperoleh harga rata-rata jual batu bara US$ 76,8 per ton atau turun 4% dibanding kuartal pertama. Adapun volume penjualan tercatat 6,9 juta ton atau turun 3% dari 7,1 juta ton di kuartal pertama.

Hingga semester kpertama 2013, sebanyak 14 juta ton batu bara dikirim perseroan ke berbagai negara di antaranya ke China, Jepang, India, dan negara-negara lain di Asia Timur dan Tenggara. Selain itu, perseroan juga menghasilkan 7,2 juta ton batu bara atau hanya mengalami kenaikan 1% dari periode sebelumnya.

Dengan total produksi 14,3 juta ton sepanjang semester pertama ini, perusahaan optimistis dapat mencapai target 29 juta ton untuk tahun 2013. Kemudian untuk menghadapi harga batubara yang masih lemah, manajemen perseroan terus meningkatkan efisiensi dalam strategi manajemen biaya dengan menekan komponen pengeluaran, di antaranya dengan mengurangi nisbah kupas (stripping ratio), melakukan efisiensi dalam hal logistik, menerapkan berbagai teknik penambangan, dan mengutamakan belanja modal pada proyek-proyek yang mendesak.

Perseroan juga dikabarkan mencari pasar penjualan produk batubaranya diluar kawasan Asia. Karena negara yang menyerap produksi perseroan kebanyakan dari Asia khususnya India yang paling besar sedang mengalami kesulitan ekonomi yang menghentikan kontrak impor batubaranya pasca krisis di negara mereka.

Sampai dengan semester pertama, perseroan telah merealisasikan penjualan batubaranya keluar Asia yaitu Hawai. Dimana penjualan batubara ke Hawaii mampu menyumbang pendapatan US$18,42 juta. Tapi, untuk bidikan kawasan AS, manajemen belum bisa mengungkapkan rincian berapa target penjualannya ke kawasan ini.

Sebelumnya, India merupakan salah satu negara yang menyerap produk perseroan dimana pada semester pertama kemarin saja, sebanyak 10,49% dari 14,3 juta ton produksi batubara dijual ke India. (nurul)

Related posts