Kondisi Perbankan Indonesia Dinilai Masih Kuat

​NERACA

Jakarta - Perbankan Indonesia diprediksikan akan terus tumbuh kedepannya, ini karena kondisi perbankan yang saat ini masih cukup kuat. Menurut Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, hal ini bisa memberikan kepastian terhadap investasi yang masuk ke Indonesia.

Sejauh ini, menurut Budi, pemilik modal tidak perlu khawatir dengan kepastian investasi di Indonesia. Karena, menurut Budi kondisi perekonomian Indonesia masih terbilang cukup baik. “Kondisi ekonomi Indonesia terbilang baik dan kokoh, bahkan diperkirakan akan terus membaik dari waktu ke waktu,” kata Budi di Jakarta, Senin (11/11).

Lebih lanjut, Budi menjelaskan, Indonesia merupakan volatile country, volatile ekonomi. “Tapi kita belajar dari krisis yang terjadi pada tahun 1998 hingga 1999, Bank Mandiri akhirnya bisa survive hingga saat ini, seperti 2008 survive, 2010 dan 2013 ini,” tambah Budi.

Dia mengatakan, dari pengalaman pengalaman yang ada, Indonesia memang terbilang baik ketika merespon berbagai macam krisis yang menimpa. “Dari pengalaman itu, pemerintah dan para lembaga keuangan terus berusaha meningkatkan koordinasi yang ada,” imbuh dia.

Hal ini, lanjutnya, yang pada akhirnya menjadi sebuah bukti betapa kuat kondisi ekonomi Indonesia yang masih mencatatkan pertumbuhan tertinggi kedua diantara member G-20 setelah China. “Ekonomi tahun ini jauh berbeda dengan krisis yang terjadi pada 1998 atau 2008. Pada 2008, nilai tukar rupiah mencapai Rp12.500 dan pada 1998 jauh lebih tinggi dari itu sekitar Rp16.000-17.000 per dolar AS. Apa sekarang akan seperti itu, saya pikir tidak,” jelasnya.

Namun, jika bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) benar benar melakukan tapering off, maka dampaknya akan terasa ke Negara berkembang. Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri, Pahala N Mansury memperkirakan hal tersebut tidak akan memberi dampak pengaruh yang signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Dia mengatakan, memang ketika penarikan stimulus dilakukan nantinya, tidak bisa dipungkiri emerging market akan kekeringan likuiditas, lalu dampaknya juga akan mempercepat tersendatnya pertumbuhan ekonomi di Negara berkembang. “Kita melihatnya di Bank Mandiri, kan tadi juga Profesor (Nouriel) Roubini juga bilang efeknya ke Indonesia tidak akan signifikan seperti emerging economicyang lainya.”, kata Pahala.

Namun, menurut dia, dampak dari penarikan tersebut lebih kepada perbankan di Tanah Air, yakni dari sisi perolehan dana pihak ketiga (DPK). Dia menjelaskan, dalam konteks ini, jika dalam kurun waktu 3 tahun terakhir DPK mampu tumbuh di angka 17% hingga 18% maka ketika penarikan dilakukan maka pertumbuhan DPK akan berada di bawah angka tersebut. “Mungkin akan ada pengaruh dari tapering cuma mungkin ya dari DPK yang tadi tumbuh 17-18%, mungkin kita lihat DPK di kita tumbuh 14-15%, mungkin turun tapi tidak jauh banget dibanding 3 tahun terakhir”, jelas Pahala.

Karenanya, Pahala menekankan agar perbankan Tanah Air, secara khusus Bank Mandiri, terus mempertahankan kinerja dengan baik, termasuk meningkatkan layanan kepada nasabah, sehingga nasabah terus loyal kepada bank. “Tapi, yang paling penting, kita berusaha untuk tapering itu juga mungkin bagaimana kita di sektor perbankan bisa tetap menjaga pertumbuhan DPK dan likuiditas dengan baik”, tegas Pahala. [sylke]

Related posts