Akhir Tahun, Defisit Transaksi Berjalan Dibawah 4% - Prediksi Pemerintah

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Chatib Basri masih optimistis posisi defisit transaksi berjalan (current account) masih akan di bawah angka 4% hingga akhir tahun 2013 ini. Optimisme Chatib itu itu diungkapkan meski perekonomian global tengah tidak menentu dan masih banyaknya persoalan ekonomi di dalam negeri. "Kalau nominalnya harus dihitung karena tergantung exchange rate-nya berapa. Tapi, pasti di bawah empat persen," katanya di Jakarta, Senin (11/11).

Sejauh ini Indonesia mengalami persoalan dari sisi defisitcurrent account. Persoalan ini terjadi lantaran timpangnya kinerja antara ekspor dan impor Indonesia. Persoalan defisitnya itu juga berdampak pada terus tertekannya nilai tukar rupiah beberapa waktu lalu.

Berbagai macam hal dilakukan pemerintah guna menekan defisit current account defisit. Bahkan, untuk menekannya, pemerintah telah mengerem laju pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum dengan harapan dapat menekan laju impor dan menciptakan keseimbangan antara ekspor dan impor. "Sekarang sudah 3,7%. Tapi saya percaya akhir tahun bisa di bawah empat persen," tegas Chatib.

Kemudian Chatib menyatakan, perbaikan besar defisit current account dari kuartal ke kuartal yang semakin membaik akan mendorong posisinya sampai akhir tahun nanti pada posisi yang lebih baik pula. Dia menuturkan, kekhawatiran September lalu tentang posisi defisit current account dan nilai tukar rupiah, seharusnya sudah tidak lagi merisaukan masyarakat karena keadaan semakin hari semakin membaik.

"Kuartal I dua koma berapa. Kuartal II itu 2,4%. Kuartal III, 3,7%. Oleh karenanya, akhir tahun akan berada di bawah empat persen," tandas dia. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat neraca perdagangan pada September 2013 mengalami defisit US$657,2 juta. Kinerja ekspor tercatat sebesar US$14,8 miliar, atau lebih rendah ketimbang impor yang mencapai US$15,4 miliar.

Kepala BPS, Suryamin menyatakan, meskipun defisit secara nilai, Indonesia sebenarnya surplus 46,67 juta ton jika dilihat berdasarkan volume perdagangan. Volume ekspor September mencapai 57,88 juta ton, sedangkan impor 11,21 juta ton. "Ini informasi bagus buat pemerintah, kalau dilihat memang surplus volumenya, nilainya defisit. Berarti, ada beberapa barang yang harganya tinggi," ujar dia.

Secara akumulatif, dari Januari hingga September, defisit neraca perdagangan mencapai US$6,2 miliar. Defisit tersebut berdasarkan kinerja impor sebesar US$140,3 miliar dan ekspor US$134 miliar. Defisit tersebut masih didorong oleh terus meningkatnya defisit perdagangan minyak dan gas bumi sebesar US$9,73 miliar hingga September. Sementara itu, perdagangan nonmigas terus mengalami surplus sebesar US$3,48 miliar.

Sekadar informasi, saat ini Indonesia mengalami masalah dalam segi defisit transaksi berjalan. Persoalan ini dikarenakan timpangnya kinerja antara ekpsor dan impor Indonesia. Impor minyak dan gas Indonesia diketahui menjadi biang keladi terjadinya defisit transaksi berjalan.

Persoalan ini juga berdampak kepada terus tertekannya nilai tukar rupiah beberapa waktu lalu. Berbagai macam hal dilakukan pemerintah, guna menekan current acount deficit. Pemerintah bahkan telah mengerem laju pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum dengan harapan dapat menekan laju impor dan menciptakan keseimbangan antara ekspor dan impor. [mohar]

Related posts