BKPM: Indonesia Negara Tujuan Utama Investasi Tiongkok

NERACA

Hong Kong - Indonesia menjadi negara tujuan utama investasi para investor Tiongkok selama periode 2010 hingga kuartal III-2013, mengalahkan sembilan negara besar seperti Brasil, India, Amerika Serikat, Rusia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Argentina, Inggris, dan Australia. "Itu berdasarkan belanja modal, di luar sektor finansial," kata Deputi Kepala BKPM Bidang Kerja Sama Investasi, Achmad Kurniadi, pada acara Indonesia Investment Forum, di Hotel Ritz Carlton Hong Kong, pekan lalu. Indonesia menyerap 10,4% investasi belanja modal para investor Tiongkok, Brasil 9,3%, India 7,2%, AS 6,7%, Rusia 5,6%, Brunei Darussalam 5,1%, Arab Saudi 4,2%, Argentina 3,6%, Inggris 3,4%, dan Australia 2,4%. Indonesia juga menjadi negara ke delapan tujuan investasi dunia mengalahkan Meksiko dan Kanada sepanjang periode 2010 hingga kuartal III-2013. Indonesia mampu menarik 2,4% dari total investasi dunia, sama seperti Meksiko dan Kanada. Menurut Achmad, Tiongkok menjadi negara penerima investasi dunia terbesar, yakni mencapai 10,5% dari total investasi dunia. Adapun posisi sembilan negara besar penerima investasi dunia adalah Amerika Serikat (8,2%), Brasil (5,5%), India (5,1%), Inggris (4%), Rusia (3,1%), dan Australia (2,8%). Sementara itu, pada saat bersamaan, Indonesia hanya menjadi negara ke-20 tujuan investasi Hong Kong. Indonesia hanya menerima 0,3% dari total investasi yang dilakukan investor Hong Kong. Indonesia, menurut Achmad, bahkan kalah dengan Vietnam yang mampu menarik investasi dari Hong Kong sebesar 0,7%. Adapun negara yang paling besar menyerap investasi dari Hong Kong adalah Nikaragua (58,3%), Tiongkok (15,4%), Ghana (5,8%), Pakistan (4,4%), Malaysia (2,4%), Taiwan (2,2%), India (1,7%), Filipina (1%), dan Mozambik (0,7%). Chairman Quam Limited Bernard Pouliot mengatakan, Indonesia bagaikan toko kembang gula (candy store) yang menarik para investor. Daya tarik populasi kaum muda Indonesia, bahkan mengalahkan Tiongkok, seiring penduduk negara tersebut yang semakin ‘menua’ (populasi kaum tuanya semakin besar). Namun, investor Hong Kong belum banyak berinvestasi di Indonesia dan lebih memilih Tiongkok karena faktor letak geografis yang lebih dekat. Bahkan, investor Hong Kong lebih mengutamakan investasi ke Tiongkok dulu, baru kemudian Indonesia, karena kurangnya informasi mengenai Indonesia. Hal itu juga terjadi pada Quam Limited. Perusahaan sekuritas dan asset management ini belum mengalokasikan dana kelolaannya sepersen pun untuk Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus mendorong agar investor Hong Kong dan Tiongkok bisa investasi di Indonesia, mengingat begitu banyaknya potensi dan peluang yang ditawarkan. Bernard melihat tidak ada masalah dengan insentif tax holiday. Bahkan, insentif pajak tersebut yang ditawarkan pemerintah Indonesia lebih menarik ketimbang yang ditawarkan Tiongkok. "Masalahnya hanya regulasi dan konsistensi kebijakan. Para investor di Hong Kong banyak yang berpikiran soal konsistensi kebijakan dan implementasi kebijakan dari pemerintah," kata dia. Menurut Bernard, untuk bisa menarik investor Hong Kong dan Tiongkok berinvestasi, dia berharap, konsulat jenderal Kementerian Luar Negeri di Hong Kong lebih proaktif mempromosikan dan memberikan informasi lebih intens lagi mengenai Indonesia. [bani]

Related posts